Mahasiswa STIP Tewas

'Sakit Dadaku' Kata Putu Satria Pada Kekasihnya,Ternyata Sering Diincar Senior & Dipukul Ulu Hatinya

Pemuda di Desa Gunaksa, khususnya teman-teman nongkrong dari Putu Satria merasa sangat kehilangan pemuda berusia 19 tersebut.

ISTIMEWA
Putu Satria diketahui sempat curhat ke kesasihnya, dan mengaku sering menjadi sasaran pemukulan oleh seniornya. Bahkan Putu Satria sempat menunjukan foto ulu hatinya yang lebam, akibat penganiayaan sekitar bulan Desember lalu. 

Kedua orangtua Putu Satria, Ketut Suastika dengan Nengah Rusmini berusaha tegar, melepas putra sulung mereka. Sesekali Rusmini meneteskan air mata, saat memeluk foto sang putra.

Rangkaian upacara pengabenan dimulai pukul 09.00 Wita. Pengabenan dipimpin langsung sulinggih, Ida Pedanda Gede Kemenuh dari Griya Jelantik, Desa Tojan, Klungkung. Jenazah menuju ke Setra Desa Gunaksa sekitar Pukul 12.30 Wita.

Diawali dengan upacara pelepasan secara kedinasan oleh pihak STIP. Lalu jenazah diangkat oleh krama banjar menuju ke bade, yang telah disiapkan oleh keluarga untuk mengantar jenazah ke Setra Gunaksa.

Suana haru terasa, saat jenazah Putu Satria diantar oleh ribuan warga menuju Setra Gunaksa dengan menempuh jarak sekitar 1 km.

Tidak hanya keluarga, duka mendalam juga dirasakan rekan-rekan Putu Satria di Desa Gunaksa. Seperti yang diungkapkan teman karib Putu Satria, Made Dedi Ari Ananda Putra (19).

Ia mengaku sangat kaget, saat mendapat kabar Putu Satria meninggal dunia akibat kekerasan senior di STIP.

Terakhir Made Dedi bertemu dengan Putu Satria saat malam pengerupukan, atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

"Saat menjelang Hari Raya Nyepi dia (Putu Satria) pulang. Sempat angkat ogoh-ogoh sama-sama," ungkap Made Dedi.
Menurut Made Dedi, teman satu tongkrongannya itu tidak pernah sekalipun menceritakan kekerasan yang dialaminya selama menempuh pendidikan di STIP. "Padahal pernah saya tanya, bagaimana sekolahnya di sana (STIP)? Dia bilang, aman. Gitu saja," ungkap Made Dedi.

Paman dari Putu Satria, Nyoman Budiarta mewakili keluarga mengatakan, pihak keluarga setelah upacara pengabenan akan tetap berjuang mendapatkan keadilan atas meninggalnya Putu Satria.

"Harapan kami tetap kasus ini diungkap seterang-terangnya, para pelaku agar mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Mudah-mudahan kepolisian bisa ungkap semuanya dengan gamblang dan transparan," ujar Nyoman Budiarta. (mit/tribunnews)

MARAH - Pemuda di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali. Beramai-ramai menghancurkan baliho bergambar Tegar Rafi Sanjaya, 
 salah satu pelaku pembunuhan Putu Satria, pada Jumat (10/5/2024).
MARAH - Pemuda di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali. Beramai-ramai menghancurkan baliho bergambar Tegar Rafi Sanjaya, salah satu pelaku pembunuhan Putu Satria, pada Jumat (10/5/2024). (Eka Mita Suputra/Tribun Bali)

Ramai-ramai Hancurkan Baliho Bergambar Pelaku

PEMUDA di Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan ramai-ramai menghancurkan baliho bergambar Tegar Rafi Sanjaya, terduga pelaku penganiayaan Putu Satria Ananta Rustika atau yang akrab disapa Rio.

Hal itu sebagai bentuk kemarahan rekan-rekan sepergaulan Putu Satria, dengan kejadian yang menimpa sahabat mereka.

"Kami hancurkan agar tidak ada lagi kasus seperti yang dialami sahabat kami (Putu Rio)," ungkap seorang rekan sepergaulan Putu Satria, Kadek Deo, Jumat (10/5).

Baliho bergambar pelaku kekerasan terhadap Putu Satria itu, sengaja dipasang oleh pemuda di Desa Gunaksa, Kamis (9/5) malam. Baliho berukuran 4x6 meter itu bertuliskan "Senioritas Bukan pangkat untuk Membunuh".

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved