Mahasiswa STIP Tewas

Rekaman CCTV Putu Satria Setelah Dianiaya, Impian di STIP Hingga Tinggalkan Klungkung Jadi Kenangan

Rekaman CCTV Putu Satria Setelah Dianiaya, Impian di STIP Hingga Tinggalkan Klungkung Jadi Kenangan

DOK
Ilustrasi rekaman CCTV. 

TRIBUN-BALI.COM - Hingga saat ini jenazah Putu Satria Ananta Rustika alias P (19), mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta masih berada di RS Polri Kramat Jati.

Putu Satria diduga kuat meninggal dunia setelah mengalami penganiyaan dari seniornya di area kampus STIP.

Putu Satria diketahui langsung tersungkur setelah dihajar seniornya di STIP sebanyak lima kali di area ulu hati.

Kini fakta-fakta penganiayaan Putu Satria mulai terungkap satu per satu.

Baca juga: Setelah Tegar Lepaskan Lima Pukulan, Putu Satria Tewas, Berikut Info Mahasiswa STIP Bernama Tegar

Terbaru, Polisi berhasil mengantongi rekaman CCTV saat Putu Satria dibopong dari toilet ke klinik STIP.

Kejadian penganiayaan ini terbilang tragis karena diduga Putu Satria langsung merenggang nyawa setelah aksi para senior tersebut.

Dugaan Putu Satria tewas seketika juga diperkuat dari hasil pemeriksaan nadi korban di klinik STIP yang ternyata sudah tak berdetak.

Baca juga: Driver Gojek Disorot Saat Penangkapan Bendesa Adat Berawa, Begini Peran Penyidik Kejati Bali Itu

Fakta Putu Satria dibopong beberapa orang usai penganiayaan dibenarkan Kapolres Metro Jakarta Utara, Komisaris Besar Gidion Arif Setyawan.

Ia mengatakan korban sempat dibopong dari toilet ke klinik kampus.

"(Di klinik) nadinya sudah berhenti dan mungkin tanda-tanda hilangnya nyawa," ujar Gidion di lokasi kejadian, Jumat (3/5/2024).

Baca juga: Kuta Bali Gempar! Gadis 23 Tahun Ditikam Membabi Buta, Leher Dipatahkan Agar Masuk ke Koper

Pihak kepolisian telah mengamankan rekaman CCTV untuk dijadikan barang bukti tewasnya P.

Gidion berujar rekaman CCTV tersebut sudah dapat menjadi bukti kuat dugaan perpeloncoan di STIP.

"Saya rasa CCTV cukup clear untuk menceritakan rangkaian peristiwa itu, karena kegiatan ada di kamar mandi."

"Ini kegiatan yang memang tidak dilakukan secara resmi oleh lembaga, ini kegiatan perorangan mereka. Jadi, tidak dilakukan secara terstruktur ataupun kurikulum," papar Gindion.

Gidion menyebut korban diduga mengalami kekerasan dari sejumlah senior di tingkat 2.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved