Berita Gianyar

Upacarai Roh Gentayangan Zaman Kerajaan, TPB Gelar Upacara Taur Nawa Gempang Butha Slurik

Upacarai Roh Gentayangan Zaman Kerajaan, TPB Gelar Upacara Taur Nawa Gempang Butha Slurik

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN BALI/ Wayan Eri Gunarta
Pasraman Taman Prakerthi Bhuana (TPB) Kelurahan Beng, Gianyar menggelar upacara Taur Nawa Gempang Butha Slurik, Senin 6 Maret 2023 siang. 

Pada saat berpamitan dengan istrinya, I Dewa Anom diberikan sebilah senjata oleh istrinya.

Sebelumnya, senjata itu  ditemukan di dalam pohon dapdap yang hanyut pada saat beliau mandi di sungai Panti.

Senjata tersebut bisa digunakan sebagai pertahanan saat berperang melawan musuh.

Akhirnya berangkatlah pasukan I Dewa Anom menemui dan menjemput Pasukan Ki Gusti Jelantik menuju arah barat laut (tempat kebun warga dirusak) dan terjadilah pertempuaran sengit antara pasukan I Dewa Anom melawan pasukan gajahnya  Gusti Panji Sakti.

Singkat cerita, pasukan Gusti Panji Sakti dapat dikalahkan oleh pasukan I Dewa Anom dengan senjatanya yang disebut pering gading.

Sementara senjata Dewa Anom, karena selalu melukai pelipis korban, maka senjata itu disebut Ki Baru Alis.

"Dari proses terjadinya pertempuran tersebut, sudah tentu banyak korban jiwa yang tidak sempat diupacarai oleh penguasa saat itu, sehingga roh-roh yang tidak diupacarai tersebut menjadi pengganggu (Bhutacuil) dan gentayangan di wilayah sekitar tempat peperangan tersebut terjadi, di wilayah Jero Kuta yang merupakan pusat pemerintahan Desa Alas Bengkel,  saat ini adalah kawasan Subak Ambengan, Subak Lombok, Subak Dudus, dan Subak Kacang Bedol," ujarnya.

Pihaknya pun berterima kasih pada Ida Bagus Mangku Adi Suparta selaku pemilik TPB, karena telah menggelar upacara ini.

Upacara ini sesuai dengan petunjuk sastra Lontar Yoga Segara Bumi, Lontar Gong Wesi, Lontar Lebur Sangse.

"Disertai dengan keinginan yang tulus dari Ida Bagus Aji (Suparta), sehingga dilaksanakan upacara ini dengan tujuan menyucikan sahe melebur sarwa letuh ring Buana Alit lan Buana Agung yang diakibatkan oleh adanya korban peperangan yang belum diupacarai (diabenkan) dari jaman dulu dan kemungkinan juga adanya korban meninggal ulah pati, meninggal salah pati di bekas wilayah yang merupakan wilayah pusat pemerintahan I Dewa Anom," ujarnya.

Bupati Gianyar, Made Mahayastra mengucapkan terima kasih atas upacara yang digelar oleh Ida Bagus Mangku Adi Suparta, karena telah membantu pemerintah dalam menggelar upacara ini.

"Saya sebagai Bupati, salut sama beliau. Karena rela dan ikhlas secara pribadi menggelar upacara yang membutuhkan dana hampir Rp 1 miliar. Tentu pemerintah sangat terbantu oleh ketulusan beliau dalam menjaga kesucian wilayah," ujar Mahayastra. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved