Imlek 2021

Jro Gede Kuning Bangun Kelenteng Sing Bie di Denpasar Bali, Setiap Saraswati Dilaksanakan Odalan

Jro Gede Kuning yang mendirikan Kelenteng Sing Bie. Di Kelenteng ini menganut ajaran Siwa Budha yang sangat kental dengan budaya Bali-nya.

Tribun Bali/Rizal Fanany
Jro Sung Arsini melakukan pembersihan Wihara Sing Bie Bio, Jalan Kartini, Denpasar, Rabu 10 Februari 2021. Wihara Sing Bie Bio merupakan salah satu wihara yang ada di pusat perekonomian atau pecinan di kota Denpasar - Jro Gede Kuning Bangun Kelenteng Sing Bie di Denpasar Bali, Setiap Saraswati Dilaksanakan Odalan 

“Jadi kebanyakan mencar mereka, sebagian ke Kuta lagi, jadinya Kuta kan ramai sekarang dengan etnis Tionghoa. Kalau dihitung-hitung di sini hanya tersisa 30 sampai 40 persen warga Tionghoa,” paparnya.

Kejadian yang paling buruk dialami saat masa pemerintahan Soeharto.

Dimana saat itu banyak pemuda etnis Tionghoa yang kembali ke China karena di sini tidak diijinkan sekolah.

Mereka juga mengganti nama termasuk nama toko mereka agar tak menggunakan nama yang berbau China.

“Sekolah Tionghoa ditutup dan aset mereka banyak diambil. Kelenteng juga tutup dan banyak pemuda yang pulang ke China,” katanya.

Setelah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) komunitas ini mulai bisa bernapas lega.

Usaha mereka pun mulai menggeliat hingga saat ini.

Namun, karena masa pengekangan tersebut, menurut Tio banyak anak muda etnis Tionghoa yang hampir melupakan tradisi leluhurnya.

“Karena ada yang tua-tua, makanya adat istiadat dari leluhur kami masih tetap bertahan,” paparnya.

Walaupun etnis ini masih bertahan di kawasan Gajah Mada, namun jumlah mereka sudah tidak banyak.

Tempat usaha mereka yang masih bertahan pun bisa dihitung dengan jari.

“Yang bertahan toko yang jual kopi itu Bhineka Jaya, toko obat, dan beberapa toko. Kalau dulu banyak, sampai Wisnu Teater. Namun sudah kebanyakan dijual dan dibeli sama orang Arab dan India, sehingga kebanyakan pedagang kain di sini,” katanya.

Tio mengaku, walaupun ia dilahirkan di China namun kini ia tak memiliki keinginan untuk kembali menetap di China.

“Saya sudah jadi orang Indonesia jadi selamanya mau di sini. Dulu saya dilahirkan tahun 1934 di China saat orang tua saya pulang ke sana. Lalu saya diajak ke sini lagi,” akunya.

Hingga kini, sudah 6 generasi dari keluarganya yang menetap di Jalan Gajah Mada, dimana dirinya merupakan generasi kedua.

Sementara itu, ia juga memiliki seorang menantu yang bernama Jero Gede Kuning yang juga mendirikan Kelenteng Sing Bie.

Dimana di Kelenteng ini menganut ajaran Siwa Budha yang sangat kental dengan budaya Balinya.

Di kelenteng ini terdapat beberapa arca baik Dewi Kwan In, Budha, maupun Dewa dalam kepercayaan Hindu.

“Kelenteng ini dibangun tahun 2007 dan selesai dalam waktu 2.5 bulan saja. Saya tidak menyangka bagaimana prosesnya kok orang dari Bandung ke sini membantu, jadi saya membuat ini atas seijin dari mertua saya,” katanya.

Kelenteng ini memiliki ukuran 7 x 10 meter dan berada di Jalan Kartini Gang II.

Setiap Saraswati, dilaksanakan odalan di Kelenteng ini.

“Semua arca di sini tidak pernah dibeli, namun umat yang datang membawa ke sini. Seperti sudah ada yang mengatur,” katanya.

Banyak umat dari luar negeri yang datang ke Kelenteng ini, baik dari Cina, Jepang hingga Perancis.

“Biasanya enam bulan sekali datang mereka. Kebanyakan dari Perancis yang khusus datang ke Bali. Namun karena Covid-19 jadinya tidak bisa lagi datang ke sini,” katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved