Breaking News:

Berita Bali

Penerbangan Internasional Segera Dibuka, 300 Ribu Wisman Sudah Antre Liburan ke Bali

Pekerja pramuwisata sendiri sudah hampir 90 persen tervaksin Covid-19. Sisanya yang belum karena masih ada penyakit bawaan. 

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Sejumlah wisman asal China menikmati wisata kuliner di Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung, Senin (2/12/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Jelang dibukanya penerbangan internasional pada 14 Oktober mendatang ini, I Nyoman Nuarta selaku Ketua DPD HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bali mengklaim seluruh pekerja pramuwisata siap untuk kembali bekerja.

Pekerja pramuwisata sendiri sudah hampir 90 persen tervaksin Covid-19.

Sisanya yang belum karena masih ada penyakit bawaan. 

"Dari segi kesiapan saya sudah memastikan bahwa SDM di segmen pasar Mandarin, Korea, dan Jepang sudah siap semua. Sudah dari dulu siapnya, karena persiapannya sudah dilakukan selama pandemi. Maka dari itu pembukaan penerbangan internasional pada 14 Oktober mendatang merupakan suatu momentum dan setidaknya bisa bernafas lega," katanya pada, Rabu (6 Oktober 2021). 

Menurutnya masa karantina selama delapan hari untuk wisatawan membuat wisatawan yang berasal dari Jepang Tiongkok dan Korea batal untuk pergi ke Bali.

Baca juga: Penerbangan Internasional Segera Dibuka, 1 Perusahaan Pariwisata Sudah Panggil Karyawannya

Baca juga: Rencana Dibukanya Pariwisata Internasional, Nobue Tani Tak Sabar ke Bali, Rindukan Budaya Bali

Baca juga: Pariwisata Internasional Dibuka 14 Oktober 2021, Koster: Masa Karantina Wisman Belum Bisa Dikurangi

I Nyoman Nuarta selaku Ketua DPD HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bali
I Nyoman Nuarta selaku Ketua DPD HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Bali (Ist)

Padahal tamu Tiongkok, Jepang dan Korea sudah banyak yang mengantri untuk datang ke Bali. 

"Permasalahannya ketika dihadapkan dengan aturan sesuai dengan culture wisatawan Mandarin, Jepang dan Korea otomatis akan mengurungkan niatnya untuk datang ke Bali. Wisatawan jepang, Tiongkok, dan Korea masa tinggalnya atau less stay nya tidak lebih dari lima hari. Kalau karantina delapan hari kan dia tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan pariwisata di Bali," sebutnya. 

Lebih lanjutnya ia menerangkan bahwa tidak menyalahkan pemerintah karena hal tersebut merupakan skema jangka panjang yang di announced oleh pemerintah pusat.

Menurutnya ini hanya sebagai pemantik awal saja, minimal dapat mengobati kerinduan masyarakat Bali terhadap pariwisata. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved