Berita Bali
BONGKAR Kasus Oplosan LPG! Wayan Setiawan Sebut: “Kalau Polisi Tak Tahu, Itu Lucu”
Dia mengaku, bahwa kelangkaan gas elpiji yang terjadi di Bali, khususnya Badung, disebabkan karena adanya pengoplosan.
Pihaknya mengaku saat terjadi kelangkaan elpiji beberapa hari lalu, dirinya langsung berkoordinasi dengan Pertamina. Bahkan pihak Pertamina menyebutkan sudah mendistribusikan gas sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
"Pertamina katanya sudah mendistribusikan sesuai kebutuhan. Jadi Pertamina memberikan ke agen dan agen ke pangkalan-pangkalan. Namun kenyataannya setelah kita cek pangkalan juga ada yang kosong," jelasnya.

"Pendistribusian sampai ke pangkalan, kata Pertamina, agar Harga Eceran Tertinggi (HET) tidak jauh dari Rp 18.000. Sehingga Pertamina memiliki regulasi baru mendistribusikan hanya sampai pangkalan, baik yang milik Pertamina atau pihak ketiga yang sudah bekerjasama dengan pertamina," sambungnya.
Melihat kondisi yang jauh berbeda dari realita di lapangan, pihaknya menduga ada penimbunan dan pengoplosan elpiji hingga mengakibatkan gas langka.
Pihaknya akan melakukan rapat koordinasi kembali bersama tim migas guna menindaklanjuti masalah itu. Dalam tim Migas disebutkan ada Pertamina, Hiswana Migas, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Satpol PP, Polres Badung, SDA Badung, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) dan Dinas Koperasi dan Perdagangan Badung.
"Nanti kami akan rapatkan dengan tim migas. Nah mengenai adanya pengoplosan itu sudah ranah hukum. Jadi kami harapkan instansi terkait yang menindaklanjuti. Kami sifatnya hanya mengkoordinasikan," katanya. (gus)
Lelut Keliling 2 Jam Cari Gas Melon
ELPIJI 3 kg atau gas melon kembali langka di Kabupaten Gianyar. Bahkan tak sedikit warga yang sampai menghabiskan waktu berjam-jam mencari gas melon, dan tetap tidak dapat.
Informasi dihimpun Tribun Bali, Selasa (4/6), kelangkaan ini tidak terjadi bersamaan. Seperti di beberapa desa/kelurahan di Kecamatan Gianyar dan Ubud, kelangkaan terjadi sejak sebulan lalu. Sementara di beberapa desa di Kecamatan Sukawati, baru terjadi sekitar dua hari lalu.
Juni 2024, Ketut Lelut, warga Sukawati mengakui hal tersebut. Kata dia, di Desa Sukawati, gas baru langka sekitar dua hari lalu. Pihaknya sendiri telah menghabiskan waktu dua jam untuk berkeliling mencari gas melon, semua warung telah didatangi, begitu juga SPBU.
Ia juga sampai menelepon teman-temannya di luar desa dan luar kecamatan, untuk mendapatkan informasi di mana ada gas melon. Namun tetap saja ia tidak menemukan gas melon. "Saya sampai 2 jam keliling, tidak nemu. Sampai telepon teman di luar Sukawati, katanya ada, pas ke sana tidak ada,” ujarnya.
Selama belum mendapatkan gas melon, ia pun memanfaatkan kompor listrik kecil. "Kompor listrik untuk masak lauk masih bisa. Tapi untuk masak air tidak bisa, karena kompornya kecil," ujar Lelut.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, rupanya tidak semua kawasan langka gas melon. Ni Ketut Suniari, pedagang makanan di Kota Gianyar, mengatakan, di desanya, Desa Tulikup, masih gampang menemukan gas melon.
Namun harganya naik dari Rp 22 ribu, kini menjadi Rp 23 ribu. "Di tempat saya masih gampang, ini baru kemarin beli satu. Tapi harganya Rp 23 ribu, naik lagi seribu," ujarnya.
Kepala Disperindag Gianyar, Luh Gede Eka Suary belum bisa diminta konfirmasi terkait kondisi ini, sebab yang bersangkutan sedang sakit.
UPAYA PHDI Denpasar Ringankan Beban Umat, Gelar Upacara Menek Kelih Hingga Metatah Massal |
![]() |
---|
Gelar Aksi Damai ke Kantor Gubernur, Partai Buruh Exco Bali Tuntut Stop PHK dan Hapus Outsourcing |
![]() |
---|
Kejati Bali Dorong Penanganan Tindak Pidana Korupsi Lewat Mekanisme DPA, Lazim di Luar Negeri |
![]() |
---|
Pemprov Bali Nantikan Pusat Untuk Penentuan Lokasi Tersus LNG |
![]() |
---|
Cuaca Buruk, Pelabuhan Gilimanuk Bali Ditutup Hampir Dua Jam, Antrean Kendaraan Mengular |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.