Berita Klungkung

Proyek Rp 18 Miliar Tenggelam! Bangunan PPI Hilang Setelah Bertahun-tahun Mangkrak di Kusamba

Proyek Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di pesisir Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, hancur diterjang ombak.

Tribun bali/ Eka Mita Suputra
GEDUNG HANCUR - Kondisi gedung PPI di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, beberapa waktu lalu. Kini sisa-sisa gedung tersebut sudah hilang tersapu ombak. INZET: Warga menunjuk lokasi proyek PPI yang sudah tenggelam di laut.  

TRIBUN-BALI.COM - Proyek Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di pesisir Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, hancur diterjang ombak. Sisa-sisa bangunan senilai Rp 18 miliar itu bahkan sudah tenggelam di laut.

Sekarang, pesisir Pantai Karangdadi sudah berbeda dari tahun 2021. Pantai berpasir hitam itu sudah menyempit. Tanggul telah dibangun tahun lalu untuk mengantisipasi abrasi yang kian parah.

Sebelumnya lokasi ini terkenal karena menjadi tempat pembangunan PPI pertama di Klungkung. Namun bangunan PPI tersebut sudah tak ada lagi. Gapura masuk PPI sudah hilang, demikian halnya padmasana yang tertimbun pasir juga tidak ada lagi.

Sementara bangunan kantor, tower, hingga bangunan utama yang bertahun-tahun mangkrak juga lenyap. Hanya ada sisa puing-puing bangunan itu berupa pancang beton dan itupun sudah tenggelam di laut. Posisinya 50 meter dari pesisir pantai.

Baca juga: Tamba Rasa Pedagang Bahagia Dengar Kabar Ini, Luas Kios Pasar Baru Jadi 3x4 Meter

Baca juga: Tragedi Lift Maut di Ayu Terra Resort Ubud, Polda Bali Sebut Roda Rem Tidak Berfungsi dengan Baik

Baca juga: Sosok Gaib Penunggu di Ayu Terra Resort Ubud, Dibersihkan Secara Niskala, Ini Kata Pemangku! 

GEDUNG HANCUR - Kondisi gedung PPI di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, beberapa waktu lalu. Kini sisa-sisa gedung tersebut sudah hilang tersapu ombak. INZET: Warga menunjuk lokasi proyek PPI yang sudah tenggelam di laut. 
GEDUNG HANCUR - Kondisi gedung PPI di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, Klungkung, beberapa waktu lalu. Kini sisa-sisa gedung tersebut sudah hilang tersapu ombak. INZET: Warga menunjuk lokasi proyek PPI yang sudah tenggelam di laut.  (Eka Mita Suputra/Tribun Bali)

"Bangunan itu (PPI) sudah lama hilang, mungkin lebih dari setahunan. Itu sisa-sisa bangunannya, sudah menjadi laut," kata warga setempat, Komang Radi (45) sembari menunjuk beton yang sudah tenggelam di laut, Selasa (5/9).

Beton itu sesekali muncul di permukaan, sesekali tenggelam. Hanya itu yang tersisa dari proyek yang berpotensi menjadikan Klungkung sebagai pusat pasar ikan selayaknya Kedonganan, Badung.

"Di sini dulu rencananya jadi pusat pendaratan ikan, ada gedung pembuatan es juga. Tapi sekarang sudah hilang semua. Sampai beton tempat mancing (breakwater) juga hilang," ujar Radi yang dulu jadi pekerja saat proyek PPI baru dibangun.

Andai saja PPI itu tidak mangkrak dan beroperasi, akan memberikan dampak pada perekonomian warga setempat. Namun sejak berdiri, PPI di Dusun Karangadadi belum pernah beroperasi. Bahkan mangkrak sampai tenggelam di lautan seperti saat ini. "Sejak awal belum pernah beroperasi," ungkap Radi.

Proyek PPI di Dusun Karangdadi berdiri di atas lahan 1,2 hektare dan merupakan proyek Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perikanan dan Kelautan. Saat perencanaan, proyek ini dianggarkan sebesar 33 miliar dan pertama kali dikerjakan tahun 2005 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Pusat.

Karena permasalahan anggaran dari pusat dan permasalahan teknis, pembangunan terhenti sejak tahun 2012, padahal pembangunan PPI sudah menghabiskan anggaran sebesar 18 miliar. Bangunan PPI tidak dilanjutkan dan tidak terurus. Bahkan sebagian besar hanya tersisa puing, akibat hancur dihantam ombak. (mit)

 

Jalan Hancur

Sementara itu, akses jalan Kintamani menuju Lembean, Kintamani mengalami kerusakan. Kondisi ini dikeluhkan masyarakat sebab dinilai sangat membahayakan. Kerusakan jalur tersebut disinyalir akibat truk pengangkut material proyek pembangunan Bendungan Sidan di Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Badung.

Jalur Kintamani-Lembean menjadi akses lalu lintas pengiriman material proyek tersebut. "Kemungkinan karena muatannya melebihi kapasitas sehingga jalanan cepat rusak. Sebab jalan ini masih tergolong baru diperbaiki. Sekitar dua tahunan," demikian katanya.

Kendaraan proyek yang melintas penuh beban, bahkan tanpa ada pengawalan dari kepolisian. Selain jalan yang hancur, tapal batas desa roboh karena kesenggol kendaraan pengangkut material proyek. "Siapa yang akan bertanggung jawab atas kerusakan jalan tersebut," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved