Berita Jembrana

Kasus Meningkat, Stok VAR Rabies Massal Jembrana Habis, Pemkab Sebut Begini

Stok VAR rabies massal di Jembrana habis membuat petugas Bidang Keswan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana menghentikan vaksinasi.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Ragil Armando
Tribun Bali/dwi suputra
Ilustrasi rabies - Stok VAR rabies massal di Jembrana habis membuat petugas Bidang Keswan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana menghentikan vaksinasi. 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Stok VAR rabies massal di Jembrana, habis. Hal ini kemudian membuat petugas Bidang Keswan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, menghentikan sementara kegiatannya.

Padahal, masih ada 14 desa yang masuk dalam zona merah ditarget untuk vaksinasi massal. Apalagi, beberapa hari lalu terjadi kasus rabies yang membuat seorang warga meninggal dunia.

Kabid Keswan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Widarsa, mengatakan, bahwa untuk stok var saat ini sedang kehabisan. Untuk itu pihaknya sementara menghentikan vaksinasi massal.

Baca juga: Giri Prasta Ingatkan Calon Pilkel, Harus Bisa Bangun TPS3R dan Desa Digital

Dan menunggu untuk droping dari Dinas Provinsi untuk penanganan vaksinasi massal 14 desa yang belum mendapatkan jatah vaksinasi.

“Saat ini masih habis. Karena itu dihentikan. Dan kami masih menunggu droping dari Provinsi,” ucapnya Jumat 13 Mei 2022.

Baca juga: 154 Calon Perbekel Akan Bertarung di Pilkel Serentak 2022

Dijelaskannya, bahwa untuk 14 desa yang belum dan estimasi populasi untuk divaksin yakni di Desa Baluk dengan estimasi vaksin ke 1340 Hewan Penular Rabies (HPR).

Kemudian, di Desa Berangbang 1115 ekor, Banjar Tengah 496 ekor, Lelateng 1211 ekor, Desa Sangkar Agung 678 ekor, Desa Dangin Tukadaya 858 ekor, Yehembang Kangin 973 ekor, Desa Yeh Sumbul 927 ekor, Gumbrih 911 ekor, Desa Manggissari 608 ekor, Desa Medewi 716 ekor, Desa Pangyangan 386 ekor, Desa Pekutatan 1189 ekor dan Desa Pengeragoan 1177 ekor.

“Setelah droping maka akan dilakukan kembali vaksinasi massal,” ungkapnya.

Baca juga: LINK Live Streaming Pertandingan Timnas U-23 Indonesia Vs Filipina Di SEA Games Vietnam Sore Ini

Untuk diketahui, sebelumnya telah terjadi gigitan anjing terhadap seorang warga Banjar Petapan Kelod, Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Rabu 11 Mei 2022 lalu.

Dugaan kuat korban meninggal dengan riwayat pernah digigit anjing yang diduga positif rabies.

Baca juga: Kasus Gigitan Anjing Rabies Kembali Marak, Stok VAR di Klungkung Hanya Tersisa 48 Vial

Korban meninggal atas nama I Nyoman Suwena, 65 tahun. Korban meninggal setelah mendapat perawatan di rumah sakit swasta.

Sebelum meninggal, korban mengalami gejala mirip dengan gejala karena terinfeksi rabies. Seperti takut dengan air dan cahaya.

Baca juga: Pemkab Buleleng Dorong Desa untuk Buat Perarem Rabies, Suparma: Masyarakat Lebih Takut Aturan Adat

Anak korban, I Ketut Darma mengaku, bahwa bapaknya sempat digigit anjing sekitar empat bulan yang lalu, namun korban tidak mau dibawa untuk diperiksakan di rumah sakit.

Gigitan itu mengenai korban di punggung dan kakinya. Korban saat itu sedang bermain dengan anjing menggunakan kantong plastik yang dikibas-kibaskan pada kepala anjing, dengan maksud anjing itu bermain sambil menggigit plastik tersebut.

Namun korban saat mengibaskan plastik terlambat untuk menarik tangannya, sehingga tangan korban kena gigit pada bagaian telapak tangan kanan.

Baca juga: Pemkab Buleleng Dorong Desa untuk Buat Perarem Rabies, Suparma: Masyarakat Lebih Takut Aturan Adat

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved