Berita Bali

BONGKAR Kasus Oplosan LPG! Wayan Setiawan Sebut: “Kalau Polisi Tak Tahu, Itu Lucu”

Dia mengaku, bahwa kelangkaan gas elpiji yang terjadi di Bali, khususnya Badung, disebabkan karena adanya pengoplosan.

TB/ Arini Valentya Chusni
Ilustrasi - Masyarakat Bali, khususnya Badung digemparkan, dengan pengakuan warga asal Bongkasa yang diketahui bernama I Wayan Setiawan. Dia mengaku, bahwa kelangkaan gas elpiji yang terjadi di Bali, khususnya Badung, disebabkan karena adanya pengoplosan. 

Pihaknya mengaku saat terjadi kelangkaan elpiji beberapa hari lalu, dirinya langsung berkoordinasi dengan Pertamina. Bahkan pihak Pertamina menyebutkan sudah mendistribusikan gas sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Pertamina katanya sudah mendistribusikan sesuai kebutuhan. Jadi Pertamina memberikan ke agen dan agen ke pangkalan-pangkalan. Namun kenyataannya setelah kita cek pangkalan juga ada yang kosong," jelasnya.

Ilustrasi - Saat dikonfirmasi Tribun Bali mengenai apakah ada temuan tindak pengoplosan itu di Bali, Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan hanya menyarankan masyarakat yang menemukan kejahatan tersebut agar segera melapor ke polisi dan akan diatensi penuh.
Ilustrasi - Saat dikonfirmasi Tribun Bali mengenai apakah ada temuan tindak pengoplosan itu di Bali, Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan hanya menyarankan masyarakat yang menemukan kejahatan tersebut agar segera melapor ke polisi dan akan diatensi penuh. (ISTIMEWA)

"Pendistribusian sampai ke pangkalan, kata Pertamina, agar Harga Eceran Tertinggi (HET) tidak jauh dari Rp 18.000. Sehingga Pertamina memiliki regulasi baru mendistribusikan hanya sampai pangkalan, baik yang milik Pertamina atau pihak ketiga yang sudah bekerjasama dengan pertamina," sambungnya.

Melihat kondisi yang jauh berbeda dari realita di lapangan, pihaknya menduga ada penimbunan dan pengoplosan elpiji hingga mengakibatkan gas langka.

Pihaknya akan melakukan rapat koordinasi kembali bersama tim migas guna menindaklanjuti masalah itu. Dalam tim Migas disebutkan ada Pertamina, Hiswana Migas, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Satpol PP, Polres Badung, SDA Badung, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dan Dinas Koperasi dan Perdagangan Badung.

"Nanti kami akan rapatkan dengan tim migas. Nah mengenai adanya pengoplosan itu sudah ranah hukum. Jadi kami harapkan instansi terkait yang menindaklanjuti. Kami sifatnya hanya mengkoordinasikan," katanya. (gus)

Lelut Keliling 2 Jam Cari Gas Melon

ELPIJI 3 kg atau gas melon kembali langka di Kabupaten Gianyar. Bahkan tak sedikit warga yang sampai menghabiskan waktu berjam-jam mencari gas melon, dan tetap tidak dapat.

Informasi dihimpun Tribun Bali, Selasa (4/6), kelangkaan ini tidak terjadi bersamaan. Seperti di beberapa desa/kelurahan di Kecamatan Gianyar dan Ubud, kelangkaan terjadi sejak sebulan lalu. Sementara di beberapa desa di Kecamatan Sukawati, baru terjadi sekitar dua hari lalu.

Juni 2024, Ketut Lelut, warga Sukawati mengakui hal tersebut. Kata dia, di Desa Sukawati, gas baru langka sekitar dua hari lalu. Pihaknya sendiri telah menghabiskan waktu dua jam untuk berkeliling mencari gas melon, semua warung telah didatangi, begitu juga SPBU.

Ia juga sampai menelepon teman-temannya di luar desa dan luar kecamatan, untuk mendapatkan informasi di mana ada gas melon. Namun tetap saja ia tidak menemukan gas melon. "Saya sampai 2 jam keliling, tidak nemu. Sampai telepon teman di luar Sukawati, katanya ada, pas ke sana tidak ada,” ujarnya.

Selama belum mendapatkan gas melon, ia pun memanfaatkan kompor listrik kecil. "Kompor listrik untuk masak lauk masih bisa. Tapi untuk masak air tidak bisa, karena kompornya kecil," ujar Lelut.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, rupanya tidak semua kawasan langka gas melon. Ni Ketut Suniari, pedagang makanan di Kota Gianyar, mengatakan, di desanya, Desa Tulikup, masih gampang menemukan gas melon.

Namun harganya naik dari Rp 22 ribu, kini menjadi Rp 23 ribu. "Di tempat saya masih gampang, ini baru kemarin beli satu. Tapi harganya Rp 23 ribu, naik lagi seribu," ujarnya.

Kepala Disperindag Gianyar, Luh Gede Eka Suary belum bisa diminta konfirmasi terkait kondisi ini, sebab yang bersangkutan sedang sakit.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved