Berita Gianyar

Pertanian Kedelai Belum Berkembang di Gianyar, Simak Penjelasannya

Berdasarkan data Dinas Pertanian Gianyar, Minggu 5 Maret 2023, diketahui rata-rata hasil kedelai pertanian di Gianyar hanya 27 ton per tahun.

PIXABAY
Kedelai selama ini menjadi salah satu bahan baku, yang cukup banyak digunakan. Mulai dari pembuatan tempe, kue hingga bahan makanan seperti kecap. Meskipun kedelai tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari masyarakat tanah air. Namun di Kabupaten Gianyar sendiri, petani yang bergelut ditanaman ini belum banyak. Berdasarkan data Dinas Pertanian Gianyar, Minggu 5 Maret 2023, diketahui rata-rata hasil kedelai pertanian di Gianyar hanya 27 ton per tahun. Di mana angka tersebut jauh di bawah beras, yang rata-rata di angla 500 ribu ton per tahun. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Kedelai selama ini menjadi salah satu bahan baku, yang cukup banyak digunakan.

Mulai dari pembuatan tempe, kue hingga bahan makanan seperti kecap.

Meskipun kedelai tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari masyarakat tanah air.

Namun di Kabupaten Gianyar sendiri, petani yang bergelut ditanaman ini belum banyak.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Gianyar, Minggu 5 Maret 2023, diketahui rata-rata hasil kedelai pertanian di Gianyar hanya 27 ton per tahun.

Di mana angka tersebut jauh di bawah beras, yang rata-rata di angla 500 ribu ton per tahun.

Baca juga: Banyak Wisatawan Berulah Saat Berkendara, PHRI Badung Minta Rental Harus Punya SOP dan Tindak Tegas

Baca juga: Terkait Realisasi Santunan Kematian, Disdukcapil Denpasar Masih Menunggu Perwali Terbaru


 

Minimnya hasil produksi kedelai ini, menyebabkan kebutuhan kedelai selama ini didatangkan dari luar daerah.

Plt Kabid Holtikultura dan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Gianyar, Gusti Ayu Ririn bahkan mengungkapkan untuk masa tanam tahun 2023 ini, belum petani Gianyar yang terpantau menanam komoditi kedelai.

Karena itu, otomatis pasokan kedelai lokal didatangkan dari luar Gianyar.

Sedangkan kedelai untuk rebus, biasanya didatangkan dari Kabupaten Klungkung.

"Ini komoditi kedelai, masih sangat minim produksinya, yang bahkan secara umun masih impor," jelasnya.

Dia membenarkan bahwa rata-rata produksi kedelai per tahun hanya mencapai 27 ton.

Dia pun mengkalkulasi bahwa jumlah tersebut, belum bisa memenuhi bahan baku kue, tempe dan produk lain.

"Hasil pertanian kedelai kita masih sangat kecil," ujarnya.

Kata dia, selama ini kedelai hanya ditanam saat mada jeda padi.

Namun dalam masa yang disebut masa maga itu, petani saat ini cenderung menanam jagung.

"Sekarang ini hampir di seluruh kecamatan masa tanam padi.

Kalau dalam masa jeda, biasanya petani lebih cenderung ke jagung, karena lebih mudah dijual," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved