Breaking News:

Myanmar

Polisi Myanmar yang Membangkang: Saya Tak Bisa Menembak Orang yang Tak Berbuat Kejahatan

Kepada Sky News, para polisi tersebut mengatakan mereka menolak perintah atasan untuk menembak dan menyiksa para demonstran anti-kudeta.

Editor: DionDBPutra
AFP/YE AUNG THU
Polisi Myanmar menindak demonstran yang menentang kudeta militer di Yangon pada 27 Februari 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, NEW DELHI- Para polisi Myanmar yang mengungsi dan cari suaka ke India mengungkapkah alasannya mereka membangkang.

Kepada Sky News, para polisi tersebut mengatakan mereka menolak perintah atasan untuk menembak dan menyiksa para demonstran anti-kudeta.

"Saya tak bisa menembak bangsa saya sendiri, atau menyiksa orang yang jelas tak berbuat kejahatan," kata seorang di antara polisi Myanmar itu.

Pria berusia 26 tahun mengatakan, pedemo yang memprotes kudeta militer 1 Februari 20201 tidak bersalah. Sebab mereka hanya menyuarakan aspirasi secara damai.

Setelah membangkang dari perintah junta militer, sejumlah polisi itu mengungsi ke India.

Baca juga: Korban Terbaru, 12 Warga Sipil Tewas dalam Aksi Protes Anti-kudeta Militer Myanmar

Baca juga: Kisah Pilu Aktivis Myanmar yang Ditembak Mati saat Demo Anti-Kudeta, Kuburannya Digali Lalu Disemen

Polisi lainnya yang juga membangkang, kini mencemaskan keadaan keluarga yang ditinggalkannya. Dia mempunyai istri dan putra yang masih berusia dua tahun.

"Saya khawatir terhadap mereka," kata dia. Apalagi, junta militer sudah mengancam bakal menahan setiap anggota keluarga dari polisi yang membangkang.

Anggota polisi lain, yang kabur bersama keluarganya menerangkan, mereka tidak ingin hidup dalam kekuasaan junta.

"Kami tidak bisa hidup damai bersama mereka. Saya siap mengorbankan nyawa bagi demokrasi jika dibutuhkan," tegasnya.

Dilansir Sabtu 13 Maret 2021, keterangan mereka mengungkapkan detil seperti apa perintah yang diberikan kepada pihak berwajib.

PBB sudah mengecam dan menuding Tatmadaw, nama kantor junta militer Myanmar, menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran.

Sejauh ini sudah lebih dari 75 orang tewas dalam aksi protes menentang kudeta.

Para polisi yang membangkang itu berujar, saat ini yang harus dilakukan dunia adalah bertindak lebih dari sekadar sanksi ekonomi dan diplomasi.

"Pasukan perdamaian PBB harus dikerahkan untuk melawan perbuatan tidak manusiawi yang terjadi di sana," jelasnya. Mereka menegaskan ingin mendapatkan senjata dan sumber daya cukup.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved