Berita Bali

Sidak Masker Resmi Disetop, Pengunjung Supermarket di Sanur Masih Was-was

Pemerintah terus melonggarkan protokol kesehatan seiring dengan terus membaiknya kondisi pandemi Covid-19

Arini Valentya
Masih taat prokes, pengunjung supermarket gunakan masker - Sidak Masker Resmi Disetop, Pengunjung Supermarket di Sanur Masih Was-was 

Di Buleleng, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 setempat, Ketut Suwarmawan mengatakan, pihaknya akan mengikuti kebijakan pemerintah pusat terkait bebas masker di ruang terbuka.

Mengingat kasus terkonfirmasi di Buleleng saat ini sudah melandai, dan progres vaksinasi sudah meningkat atau sudah mencapai 43.53 persen.

Namun untuk menerapkan kebijakan tersebut, Suwarmawan menyebut pihaknya membutuhkan juknis dari Kemendagri.

Terkait sidak masker apakah masih akan dilakukan oleh tim Satpol PP Buleleng, Suwarmawan menyebut, hal tersebut telah dilonggarkan sejak kasus terkonfirmasi menurun.

Di Klungkung, Plt Dirut RSUD Klungkung dr I Nyoman Kesuma menjelaskan, pihaknya masih tetap meminta seluruh pegawainya untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.

Para pegawai di RSUD Klungkung diminta tetap menerapkan prokes ketat selama melayani pasien.

Terlebih saat ini RSUD Klungkung masih merawat seorang pasien positif Covid-19.

Baca juga: DAGANG Masker Denpasar Merugi, Pasca Jokowi Umumkan Boleh Tanpa Masker!

Ahli Virus Unud: End of The Game

AHLI Virus Universitas Udayana (Unud) Bali, Prof Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika bukan lagi sependapat dengan keputusan Presiden Jokowi, bahkan ia mengemukakan dari jauh-jauh waktu awal Covid-19 melanda pihaknya sudah menyampaikan bahwa di wilayah Indonesia di luar ruang tanpa masker memang memiliki risiko rendah terpapar. Apa alasannya?

“Indonesia merupakan wilayah dengan iklim panas dan lembab, virus tidak akan bertahan lama di open space (ruang terbuka). Jadi memang bukan berarti zero risiko, tetapi risiko rendah. Dari awal Covid-19 sudah sering saya sampaikan bahwa tidak apa-apa tanpa masker di ruangan terbuka,” kata Prof Mahardika kepada Tribun Bali, Rabu 18 Mei 2022.

Berbanding terbalik dengan aktivitas di dalam ruangan dan ber-AC, seperti mall, Prof Mahardika mengatakan, ruangan ber-AC dan kering, virus bakal lebih tahan di udara, hal ini lah yang perlu diketahui.

“Di ruangan tertutup, ber-AC, kelembaban rendah, kering, suhu rendah, virus lebih tahan lama, apalagi over crowded keramaian. Itu risikonya jauh lebih tinggi,” kata dia.

Bagaimana perkembangan Covid-19 saat ini dijelaskan Prof Mahardika, sejak Maret 2022 kasus cenderung konsisten stabil yang artinya rendah tidak ada lonjakan.

Dalam kata lain, disebutkannya, pandemi Covid-19 terkendali. Namun tak boleh berpuas diri dulu.

“Presiden pasti sudah memikirkan pertimbangan bagaimana risiko terhadap letupan jumlah orang yang perlu perawatan di rumah sakit. Hanya saja apakah ini berlangsung lama, perlu dipantau 3 bulan. Paling tidak asumsi mulai menurun akhir Maret sehingga dipantau 3 bulan berikutnya apakah kondisi konsisten semakin membaik,” ujar dia.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved