PMI Telantar di Turki

Sakit dan Tak Punya Biaya Berobat, PMI Asal Bangli Minta Tolong Dipulangkan ke Bali

Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Banjar Tegal, Kelurahan Bebalang, Bangli, Bali kondisinya memperihatinkan di negara Turki.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Gusti Ayu Kencana saat menunjukkan foto Gusti Ayu Vira, PMI yang telantar di PMI dan ingin segera dipulangkan ke Bali, Senin 15 Agustus 2022. 

 


TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Banjar Tegal, Kelurahan Bebalang, Bangli, Bali kondisinya memperihatinkan di negara Turki.

Ia mengalami sakit parah dan tidak memiliki biaya untuk pengobatan, maupun pulang ke Bali.


PMI bernama I Gusti Ayu Vira Wijayantari ini sempat bersurat pada Presiden Joko Widodo. Dalam surat tertanggal 14 Agustus itu, Gusti Ayu Vira menceritakan awal mula dirinya berangkat sebagai terapis spa di Turki. 


Bermula pada bulan Mei 2020, saat ayahnya yang bernama Gusti Ngurah Putra Wijaya jatuh sakit diakibatkan kanker tulang. Kebetulan saat itu adiknya berpacaran dengan anak dari pemilik salah satu pelatihan spa di wilayah Denpasar. 

Baca juga: Usai Terima Keluhan PMI Asal Bali yang Bekerja di Turki, Disnaker Akan Koordinasi dengan Keluarga


Ia sempat diiming-imingi mendapatkan gaji besar agar bisa membayar utang dan biaya pengobatan ayahnya. Hingga akhirnya perempuan 23 tahun itu tergiur mengikuti pelatihan. 


Setelah lima bulan mengikuti pelatihan, pada bulan Oktober ayah Gusti Ayu Vira akhirnya meninggal dunia. Saat itu dia sempat berniat mengurungkan niat berangkat ke Turki karena merasa depresi dan frustasi akan keadaan.

Namun pemilik pelatihan spa tidak membiarkannya batal, dengan alasan tidak ada yang membiayai ibu dan adiknya serta tidak ada yang membayar utang. Oleh sebab itu Gusti Ayu Vira melanjutkan pelatihan.

Baca juga: BREAKING NEWS - PMI Asal Bali Telantar di Turki, Kondisi Sakit dan Uang Habis untuk Berobat


Setelah menunggu cukup lama, ia akhirnya mendapat kabar akan diberangkatkan pada bulan April. Ia segera resign dari pekerjaannya, dan menandatangani kontrak. 


Pada kontrak itu tertulis dirinya akan mendapatkan gaji 7,155 lira, yang pada saat itu harga 1 lira yakni Rp. 1,700. Sehingga total gajinya sekitar Rp12.000.000, dengan jam kerja hanya 8 jam. Dan untuk kamar tidur 1-4 orang saja, yang akhirnya membuat Gusti Ayu Vira tergiur dan menandatangani kontrak. 


Ia kemudian mengurus Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) pertengahan bulan April. Yang mana saat mengurus KTKLN, pemilik pelatihan spa tidak mengizinkan Gusti Ayu Vira menyebut nama atau alamat PT agent yang memberangkatkan, apabila ditanya oleh petugas.

Hal ini berbuah kegagalan dalam pengurusan KTKLN.


Namun keesokan harinya, pemilik spa datang membantu Gusti Ayu Vira dan mengaku jika Gusti Ayu Vira adalah keponakannya yang ingin berangkat dan melakukan keberangkatan mandiri.

Hingga akhirnya terjadilah kesepakatan, di mana Gusti Ayu Vira harus membayar Rp1 juta untuk dilancarkan KTKLN-nya.


Ia kemudian berangkat ke Turki. Di sana ia sempat bekerja di Hotel Lonicera. Namun jam kerja tidak sesuai dengan kontrak, sebab ia harus berangkat ke hotel sejak jam 6 pagi dan pulang pukul 9 malam.

Ia diberi waktu makan 15 menit, sedangkan keberadaan kantin atau tempat makan sangatlah jauh. Butuh waktu 5 menit untuk menuju tempat makan. 


Tak jarang Gusti Ayu Vira dapat jatah makan sehari sekali dengan alasan ramai tamu. Karenanya ia pun kadang terpaksa curi-curi waktu memasukkan nasi dan lauk pauk ke kertas tisu. Dan baru memakannya saat mengambil tamu.

Sebab jika tidak demikian, maka dia tidak akan bisa makan seharian.


Selain jam kerja yang tidak sesuai dengan kontrak, gaji yang didapatkan pun tidak sesuai. Di mana ia hanya mendapatkan gaji sekitar Rp4.200.000, dan bulan berikutnya sekitar Rp7.100.000. Pembayaran gaji pun sering terlambat. 


Selama bekerja di bos pertama, Gusti Ayu Vira merasa tidak betah. Selain karena tekanan dan beban dalam pekerjaan, ia juga kerap diteror oleh pemilik pelatihan spa. Yang memintanya melunasi utang keberangkatan.

Sedangkan saat dimintai pertanggungjawaban pembayaran gaji yang tidak sesuai kontrak, pemilik pelatihan itu tidak merespons.


Ia akhirnya kabur, mencari pekerjaan lain dengan niat membayar utang. Namun di bos kedua, ia hanya ditunda-tunda tanpa kepastian pekerjaan. Sehingga ia memutuskan kabur lagi, mencari bos baru.


Ibarat keluar dari lubang buaya masuk ke kandang singa, pada bos ketiga ini baru bekerja sebulan Gusti Ayu Vira justru mendapatkan pelecehan dari salah satu customer.

Ia sempat melapor pada manager, namun sang manager tak menggubrisnya. 


Ia baru tahu, ternyata tempat spa ketiga ini tidak baik. Karena merasa ketakutan, Gusti Ayu Vira kabur tanpa mendapatkan gaji.


Dengan uang yang tersisa sedikit, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan lagi. Di bos keempat ini barulah ia merasa aman. Kendati demikian, Gusti Ayu Vira hanya mampu bekerja selama sebulan.

Ia jatuh sakit tanggal 17 Juli 2022, muntah darah hingga tidak dapat berjalan karena memiliki masalah di perut dan di paru-paru. 


Hingga tanggal 13 Agustus 2022, Gusti Ayu Vira masih sakit.

Kondisi kesehatannya semakin parah, tiap hari muntah, uang untuk biaya pengobatan juga sudah tidak ada. Oleh sebab itu pihaknya memohon kepada Presiden untuk memulangkannya ke Bali Indonesia.


Sementara itu, Gusti Ayu Kencana Dewi, selaku kerabat Gusti Ayu Vira mengaku tahu jika sepupunya berangkat kerja ke luar negeri. Namun ia tidak tahu apa jenis pekerjaannya. 


Diungkapkan dia, ayah Gusti Ayu Vira yang bernama Gusti Ngurah Putra Wijaya memang berasal dari Banjar Tegal, Kelurahan Bebalang, Bangli.

Ia merupakan saudara kandung atau adik dari I Gusti Made Oka. Namun tinggalnya di wilayah Denpasar.

"Setahu saya di Akasia. Namun lokasi pastinya saya kurang tahu. Keluarga Gusti Ngurah kerap pulang ke Bangli setiap odalan. Sedangkan kami di Bangli tidak pernah ke Denpasar," ungkapnya ditemui Senin 15 Agustus 2022.


Namun pasca meninggalnya Gusti Ngurah Putra Wijaya, keluarga Gusti Ayu Vira belum pernah pulang ke Bangli lagi. Terakhir kali, Gusti Ayu Kencana sempat mendapat kabar dari sepupunya. Itupun sudah sebulan lalu.


"Ia mengirim pesan melalui WhatsApp. Kami sempat saling bertanya kabar, dan dia cerita kondisinya sedang sakit perut, badannya kurus, sedangkan biaya berobat tidak ada. Dia juga sempat cerita kalau di Turki dia dibohongi tidak bisa kerja," ucapnya.


Gusti Ayu Kencana menambahkan, ia sempat mengirim pesan lagi kepada Gusti Ayu Vira. Namun pesan itu tidak dibalas. "Hanya centang satu," sebutnya.


Diketahui pula, pada hari ini Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Ketenagakerjaan Bangli, Ni Ketut Wardani sempat mendatangi kediamannya.

"Ibu kadis hanya mengkonfirmasi apakah benar Gusti Ayu Vira beralamat di sini. Kami bilang memang benar KKnya disini. Namun kami tidak bisa memberi informasi lebih lanjut, karena yang bersangkutan tinggalnya di  Denpasar," tandasnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Pekerja Migran Indonesia

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved