Berita Bali
Kapan Virus Rabies Mulai Masuk ke Bali? Dari Sini Riwayatnya, Wagub Cok Ace Beri Penjelasan
Acara serah terima ini, dipimpin langsung Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) di Wiswa Sabha.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Penularan virus rabies, hingga saat ini masih menjadi perhatian khusus pemerintah khususnya di Bali.
Tren kasus rabies yang meningkat, membuat Indonesia terus menerima bantuan vaksin rabies.
Seperti hari ini, Selasa 15 Agustus 2023, Pemerintah Provinsi Bali kembali menerima bantuan vaksin rabies yang diberikan oleh Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia (DAFF) melalui Badan Organisasi Dunia bagi Kesehatan Hewan (WOAH).
Acara serah terima ini, dipimpin langsung Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) di Wiswa Sabha.
Dalam sambutannya, Wagub Cok Ace mengatakan sampai saat ini isu penyakit zoonosis di Pulau Bali, masih menjadi permasalahan yang belum dapat diatasi. Ia juga menuturkan bagaimana mulanya hingga rabies bisa masuk ke Bali.
Baca juga: Jabatan Wagub 5 September Habis, Cok Ace Akan Kembali Menjadi Dosen di ISI Denpasar
Baca juga: Kejaksaan Agung Tetapkan Anggota DPR RI PDIP Ismail Thomas Sebagai Tersangka Korupsi

“Provinsi Bali pada awalnya merupakan salah satu daerah yang secara historis bebas rabies, namun sejak munculnya kasus rabies pada tanggal 28 November 2008 di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, mengubah status Bali menjadi daerah tertular rabies di Indonesia yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 1637 Tahun 2008, tertanggal 1 Desember 2008,” jelasnya.
Setelah itu, dikatakan Wagub Cok Ace penyakit rabies dengan cepat menyebar ke Denpasar dan akhirnya, tahun 2009 rabies sudah menyebar ke seluruh kabupaten/kota se-Bali.
Sampai saat ini, Pulau Bali masih menjadi perhatian dan fokus bagi banyak pihak mengingat statusnya yang masih belum bebas kembali dari penyakit rabies.
Hal ini terbukti dari bermacam komponen pengendalian penyakit, yang terus dilakukan dari berbagai pihak dengan tujuan yang sama, yaitu menghentikan perputaran dan penyebaran virus rabies sehingga tidak lagi ada kasus baik pada manusia maupun hewan.
“Dalam pengendalian rabies, kita mengenal istilah HPR yaitu Hewan Penular Rabies. HPR utama yang kita kenal adalah anjing, di mana banyak pihak yang selalu menyalahkan anjing sebagai penyebab rabies hingga penyebab kematian bagi korbannya.
Hal ini harus dapat kita luruskan bersama, bahwa anjing juga merupakan korban rabies, sedangkan ‘biang’ dari rabies sebenarnya adalah virus rabies. Musuh kita adalah virus rabies,” bebernya.

Berbagai upaya dan strategi telah dilakukan, dalam percepatan pemberantasan rabies di seluruh kabupaten/kota se-Bali antara lain KIE (komunikasi, informasi, edukasi)/sosialisasi, vaksinasi (vaksinasi massal, emerging vaksinasi, sweeping/penyisiran), eliminasi/eutanasia, pengawasan lalu lintas HPR, surveilans dan kontrol populasi.
Namun sampai saat ini belum dapat dibebaskan dari Pulau Bali. Keenam strategi tersebut berjalan secara utuh dan simultan serta berkesinambungan.
Cuaca Buruk, Pelabuhan Gilimanuk Bali Ditutup Hampir Dua Jam, Antrean Kendaraan Mengular |
![]() |
---|
Lindungi Pesisir Bali, 4.000 Bakau Ditanam di Tahura Ngurah Rai, Libatkan Kelompok Nelayan |
![]() |
---|
Kapasitas PLTS di Bali Saat Ini Capai 50 MW, Siapkan Proyek Baru PLTS 9-10 MW di Badung |
![]() |
---|
Sekda Bali Targetkan Ranperda Nominee Selesai Tahun Ini, UMKM Milik WNA Dipastikan Ilegal |
![]() |
---|
UMKM Milik WNA Dipastikan Ilegal, Sekda Bali Targetkan Ranperda Nominee Selesai Tahun Ini |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.