Berita Jembrana
514 Warga Jembrana Ikuti Program Kejar Paket, Angka Putus Sekolah di Gumi Makepung Tinggi
Ratusan warga Jembrana terdata putus sekolah dan mengikuti program kejar Pake B dan C.
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Ratusan warga Jembrana terdata putus sekolah dan mengikuti program kejar Pake B dan C.
Sebagian besar, mereka adalah yang tinggal di wilayah pedesaan karena kekurangan biaya.
Tak jarang mereka yang putus sekolah atau tidak melanjutkan ke jenjang sekolah selanjutnya diminta orangtuanya untuk bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Baca juga: Kolaborasi Pemkot Denpasar Dan Yayasan Bina Ilmu Korea Selatan Bantu Paket Perlengkapan Sekolah
Menurut data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jembrana tahun 2023, jumlah warga yang mengikuti program Kejar Paket B sebanyak 77 orang.
Tersebar di tiga PKBM, yakni PKBM Widya sastra 24 orang siswa, PKBM Bhatara 11 orang siswa dan PKBM Nuris 42 orang siswa.
Baca juga: Soal dan Kunci Jawaban Ujian Sekolah PAI Kelas 6 SD/MI, Pendidikan Agama Islam Terbaru 2023
Sementara untuk jumlah siswa Kejar Paket C sebanyak 437 orang siswa. Mereka tersebar di SPNF SKB Kabupaten Jembrana 206 orang siswa, PKBM Nuris 78 orang siswa, PKBM Widya Sastra 84 orang siswa, PKBM Dharma Sastra 20 siswa dan PKBM Bhatara 49 orang siswa.
Mereka yang mengikuti program ini lebih banyak berusia di atas 30 tahun.
Baca juga: Cita-cita ART di Solo Terwujud, Punya Ijazah SMA Berkat Sekolah Virtual yang Digagas Ganjar Pranowo
Sebab, dengan program kejar paket ini, setelah lulus akan mendapat ijazah yang sah dan bisa digunakan untuk mencari pekerjaan.
"Ada yang putus sekolah saat belum tamat dan ada juga yang tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi. Tapi rata-rata mereka itu kejar paket B dan C atau setara SMP dan SMA," kata Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Jembrana I Gusti Putu Anom Saputra saat dikonfirmasi, Jumat 19 Mei 2023.
Baca juga: Fenomena Putus Sekolah Jadi Bukti Kegagalan Seluruh Pihak, Masa Depan Bangsa Taruhannya
Dia menerangkan, berbagai faktor menjadi penyebab angka putus sekolah di Jembrana lumayan tinggi.
Salah satunya adalah kekurangan biaya. Sehingga pihak orang tua lebih memilih untuk meminta anaknya bekerja.
Misalnya menjadi nelayan atau lainnya. Hasil dari kerja tersebut digunakan untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-harinya.
Baca juga: Daftar Sekolah Terbaik di Bali, Cocok Jadi Referensi Siswa dan Orangtua, Simak Semeton!
"Salah satu peserta Kejar Paket dari Desa Pengambengan, setelah lulus sekolah SD tidak boleh sekolah karena tidak ada biaya dan disuruh untuk bekerja sebagai nelayan."
"Sehingga, jika ada kasus seperti ini kami upayakan agar mengikuti kejar paket saja agar tidak putus sekolah," jelasnya.
Baca juga: Libatkan 400 Peserta Peringati HKB, PMI Tabanan Adakan Simulasi Hadapi Gempa Bumi di Sekolah
Menurutnya, jumlah peserta program kejar paket ini mengalami penuruan setiap tahunnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.