Berita Denpasar
Berdiri dari 1993, Museum Lukisan Sidik Jari Berusaha Bertahan di Tengah Pandemi
"Waktu itu 3 bulan ngga ada pengunjung," ucap Intan, satu-satunya pegawai yang ditemui di Museum Lukisan Sidik Jari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.
Penulis: Harun Ar Rasyid | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Selain melukis, I Gusti Ngurah Gede Pemecutan juga menulis.
Beberapa karya autobiografi mengenai beliau bisa ditemukan di Museum.
Bahkan dirinya pernah diganjar Piagam Penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai Pelopor Teknik Melukis dengan Sidik Jari, dan Kolektor Sidik Jari 1.507.725 Sidik Jari Pribadi Pelukisnya Sendiri pada Juli 2012 di Semarang. Beberapa penghargaan lain juga dipajang di rak-rak kaca yang ada di Museum.
Di tengah pandemi yang masih berkecamuk, museum ini memilih untuk terus bertahan.
Perawatan dan pemeliharaan museum masih ditanggung sendiri oleh I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.
Kecintaannya terhadap seni dan karya-karya yang ia miliki membuat museum ini masih bisa dikunjungi hingga sekarang.
Akan tetapi, terkadang, Intan merasa pemerintah perlu untuk turut campur dalam hal pemeliharaan karya-karya yang ada di Museum Lukisan Sidik Jari.
"Pemerintah seharusnya memberikan perhatian sih," kata Intan.
Namun, tanpa harus menunggu uluran bantuan pemerintah, masyarakat bisa datang, berkunjung ke museum ini, memberikan sedikit donasi mungkin, setidaknya untuk Mendukung Museum ini Bertahan di Kala Pandemi. (*)
Berita lainnya di Berita Denpasar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/situasi-museum-lukisan-sidik-jari-jalan-hayam-wuruk-denpasar.jpg)