Fogging Dinilai Tak Efektif Berantas DBD, DPR RI dan Pemprov Bali Coba Gunakan AWED

Sementara untuk penyemprotan fogging, dinilai belum efektif untuk memberantas DBD jika dilihat jumlah kasus DBD masih meningkat setiap tahunnya.

Istimewa
Ketut Kariyasa selaku Anggota Komisi IX DPR RI ketika melakukan pertemuan dengan Dinkes Bali dan Director Advocacy and External Relation pada, Senin 22 Agustus 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bali pada Tahun 2022 hingga Bulan Juli capai 3.158 kasus dan meninggal 7 orang.

Tingginya kasus DBD ini menarik perhatian Ketut Kariyasa selaku Anggota Komisi IX DPR RI.

Setiap tahunnya, kasus dengue terus menjadi permasalahan kesehatan.

Selama masa pandemi Covid-19, adanya kejadian luar biasa (KLB) dengue menjadi beban ganda kesehatan.

Baca juga: Inilah Dampak Gempa yang Terjadi Kemarin, Pilar Bangunan di KPU Klungkung Retak Parah

Baca juga: Pemilu 2024: Bawaslu Bangli Akan Segera Rekrut Panwascam

Sementara untuk penyemprotan fogging, dinilai belum efektif untuk memberantas DBD jika dilihat jumlah kasus DBD masih meningkat setiap tahunnya.

Maka dari itu, pengendalian dengue harus kolaboratif dan harus melibatkan teknologi.

"Untuk itu, ketika hasil penelitian aplikasi Aplikasi Wolbachia Untuk Eliminasi Dengue (AWED) yang telah dilakukan World Mosquito Program (WMP) dengan bekerjasama dengan UGM dan didukung oleh Yayasan Tahija berhasil, saya sangat berharap Bali bisa menjadi bagian dari implementasi teknologi ini," jelasnya pada, Senin 22 Agustus 2022.

Lebih lanjutnya ia mengatakan, hasil AWED ini efektif menurunkan 77,1 persen kasus dengue di Kota Yogyakarta dan menurunkan kebutuhan perawatan RS hingga 86,2 persen.

WHO sebagai badan kesehatan dunia juga menyatakan bahwa intervensi menggunakan Wolbachia ini terbukti berguna untuk kesehatan masyarakat.

"Untuk itu, saya mendukung penuh perluasan aplikasi inovasi Wolbachia ini di Provinsi Bali sehingga saya sejak awal telah mengkomunikasikan rencana WMP untuk perluasan ke Bali ke Menteri Kesehatan," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali yakni I Nyoman Gede Anom menyambut baik dengan adanya penggunaan AWED untuk mencegah DBD di Bali.

Selama ini yang dilakukan untuk mencegah DBD dihulu adalah dengan 3M sedangkan dihilir dengan penyemprotan fogging.

"Selama ini tidak begitu efektif (penyemprotan fogging). Itu dampaknya juga meningkatkan resistensi nyamuk. Saya tertarik karena ada metode baru untuk dihilir. Kasus DBD paling tinggi di Denpasar untuk tahun ini karena paling padat," kata, Anom.

Masyarakat saat ini dinilai masih banyak yang belum paham terkait fogging.

Dan karena dapat membuat resistensi nyamuk maka dari itu fogging dilakukan paling terakhir.

Nantinya model penerapan AWED ini akan akan dilakukan dengan beberapa cara tergantung pada cuaca area tersebut.

Director Advocacy and External Relation, Dr. dr Claudia Surjadjaja pun menerangkan beberapa metode tersebut.

"Dibeberapa Negara kami melakukan berbagai cara. Ada yang telurnya kami sebarkan dititipkan didalam ember dititipkan pada masyarakat besar kemudian menjadi jentik dan nyamuk dewasa dan kawin. Di Negara lain kami melakukan dengan pupa (jentik yang sudah menetas) ada juga di negara lain kami langsung menyebarkan nyamuk dewasa tergantung temperatur kalau telur cuaca terlalu panas tidak dapat menetas," papar, Claudia. (*)

 

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved