Berita Bali
Sidak Masker Resmi Disetop, Pengunjung Supermarket di Sanur Masih Was-was
Pemerintah terus melonggarkan protokol kesehatan seiring dengan terus membaiknya kondisi pandemi Covid-19
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Masyarakat Indonesia agaknya patut bersyukur banyak hal yang menyumbang penurunan kasus.
Pertama, mendapat anugerah suhu yang panas dan lembab.
Kedua, vaksinasi Covid-19 yang percepatannya gencar dilakukan dan PPKM.
Dan ketiga ialah alam dan Omicron.
Baca juga: JOKOWI Longgarkan Penggunaan Masker! Bandara Ngurah Rai Terapkan Aturan Baru
“Kenapa Omicron, karena Omicron menyediakan vaksin alami. Malam ini pergilah ke tempat ibadah masing-masing untuk puji syukur end of the game. Omicron muncul ini kemungkinan jackpot umat manusia, pandemi akan berakhir,” ucapnya.
Lantas kapan pandemi di Indonesia menjadi endemic, menurutnya, ada dua hal yang perlu diketahui dari endemic.
Dari factor scientific dan politis serta peran WHO dan pemerintah dalam hal ini.
“Endemi per definisi scientific kita perlu memantau paling tidak dalam periode tertentu tidak bisa hanya satu hari, satu bulan minimal 3 bulan bisa dipantau perkembangannya setiap 3 bulan. Secara politis, ada dimensi lain yang tidak bisa saya sampaikan, umumnya ada peran WHO dan pemerintah Indonesia, bisa saja tidak hanya melihat keadaan sekarang, tetapi melihat risiko semua penduduk satu negara, tapi ada penduduk negara lain yang masih memiliki risiko. WHO harus melihat secara keseluruhan,” ujarnya.
Prof Mahardika mengungkapkan, dirinya sempat terpapar Covid-19 Varian Omicron yang tidak dikhawatirkannya, karena Omicron merupakan jackpot akhir dari pandemi Covid-19.
“Saya pernah kena Omicron. Hanya sakit ringan dua hari. Hari ketiga sudah diminta wawancara media tv nasional. Saya optimistis. Jackpot itu muncul dan terbukti,” katanya. (sup/avc/ian)
Kumpulan Artikel Bali