Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Berdiri dari 1993, Museum Lukisan Sidik Jari Berusaha Bertahan di Tengah Pandemi

"Waktu itu 3 bulan ngga ada pengunjung," ucap Intan, satu-satunya pegawai yang ditemui di Museum Lukisan Sidik Jari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.

Penulis: Harun Ar Rasyid | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Harun Ar Rasyid
Beberapa lukisan di Museum Lukisan Sidik Jari, Jalan Hayam Wuruk Denpasar, Bali, Jumat 28 Mei 2021. Museum ini tengah berusaha bertahan di tengah gempuran pandemi 

Namun, bukannya tidak membentuk pola, goresan-goresan acak tangannya ternyata membentuk sebuah objek. 

Baca juga: Setahun Pandemi, Penjualan Rumah Subsidi Naik 20 Persen

Dari situlah ia mulai melukis dengan menggunakan ujung-ujung jarinya. Inilah yang kemudian yang dikenal dengan sebutan lukisan sidik jari. 

Dalam karya seni lukis, metode melukis dengan ujung jari/sidik jari ini juga biasa dikenal dengan teknik pointilis.

Karya-karya yang ada di Museum Lukisan Sidik Jari merupakan murni karya dari I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.

Setidaknya, ada sekitar 666 karya yang pernah ia kerjakan.

Lukisan terakhir yang ia kerjakan adalah lukisan sidik jari tahun 2011.

Dari jumlah, 666 karya yang ia kerjakan, setidaknya sekitar 200 lukisan masih bisa dinikmati secara cuma-cuma.

Baca juga: Industri Baju Barong Khas Bali Terseok Akibat Pandemi, Parwata: Yang Penting Bisa Menyambung Hidup

Lukisan yang paling berkesan tentu adalah lukisan Perang Puputan Badung.

Lukisan ini juga menjadi karya dengan ukuran terbesar.

Selain itu, Intan menerangkan bahwa pengerjaan lukisan Perang Puputan Badung memakan waktu hingga 18 bulan.

Lukisan ini menjadi menarik bukan hanya karena ukuran dan proses pembuatannya, namun jika diperhatikan dengan seksama bagian kanan bawah lukisan ini terdapat seorang yang sedang menggendong anaknya di balik pohon ketika perang sedang berlangsung.

Beberapa orang menafsirkan, karakter tersebut merupakan karakter pangeran Raja Badung yang akan meneruskan kerajaan.

Kamis 27 Mei 2021 pukul 15.20 menjelang museum akan tutup dan tim Tribun Bali yang akan mengisi buku tamu, sedikit terkejut, tim Tribun Bali merupakan pengunjung pertama setelah sekitar 2 minggu tanpa kunjungan.

Trik menikmati Lukisan Sidik Jari adalah dengan mengamatinya dari jarak yang agak sedikit jauh.

Jarak yang terlalu dekat akan mengaburkan objek pada lukisan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved