Berita Denpasar
Cerita Penjual Tisu di Lampu Merah Denpasar, Dadi: Cari Seribuan Biar Bisa Makan
Komang Dadi bersama empat anaknya bergerilya dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya di kawasan Kota Denpasar sambil membawa tisu maupun masker.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Komang Dadi bersama empat anaknya bergerilya dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya di kawasan Kota Denpasar sambil membawa tisu maupun masker.
Perempuan asal Munti Gunung, Karangasem ini harus tetap bisa menyambung hidup di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.
Ia terpaksa berjualan dari lampu merah ke lampu merah lainnya karena tak ingin natak-natak atau menjadi peminta-minta.
Baginya hal ini jauh lebih baik karena tak harus meminta-minta.
Baca juga: Satpol PP Denpasar Ajak Masyarakat Ikut Bantu Amankan Pengamen Maupun Gepeng di Denpasar Bali
Baca juga: Denpasar Masuk Zona Merah, Kasus Aktif Covid-19 Lebih Tinggi dari Kesembuhan
Akan tetapi, nasib baik tak selalu berpihak padanya, karena dirinya harus digelandang ke kantor Satpol PP ketika berjualan di lampu merah Tohpati, Denpasar pada Sabtu, 17 April 2021 kemarin.
Ia pun harus menginap di kantor Satpol PP sembari menunggu proses kepulangannya yang direncanakan Senin, 19 April 2021 esok.
“Saya jualan ini biar bisa makan sama untuk merainan (upacara agama). Saya biasanya jalan kaki dari kos di Batubulan,” katanya saat diwawancarai Minggu, 18 April 2021 di kantor Satpol PP Denpasar.
Sementara, tempat berjualannya yang terjauh adalah di lampu merah di kawasan Jimbaran, Badung dengan menumpang bus.
Baca juga: Taman Inspirasi Muntig Siokan Bisa Menjadi Pilihan Baru Berwisata di Sanur Denpasar
Sebelum memilih menjadi penjual tisu di lampu merah, ia sempat menjadi buruh mencangkul di Songan, Kintamani.
Kemudian awal pandemi ia berdiam diri di rumah selama setahun, untuk kemudian sejak 3 bulan lalu ia merantau untuk berjualan.
“Kalau tidak jualan apa pakai makan dan merainan. Anak saya 8 orang, 4 orang sama saya, yang lainnya ada yang sudah menikah. Suami saya cuma beternak. Tapi kemarin belum dapat jualan saya sudah dibawa ke sini,” katanya.
Sementara itu, barang dagangan ia ambil dari seorang pengepul di kawasan terminal Batubulan dengan cara menghutang.
Setelah laku dan mendapat uang dari hasil berjualan, barulah ia membayar pada pengepul itu.
Satu tisu ia beli dengan harga Rp6 ribu dan dijual seharga Rp10 ribu perbungkus.
Namun, kadang ada yang menawar Rp8 ribu bahkan Rp7 ribu perbungkus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/komang-dadi-saat-diamankan-satpol-pp-denpasar.jpg)