Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Berdiri dari 1993, Museum Lukisan Sidik Jari Berusaha Bertahan di Tengah Pandemi

"Waktu itu 3 bulan ngga ada pengunjung," ucap Intan, satu-satunya pegawai yang ditemui di Museum Lukisan Sidik Jari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.

Penulis: Harun Ar Rasyid | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Harun Ar Rasyid
Beberapa lukisan di Museum Lukisan Sidik Jari, Jalan Hayam Wuruk Denpasar, Bali, Jumat 28 Mei 2021. Museum ini tengah berusaha bertahan di tengah gempuran pandemi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - "Waktu itu 3 bulan ngga ada pengunjung," ucap Intan, satu-satunya pegawai yang ditemui di Museum Lukisan Sidik Jari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.

Museum Lukisan Sidik Jari berlokasi beralamat di jalan Hayam Wuruk, Sumerta Kelod, Kec. Denpasar Timur, Kota Denpasar, Bali.

Museum ini berlokasi persis di samping sebuah toko buku.

Jika tidak diperhatikan benar-benar mungkin lokasi museum ini akan terlewat.

Kecintaan terhadap pemilik museum terhadap seni dan karyanya membuat museum ini masih bertahan.

Bahkan di tengah badai pandemi yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, dengan tertatih-tatih museum ini bertahan.

Baca juga: Pertahankan Pegawainya Selama Pandemi, Agrowisata Alas Harum Bali Diapresiasi Sandiaga Uno

"Ya itu, paling lama waktu itu 3 bulan benar-benar nggak ada pengunjung," jelas Intan sembari mempersilahkan masuk dan menikmati mahakarya sang Maestro Lukisan Sidik Jari, Kamis 27 Mei 2021.

Dia melanjutkan, "untuk hari-hari ini, ya kadang ada yang datang, kadang nggak ada. Itupun yang datang hanya mahasiswa dan pelajar. Sebulan itu belasan orang lah yang datang."

Ia kemudian menjelaskan, I Gusti Ngurah Gede Pemecutan masih bisa ditemui di kediamannya.

Namun hari ini, Ia belum bisa ditemui, mengingat ia masih harus beristirahat.

Baca juga: Pandemi Covid-19 di Bali Memukul Mata Pencaharian Perajin Kendang di Gianyar

Intan kemudian mengisahkan mengenai sejarah berdirinya museum Lukisan Sidik Jari.

Dari keterangannya, museum ini pertama kali berdiri pada tahun 1993.

Bentuk awal bangunan museum ini masih sangat sederhana yaitu terbuat dari bambu. Tahun 1997 barulah museum ini dibuka untuk umum.

"Nah kalo penemuan teknik lukisan sidik jari ini beda lagi, itu tahun 1962," kisahnya.

Dari buku Otobiografi dan beberapa sumber yang intan perlihatkan di museum, awal mula penemuan lukisan sidik jari bermula ketika I Gusti Ngurah Gede Pemecutan melukis mengenai Tari Baris, kebosanan yang melanda membuat dirinya melakukan goresan-goresan acak dengan jarinya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved