DBD Di Bali

Kasus Naik, Anggaran Penanganan DBD 2023 di Bangli Justru Turun

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bangli mengalami peningkatan pada tahun 2022.

ist
Fogging - Dinas Kesehatan Bangli melakukan fogging di wilayah Kelurahan Bebalang pada Januari 2023 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Kasus DBD)'>Demam Berdarah Dengue ( DBD) di Bangli mengalami peningkatan pada tahun 2022. Kendati demikian, di tahun 2023 anggaran penanganan kasus ini justru mengalami penurunan. 

Kepala Dinas Kesehatan Bangli, I Nyoman Arsana, Minggu (15/1/2023) membenarkan adanya peningkatan kasus DBD di tahun 2022 dibandingkan tahun 2021. Di mana pada tahun 2021, total kasus DBD tercatat sebanyak 81.

"Di tahun 2022 hingga akhir Desember tercatat 161 kasus," ungkapnya didampingi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, I Nyoman Sudarma.

Menurut Arsana, secara umum sebaran DBD di Bangli merata di seluruh kecamatan. Alasan kenapa di tahun 2021 kasus DBD mengalami penurunan, utamanya dipengaruhi mobilitas penduduk yang berkurang akibat pandemi Covid-19. 

"Jadi masyarakat Bangli yang awalnya bekerja di daerah-daerah endemi DBD, karena pengaruh pandemi lebih banyak memanfaatkan waktunya di rumah. Mobilitas penduduk itulah yang sangat berpengaruh terhadap kejadian DBD," jelasnya.

Sedangkan naiknya kasus DBD tahun 2022, lanjut kadis asal Desa Songan, Kintamani ini, tidak semua terkonfirmasi positif. Pihaknya menegaskan Diskes Bangli dalam hal ini sudah bergerak cepat, di mana saat ada gejala-gejala DBD, langsung dilakukan langkah-langkah penanggulangan agar kasusnya tidak menyebar. 

Fogging untuk Penaggulangan DBD
Fogging untuk Penaggulangan DBD

 

"Jadi disamping pencegahan sebelum masa penularan, kasus-kasus supek juga dilakukan penanggulangan seperti fogging. Penaggulangan DBD tidak hanya dari Dinas Kesehatan, namun juga peran serta masyarakat. Salah satunya menerapkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melakukan 3M plus," tegasnya.

Selain mobilitas masyarakat, faktor cuaca yang tidak menentu juga berpengaruh terhadap perkembangan kasus DBD. Sebab kondisi imunitas tubuh rentan mengalami mengalami penurunan, dan air menggenang berpotensi menjadi sarang bagi indukan nyamuk.

Tercatat hingga pekan kedua Januari 2023, sudah ada satu kasus suspek DBD. "Namun astungkara kematian akibat kasus DBD di Bangli belum ada," tegasnya.

Walaupun ada peningkatan kasus DBD di tahun 2022, anggaran penanganan kasus justru mengalami penurunan. Dari semula sekitar Rp 300 jutaan, pada tahun 2023 anggarannya hanya Rp 219.456.000. 

Arsana menjelaskan turunnya anggaran penanganan DBD di tahun 2023, karena pada tahun 2022 dari anggaran Rp 300 juta yang dialokasikan masih ada sisa. Walau demikian, apabila di tahun 2023 ini kasus DBD kembali mengalami peningkatan, maka anggaran tersebut akan ditambah pada APBD perubahan.

"Walaupun anggarannya berkurang, secara umum anggaran tersebut cukup untuk penanggulangan DBD di 2023," katanya. 

Lanjut Arsana anggaran senilai Rp 219 juta ini dimanfaatkan untuk pembelian bahan bakar minyak, baik berupa solar ataupun dexlite. Selain juga pelarut fogging, upah penyemprot, dan pemeliharaan mesin. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved