Pilpres 2024

Pengamat Nilai Golkar Tak Siap Kalah!  Berharap Tetap Dirangkul Pemenang Usai Pemilu 2024

Golkar memang tidak pernah mempunyai kebiasaan atau tradisi menjadi oposisi lantaran sejak didirikan pada 20 Oktober 1964 selalu berada di dalam lingk

ANTARA
Keinginan Golkar yang berharap bisa tetap berada di lingkaran kekuasaan setelah Pemilu 2024 dinilai sebagai wujud sikap tidak siap untuk kalah. Sebab sebelumnya, Ketum Golkar Airlangga Hartarto menginginkan supaya pihak-pihak yang menjadi pemenang dalam Pemilu 2024 tidak bersikap sapu bersih atau the winner takes it all. 

TRIBUN-BALI.COM -  Keinginan Golkar yang berharap bisa tetap berada di lingkaran kekuasaan setelah Pemilu 2024 dinilai sebagai wujud sikap tidak siap untuk kalah. Sebab sebelumnya, Ketum Golkar Airlangga Hartarto menginginkan supaya pihak-pihak yang menjadi pemenang dalam Pemilu 2024 tidak bersikap sapu bersih atau the winner takes it all.


"Golkar dalam sejarah demokrasi pasca reformasi memang tidak pernah siap untuk kalah sehingga mencari aman dengan berlindung di balik pemaknaan the winners take it all," kata Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama Ari Junaedi, Senin (1/5).


"Pernyataan 'the winners take it all' menurut saya salah dimaknai oleh Golkar. Jika mau konsekuen dengan prinsip demokrasi yang kita anut, justru setiap partai harus siap menang dan siap kalah," sambung Ari.


Ari mengatakan, Golkar sebenarnya mempunyai kekuatan dan pengaruh karena menjadi partai politik terbesar ketiga di DPR hasil Pemilu 2019. Partai berlambang pohon beringin itu, saat ini mempunyai 85 kursi di DPR atau setara dengan 12 persen. Akan tetapi, kata Ari, dengan modal itu ternyata tidak membuat Golkar percaya diri untuk mengambil langkah dalam percaturan politik menjelang Pemilu 2024.


"Terlihat Golkar tidak yakin untuk menang sehingga terlihat menjadi partai yang paling aktif melakukan 'zig-zag' politik dengan mendekati berbagai poros koalisi," ujar Ari.

Baca juga: Prabowo Pamer Rambut Putih ke Wiranto, Mantan Panglima TNI Temui Ketum Gerindra di Hambalang

Baca juga: Puluhan LPJU di Karangasem Mati dan Tak Bisa Diperbaiki, Simak Beritanya!

Baca juga: Peserta Keluhkan Soal Tes Sangat Sulit! Masalah Lainnya Nilai Ambang Batas Terlalu Tinggi


Lebih lanjut Ari menyampaikan, Golkar sudah mengikat perjanjian koalisi dengan PPP dan PAN. Namun, lanjut dia, Golkar justru tidak memaksimalkan poros Koalisi Indonesia Baru (KIB) yang sudah dibentuk jauh sebelum koalisi Gerindra-PKB, serta poros NasDem-Demokrat-PKS. "Harusnya Golkar tetap menjadi motor penggerak KIB dan punya peluang menggarap arah koalisi," ucap Ari.


Sebelumnya diberitakan, Airlangga berharap para pemenang Pemilu dan Pilpres 2024 tidak meniru prinsip demokrasi seperti di Amerika Serikat, di mana ketika partai yang unggul dalam Pemilu dan Pilpres menguasai semuanya dan tidak memberikan ruang bagi partai politik pesaingnya. "Partai Golkar dan Partai Demokrat sepakat bahwa Pemilu itu bukan 'the winner takes it all'. Artinya, kita ini kan Indonesia raya, kita bukan seperti Amerika, demokrasi yang kebarat-baratan itu demokrasi yang the winner takes it all," kata Airlangga.


Airlangga mengibaratkan membangun Indonesia seperti tim nasional sebuah cabang olahraga yang membela nama Indonesia. Ia mengatakan, pemain-pemain yang masuk tim nasional pun biasanya tidak hanya berasal dari tim yang menjuarai kejuaraan di dalam negeri. Dalam konteks politik, Airlangga menilai sistem tersebut bakal menciptakan pelaksanaan Pemilu yang membahagiakan, bukan yang memecah belah bangsa.


"Perbedaan kita hanya pada tanggal 14 Februari pada saat masyarakat memilih, mencoblos, sesudah itu kita kembali bersama-sama," kata Airlangga.
Lebih lanjut, Airlangga mengingatkan bahwa Indonesia akan menghadapi persimpangan, antara sukses menjadi negara maju atau tetap berada pada middle income trap. Menurut dia, persimpangan jalan itu hanya bisa dilalui bila partai-partai politik saling bekerja sama dalam menyusun rencana pembangunan maupun instrumen hukum yang dapat meningkatkan ekonomi Indonesia.


"Kita butuh seluruh instrumen dari hukum kepada DP yang nanti juga duduk itu minimal 70 persen. Oleh karena itu, saya menawarkan Partai Golkar, kita ini dari sekarang supaya nanti kita tidak 'kagetan'," ujar Airlangga.


Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga mendorong partai-partai politik untuk menyelesaikan Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) sebelum pendaftaran calon presiden dan wakil presiden mendatang. "Maka calon presiden nanti sudah punya referensi apa yang harus dikerjakan, karena kita semua ini tergantung calon presiden bikin programnya apa, tapi lapangannya dan regulasinya harus kita buat," kata Airlangga. (kompas.com)

Airlangga Hartanto kembali terpilih lagi sebagai ketua umum Golkar secara aklamasi dalam Munas Partai Golkar di Jakarta, Kamis (5/12/2019)
Airlangga Hartanto kembali terpilih lagi sebagai ketua umum Golkar secara aklamasi dalam Munas Partai Golkar di Jakarta, Kamis (5/12/2019) (ANTARA)

Tak Punya Tradisi Oposisi


MANUVER Golkar yang terus mendekati sejumlah partai politik dan berharap tetap bisa berada di dalam pemerintahan usai Pemilu 2024 kelak mempertegas sikap mereka tidak pernah berminat menjadi kelompok oposisi. Menurut beberapa pengamat politik, Golkar memang tidak pernah mempunyai kebiasaan atau tradisi menjadi oposisi lantaran sejak didirikan pada 20 Oktober 1964 selalu berada di dalam lingkaran kekuasaan.


"Karena memang Golkar tidak punya tradisi oposisi. Selalu mencari cara atau jalan menjadi bagian dari pemerintahan," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer (IB) Muhammad Qodari, Senin (1/5).


Menurut Qodari, meski perolehan kursi Golkar di DPR tidak terlampau besar, tetapi sumber daya dan struktur organisasinya diandalkan untuk menjaga stabilitas pemerintahan. "Selama ini Golkar selalu menjadi bagian dari pemerintahan selain karena memang tidak mau di luar karena juga kursinya konsisten ya, tidak besarlah dalam Pemilu, sehingga siapapun yang menjalankan pemerintahan memerlukan Golkar sebagai salah satu pilar stabilitas politik," ucap Qodari.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved