Imlek 2021
Jro Gede Kuning Bangun Kelenteng Sing Bie di Denpasar Bali, Setiap Saraswati Dilaksanakan Odalan
Jro Gede Kuning yang mendirikan Kelenteng Sing Bie. Di Kelenteng ini menganut ajaran Siwa Budha yang sangat kental dengan budaya Bali-nya.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
“Jadi Jalan Gunung Agung ada daerah padi tapi tidak ada tempat mau dibawa ke mana. Orang tua saya lalu mendirikan pabrik beras di sana. Besar sekali, tapi kurang dari 1 hektar. Lalu dibuatlah jalan yang disumbangkan oleh Cokorda Pemecutan. Orangtua saya sama raja baik sekali, waktu itu sama Cokorda Gembrong,” tuturnya.
Ia pun menuturkan bahawa kala itu, di kiri dan kanan Jalan Gunung Agung selalu mengepul asap pembakaran sekam padi.
Sementara itu, di kawasan Jalan Gajah Mada hingga Kartini berkembang pertokoan milik etnis Tionghoa.
Ada ciri khas dari masing-masing suku yang menempati wilayah ini, dimana Suku Kek kebanyakan memiliki toko kelontong.
Sementara Suku Hokkian, dan Suku Tiociu kebanyakan memiliki penghasilan dari hasil bumi.
Ia pun menyebut bahwa Suku Kek merupakan orang pintar dan banyak juga yang menjadi guru.
Bahkan menurut pengakuannya, orangtuanya memiliki 6 toko di kawasan Jalan Kartini.
Namun setelah Jepang datang, semua toko miliknya diambil oleh Jepang.
“Jepang datang, Jepang yang pakai dan kita tidak pernah menikmati rumah-rumah di sana (Jalan Kartini). Saya ingat waktu itu, karyawan orang tua saya semua pernah ditempeleng Jepang karena tidak memberi hormat,” kenangnya.
Etnis Tionghoa di Kawasan Gajah Mada mengalami masa kejayaan tahun 1940 sampai tahun 1950-an.
Di mana mayoritas kawasan ini menjadi tempat tinggal warga etnis Tionghoa termasuk usaha mereka.
Namun yang unik, menurut Tio, antara Pasar Badung dan etnis Tionghoa yang berjualan di kawasan Gajah Mada maupun Kartini tak pernah ada persaingan.
“Kami saling melengkapi dan tidak ada persaingan,” katanya.
Setelah itu, banyak permasalahan yang timbul dan beberapa toko mulai dijual dan diambil alih oleh Arab dan India.
Penduduk etnis Tionghoa di sana pun berpencar ke beberapa daerah dan banyak juga yang kembali ke Kuta.