Longsor di Karangasem

3 Tewas Tertimbun Longsor Hendak Cari Batu di Karangasem,  Perbekel Buana Giri Larang Tambang Tebing

Dalam duka, keluarga korban longsor di Dusun Kemoning, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem mempersiapkan prosesi penguburan, Selasa (12/9)

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
BPBD
Evakuasi - Peristiwa tragis pada Senin (11/9) pukul 11.30 Wita itu merenggut tiga nyawa. Korban tertimbun longsor saat menggali batu di tebing Sungai Taksu, Kemoning. Mereka yang meninggal I Kadek Berata, I Kadek Pasek, dan I Ketut Sueca. Sedangkan dua yang selamat yakni I Kadek Berata dan I Kadek Suardika. 

Proses evakuasi menggunakan alat berat dibantu warga dan polisi, BPBD Karangasem, perangkat Desa Buana Giri, dan warga. Tiga orang penggali yang meninggal adalah I Kadek Berata serta I Kadek Pasek meninggal di tempat karena tertimbun material longsor, dan I Ketut Sueca dinyatakan meninggal saat dibawa ke RSUD Karangasem. Sedangkan yang selamat yakni I Kadek Berata dan I Kadek Suardika.

Evakuasi - SAR dan Basarnas berhasil evakuasi korban longsor. Akibat kejadian longsor itu, sebanyak tiga orang meninggal dunia sementara dua orang selamat dalam kondisi luka-luka di Karangasem, Bali.
Evakuasi - SAR dan Basarnas berhasil evakuasi korban longsor. Akibat kejadian longsor itu, sebanyak tiga orang meninggal dunia sementara dua orang selamat dalam kondisi luka-luka di Karangasem, Bali. (Istimewa)

 

Menurut Kadek Berata, tinggi tebing diperkirakan sekitar 25-30 meter dari permukaan sungai. "Awalnya kita datang berempat ke lokasi untuk menggali batu di tebing. Yakni I Kadek Berata, Kadek Pasek, Sueca, dan saya. Rombongan bawa alat manual, seperti linggis, sekop, dan cangkul. I Kadek Suardika datangnya belakangan, pukul 10.30 Wita," kata Dek Berata, sapaannya.

Sesampai di lokasi kejadian, empat penggali memutuskan naik ke atas tebing memastikan ada atau tidaknya bebatuan jenis tabas di lokasi. Setelah dicek, ternyata ditemukan bebatuan yang dicari. Dia akhirnya melanjutkan naik ke atas. Ketut Sueca mencoba menggali di pertengahan memakai linggis dan sekopnya.

Sekitar pukul 10.30 Wita, Kadek Suardika datang memberitahu penggali untuk istirahat karena belum makan serta minum. Suardika sempat naik, tapi tak sampai ke atas. Mereka sempat mengobrol sebelum ada longsor. "Kita sudah mengumpulkan bebatuan di bawah, tapi hanya beberapa," cerita Berata dengan wajah sedih.

Setelah dua jam menggali, tiba-tiba tanah labil. Material longsor, sedangkan pohon bertumbangan. Tiga orang penggali yang ada di atas tertimbun material. Sedangkan Kadek Berata dan Kadek Suardika terpental karena terkena hantaman kayu. "Saya hanya mengalami luka bagian punggung dan khaki," kata Berata.

"Saya tak ingat apa pun. Setelah kejadian saya sudah lihat kakak dan teman tertimbun material. Yang saya lihat cuma badan Ketut Sueca, sedangkan Kadek Berata serta Kadek Pasek tidak terlihat karena tertimbun tanah. Lalu saya minta bantuan ke atas, dan Kadek Suardika menjaganya," kata Berata, pria asli Kemuning.

Kadek Suardika mengatakan, longsor datang secara tiba-tiba. Tak ada tanda atau bunyi pergerakan tanah sebelum kejadiannya. Material longsor tiba-tiba menghantam. "Saya ke lokasi untuk memberitahu agar istirahat. Soalnya dari pagi belum makan dan minum. Semua korban paman saya," kata Kadek Suardika.

Aktivitas menggali bebatuan secara manual dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Mereka berlima berkelompok untuk menggali. Setelah terkumpul, hasil penggalian batuan dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, seperti untuk biaya sekolah anak, dapur, makan dan minum.

Kadek Berata mengatakan, kegiatan menggali bebatuan sudah digeluti sejak beberapa tahun lalu. Biasanya kelompok mengali di atas, menggunakan linggis dan sekop. "Kita tak ada pekerjaan lain selain gali bebatuan untuk dijual," kata Berata.

Berata mengaku menggali bebatuan di sekitar Sungai Lembah Taksu baru pertama kali, sesuai keputusan dan kesepakatan kelompok. "Satu kelompok ada 5 orang. Seorang tak bisa ikut mencari bebatuan di Sungai Lembah Taksu karena ada halangan. Akhirnya empat orang berangkat," tambah Berata.

"Biasanya kita cari batu di lokasi lain. Kalau sudah terkumpul bebatuan dijual ke perajin tabas sekitar Buana Giri. Harganya bervariasi, tergantung jumlahnya. Pencarian batu di Sungai Lembah Taksu ini yang pertama," imbuh Dek Berata.

Tidak ada firasat apapun selama perjalanan menuju ke Sungai Lembah Taksu. Kelompok penggali bebatuan manual sempat mengobrol dan bersenda gurau sebelum longsor. "Tak ada firasat apa pun. Sebelumnya mereka ngobrol biasa dan guyon. Setelah itu naik ke atas untuk mengali bebatuan," jelas Berata.

Sementara Kadek Suardika mengaku memiliki firasat tidak baik sebelum kejadian. Mengingat medan di lokasi kejadian cukup terjal. Ketinggian tebing yang digali sekitar 25-30 meter. Selain itu, kegiatan menggali dilakukan saat kajeng kliwon.

"Sebelum kejadian saya memiliki firasat tidak baik. Biasanya sebelum menggali kita menggelar upacara, memakai banten sekitar lahan yang digali. Minimal mohon keselamatan. Hari ini tumben kelompok tidak menyuguhkan banten," kata Kadek Suardika.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved