Hari Raya Saraswati

Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan, Benarkah Tidak Boleh Membaca dan Belajar Saat Hari Raya Saraswati?

Dikenal sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan, benarkah seseorang tak boleh membaca dan belajar saat Hari Raya Saraswati?

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Ilustrasi - Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan, benarkah kita tak boleh membaca dan belajar saat Hari Raya Saraswati? 

Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan, Benarkah Tidak Boleh Membaca dan Belajar Saat Hari Raya Saraswati?

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tanggal 21 Oktober 2022 merupakan Hari Raya Saraswati berdasarkan perhitungan kalender Bali.

Hari Raya Saraswati dikenal sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan ke dunia dan dilambangkan dengan sosok Dewi Saraswati.

Ada mitos yang berkembang di masyarakat khususnya masyarakat Hindu Bali, bahwa pada Hari Raya Saraswati sesorang tidak boleh membaca atau belajar, bahkan menyentuh buku.

Mitos tentang larangan membaca buku dan belajar di hari Raya Saraswati telah lama ada di tengah-tengah masyarakat Hindu.

Namun ternyata kepercayaan terhadap suatu mitos, bisa saja salah kaprah dari makna aslinya. Ternyata makna di balik mitos tidak boleh membaca dan belajar saat Hari Raya Saraswati tidaklah demikian.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, mengatakan agar mitos tidak ditelan mentah-mentah, seperti diberitakan Tribun-Bali.com pada 26 Maret 2022. Menurut beliau, orang tua pada zaman dahulu membuat mitos pasti ada tujuannya.

Ida rsi menjelaskan, bahwa mitos dibuat untuk memudahkan penyebaran informasi dan bercerita kepada khalayak umum. Sama halnya, dengan mitos saat Hari Raya Saraswati tidak boleh membaca atau sembahyang tentu saja ada makna di baliknya.

"Maksudnya saat itu adalah agar masyarakat terlebih dahulu menjalankan yadnya, apalagi saat hari suci Saraswati. Setelah itu baru mengambil kegiatan lain, seperti membaca dan sebagainya," jelas beliau kepada Tribun Bali, Sabtu 26 Maret 2022.

Baca juga: Makna Soma Ribek dan Kaitannya Dengan Saraswati Hingga Pagerwesi Dalam Hindu Bali

Perlu diketahui mitos atau mite, adalah bagian dari folklore, dan kebanyakan berlatar belakang kisah masa lampau.

Isinya adalah tafsiran-tafsiran tentang alam semesta, dan kerap diasosiasikan benar-benar terjadi oleh yang memiliki cerita.

Mitos kerap dipakai bercerita, karena dianggap lebih mudah dimengerti secara umum. 

Mitologi Saraswati lainnya, adalah datang dari kisah kerajaan Jalasanggara yang diperintah oleh Dewi Sinta dan Dewi Landep.

Para permaisuri ini memerintah, setelah ditinggalkan oleh sang raja bernama Dang Hyang Kulagiri. Sang prabu hilang tak pernah kembali, setelah pergi bertapa ke hutan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved