Mahasiswa STIP Jakarta Meninggal Dunia

8 Fakta Tewasnya Putu Satria Mahasiswa STIP Asal Klungkung Bali, Diduga Dianiaya Kating Perkara Baju

Fakta tewasnya mahasiswa asal Klungkung di STIP, Putu Satria diduga dianiaya kating hingga terima pukulan di ulu hati perkara baju olahraga.

|
ISTIMEWA
Putu Satria Ananta Rustika, mahasiswa STIP Jakarta asal Klungkung Bali meninggal dunia. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Putu Satria Ananta Rustika (19), mahasiswa asal Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung tewas di kampusnya Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Cilincing Jakarta, Jumat (3/5) sore.

Terungkap beberapa fakta tewasnya Putu Satria mahasiswal asal Klungkung di STIP Jakarta, jadi korban kekerasan kakak tingkat (kating) hingga terima pukulan di ulu hati perkara baju olahraga. 

Hingga saat ini, Putu Satria diduga meninggal dunia karena menjadi korban penganiayaan.

Ada dugaan jika Putu Satria atau akrab dipanggil Rio, meninggal usai menjadi korban perpeloncoan kakak kelasnya. 

Baca juga: Sorotan Kasus Mahasiswa Asal Klungkung Bali Tewas di STIP, Putu Rustika Diduga Dianiaya Senior

Korban Kekerasan Kating

Dikutip dari tribunnews.com, Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Gidion Arif Setyawan membenarkan informasi adanya mahasiswa meninggal dunia di STIP.

Diduga mahasiswa itu meninggal karena dianiaya seniornya.

"Jadi awalnya, kami Polres Metro Jakarta Utara menerima LP (laporan) meninggalnya seseorang berinisial P. Pada waktu kondisi meninggal ini ada di RS Tarumajaya. Yang bersangkutan adalah salah satu siswa tingkat 1 di STIP," kata Gidion kepada wartawan, Jumat (3/5).

Ia menambahkan, meninggalnya mahasiswa tingkat 1 itu, akibat kekerasan yang dilakukan oknum seniornya tingkat 2.

"Kami masih mendalami secara utuh bagaimana rangkaian peristiwanya," jelasnya.

Perkara Baju Olahraga

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di toilet lantai II STIP Jakarta Utara.

Awalnya korban (Putu Satria Ananta Rustika) dan teman-temannya yang masih tingkat I dipanggil oleh senior di tingkat II.

Baca juga: HANTAMAN di Ulu Hati Sebabkan Putu Satria Terkapar, Mahasiswa STIP Jakarta Tewas Dianiaya Senior

Seniornya yang berinisial T asal Bekasi, sempat menanyakan siapa yang meminta korban dan rekan-rekanya memakai pakaian olahraga ke gedung pendidikan lantai 3.

Korban dan rekan-rekannya kemudian diminta berbaris berjejer.

Korban Terkapar Usai Dipukul di Ulu Hati

Kemudian T memukul ulu hati korban dengan tangan mengepal sebanyak 5 kali. Hal itu membuat korban terkapar.

"Ada dugaan akibat kekerasan yang dilakukan oleh oknum seniornya tingkat 2 dalam kegiatan tadi pagi yang dilakukan oleh senior-seniornya terhadap korban, tetapi kami masih mendalami secara utuh bagaimana rangkaian peristiwa," kata Gidion di lokasi, Jumat malam.

Kepala STIP Jakarta Bantah Indikasi Perpeloncoan

Dikutip TribunJakarta.com Jumat (3/5), Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta mengklaim tidak ada unsur perpeloncoan dalam kasus tewasnya mahasiswa alias taruna bernama Putu Satria Ananta Rustika (19) di dalam area kampus tersebut pada Jumat (3/5/2024) pagi.

Menurut Ketua STIP Jakarta Ahmad Wahid, tewasnya Putu Satria murni masalah pribadi antara korban dengan seniornya yang diduga melakukan penganiayaan.

"Jadi di sini sebenarnya tidak ada perpeloncoan jadi kita sudah hapus semua perpeloncoan," kata Ahmad di lokasi, Jumat malam.

Ahmad juga menyatakan, selama setahun belakangan dirinya menjabat sebagai Ketua STIP Jakarta, perpeloncoan senior ke junior sudah dihapus.

Ia berdalih kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan senior terhadap korban Putu Satria hari ini hanyalah masalah pribadi.

"Karena itu (perpeloncoan) penyakit turun temurun saya sendiri sudah setahun di sini saya hapus semua itu nggak ada," ucap Ahmad.

Ia berdalih kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan senior terhadap korban Putu Satria hari ini hanyalah masalah pribadi.

"Karena itu (perpeloncoan) penyakit turun temurun saya sendiri sudah setahun di sini saya hapus semua itu nggak ada," ucap Ahmad.

Putu Satria Sempat Dilarikan ke Rumah Sakit

Gidion mengatakan, kasus dugaan perpeloncoan maut ini awalnya diketahui setelah ada laporan bahwa korban dilarikan ke RS Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

Korban kemudian diperiksa dan ternyata tewas akibat diduga mengalami kekerasan fisik di dalam kampus STIP Jakarta, Cilincing, Jakarta Utara.

Putu Satria yang merupakan taruna asal Bali diduga tewas setelah mengikuti kegiatan yang diinisiasi senior-seniornya pagi itu.

"Kegiatan ada di kamar mandi. Ini kegiatan yang memang tidak dilakukan secara resmi oleh lembaga. Ini kegiatan perorangan mereka. Jadi tidak dilakukan secara terstruktur ataupun kurikulum ya," ucap dia.

Terkini, polisi sudah memasang garis polisi di toilet pria tempat korban terakhir kali ditemukan tak sadarkan diri.

Baca juga: MAHASISWA STIP Asal Desa Gunaksa Meninggal Dianiaya Senior, Jenazah Satria Diautopsi Hingga Malam

Polisi Periksa 10 Orang

Polisi juga sudah mengamankan beberapa taruna STIP Jakarta yang diduga melakukan kekerasan terhadap Putu Satria.

"Sambil berjalan, kami juga sudah memeriksa 10 orang lebih untuk menceritakan peristiwa kejadiannya seperti apa," kata Gidion.

Pihak Keluarga Terbang ke Jakarta

Perbekel Desa Gunaksa I Wayan Sadiarna membenarkan, Putu Satria Ananta Rustika merupakan warganya. Sore tadi, pihak keluarga sudah ke Jakarta untuk memastikan informasi tersebut.

"Tadi ibu, adik, serta paman dari anak itu (Putu Satria Ananta Rustika) berangkat ke Jakarta. Katanya mengecek informasi tersebut," jelas Sadiarna, Jumat (3/5).

Sadiarna mengaku mengenal warganya tersebut. Bahkan mengetahui saat Putu Satria berangkat melanjutkan pendidikan ke salah satu sekolah kedinasan di Jakarta.

"Saya tahu anak ini, sebelum berangkat juga dulu pernah bertemu," ungkapnya.

Putu Satria Ananta Rustika merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Korban merupakan alumni SMAN 2 Semarapura.

Polisi Perketat Keamanan di STIP Jakarta

Seiring proses penyelidikan yang dilakukan kepolisian di lokasi, pihak keamanan STIP Jakarta memperketat pengamanan di gerbang masuk.

Pantauan TribunJakarta.com, sejak Jumat siang hingga sore petugas keamanan bersiaga di depan gerbang.

Petugas tampak memberhentikan sejenak mobil-mobil yang hendak masuk ke dalam area STIP sembari menanyakan keperluannya.

Petugas keamanan juga memeriksa kendaraan yang hendak masuk ke area STIP, kemudian berjaga di gerbang dengan didampingi polisi.

Dari kejauhan, terpantau pula Jumat sore itu digelar apel yang melibatkan mahasiswa STIP di halaman sekolah tinggi tersebut.

Salah seorang petugas keamanan yang berjaga di depan gerbang menyebutkan, hingga sore itu polisi masih menyelidiki terkait meninggalnya taruna STIP Jakarta di lokasi.

"Untuk saat ini kami belum bisa menerima media. Arahannya seperti itu. Kemudian juga di dalam masih ada proses penyelesaiannya. Pihak kepolisian masih di dalam," kata petugas keamanan tersebut.

Baca juga: MIRIS, Mahasiswa STIP Jakarta Asal Bali Meninggal Dunia, Diduga Aksi Bullying Kakak Tingkat

Para mahasiswa akhirnya diperbolehkan keluar dari area STIP Jakarta sekitar pukul 16.30 WIB.

Sebelumnya, TribunJakarta.com juga memantau mobil Tim Inafis Polres Metro Jakarta Utara memasuki area STIP Jakarta pada pukul 14.00 WIB.

Setelah 1,5 jam melakukan pengecekan di dalam, mobil Tim Inafis Polres Metro Jakarta Utara terlihat meninggalkan STIP Jakarta sekitar pukul 15.30 WIB. (mit/tribunnews)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved