Berita Bali

Megakorupsi LPD Sangeh, Badung Rp130 M, Kejati Bali Tetapkan Satu Pengurus sebagai Tersangka

Seorang pengurus Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Sangeh, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung inisial AA telah ditetapkan

praag.ord
ILUSTRASI KORUPSI: Megakorupsi LPD Sangeh, Badung Rp130 M, Kejati Bali Tetapkan Satu Pengurus sebagai Tersangka 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seorang pengurus Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Sangeh, Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung inisial AA telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali.

AA ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang dalam pengelolaan keuangan, dengan nilai kerugian negara mencapai Rp 130 Miliar lebih. 

"Berdasarkan pengumpulan bukti yang dilakukan oleh penyidik, pada tanggal 31 Mei 2022, Kejaksaan Tinggi Bali menetapkan AA yang menjabat sebagai Pengurus LPD Sangeh sebagai tersangka," terang Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Bali, A Luga Harlianto melalui siaran tertulisnya, Jumat, 3 Juni 2022.

Baca juga: Kejati Bali Ambil Alih Penanganan Megakorupsi LPD Sangeh Badung Rp 130 Miliar

Tersangka AA menjabat sebagai Pengurus LPD Sangeh selama 31 tahun.

Yakni sejak tahun 1991 hingga saat ini.

"Pada tahun 2016 hingga 2020, penyidik menemukan perbuatan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh AA."

"Salah satu modusnya membuat kredit fiktif. Tersangka AA melalui keluarganya telah menerima surat penetapan tersangka pada hari ini (Jumat, 3 Juni 2022)," ungkap Luga. 

Baca juga: Geledah Kantor LPD Adat Sangeh, Penyidik Kejati Bali Sita Tiga Box Berisi Dokumen

Akibat perbuatan yang diduga dilakukan oleh tersangka, berdasarkan hasil audit internal oleh kantor akuntan publik, LPD Sangeh mengalami kerugian Rp130.869.196.075,68.

Pula setelah dilakukan pemeriksaan ahli dikonfirmasi dengan alat bukti lainnya, nilai kerugian sementara yang dialami sekitar Rp70 miliar. 

"Hasil audit internal ini sejak awal menjadi alat bukti oleh penyidik yang kemudian terus didalami selama penyidikan."

Baca juga: Bendesa Serahkan Nominal Kerugian, Dugaan Korupsi LPD Sangeh Rp 130 Miliar

"Pada intinya telah ada kerugian negara dalam hal ini dialami oleh LPD Sangeh," jelas mantan Kepala Cabang Kejaksaan Negeri (Kacabjari) Klungkung di Nusa Penida ini. 

Setelah menetapkan tersangka, kini penyidik akan mendalami peran dari tersangka AA.

Selain mengumpulkan alat-alat bukti, saksi dan ahli, penyidik akan melakukan penyitaan terhadap setiap barang yang digunakan atau merupakan hasil dari perbuatan korupsi yang diduga dilakukan tersangka AA. 

Penyidikan perkara ini dilaksanakan sejak tanggal 16 Maret 2022.

Penyidik telah meminta keterangan 35 orang saksi dan 1 orang ahli.

Sehingga membuat terang tindak pidana yang terjadi dan menemukan fakta hukum bahwa AA selama kurun waktu 2016 hingga 2020 diduga melakukan tindak pidana korupsi.

Atas perbuatannya, AA disangkakan pasal, primair Pasal 2 ayat (1) Jo. Pasal 18 UU RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU RI No. 20 Tahun 2001 Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. 

Subsidiair : Pasal 3 Jo. Pasal 18, atau kedua Pasal 9 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan UU RI No. 20 Tahun 2001 Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved