Berita Gianyar

Upacara Nilapati Digelar Desa Batuan, Simak Maknanya Dalam Pitra Yadnya Berikut Ini

Kemudian abunya dimasukkan ke dalam 'bungkak nyuh gading' lalu ditanam di belakang palinggih rong tiga di masing-masing sanggah.

ISTIMEWA
Prosesi nilapati dalam upacara Pitra Yadnya di Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, Jumat 13 September 2024. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Desa Adat Batuan, Sukawati, Gianyar, Bali telah menjalani proses panjang upacara Pitra Yadnya dalam bentuk ngaben massal.

Dalam acara puncak, mereka menggelar upacara nyekah nilapati, berlangsung dari Jumat 13 September - 14 September 2024. Upacara ini merupakan prosesi penyucian dan meningkatkan roh leluhur.

Sebelum sampai ke prosesi nilapati, sebelumnya telah berlangsung puncak ngaben massal yang diikuti 30 sawa pada Sabtu 7 September 2024.

Dalam proses pembakaran, ngaben massal di Desa Adat Batuan tidak menggunakan petulangan mewah berupa lembu, singa atau bentuk lainnya. Melainkan hanya bebean atau petulangan sederhana.

Baca juga: TANGIS Istri Pecah Saat Mendegar Jaksa dan Penasihat Hukum Berharap Nyoman Sukena Bebas, Akui Kapok!

Baca juga: GAGAL Bawa Emas PON XXI, Mata Desak Made Rita Berkaca-kaca, Puji Kehebatan Rajiah Sallsabillah

Pertimbangannya, karena desa adat ini mengedepankan filosofi kesetaraan dan kebersamaan. Pengurus upacara takut jika petulangan tak dibatasi.

Sebab akan timbul ego masing-masing individu untuk membuat petulangan mewah, yang dapat menimbulkan persaingan antar individu. Kondisi tersebut juga menjadi penyebab membeludaknya pengeluaran upacara. 

Dalam hal pendanaan, upacara Pitra Yadnya ini dibiayai sebagian besar dari Desa Adat Batuan. Sebab desa ini memiliki penghasilan besar, dari kunjungan wisatawan yang berwisata spiritual ke sini.

Perkiraan biaya yang dihabiskan sekitar Rp 300 juta, komposisi pembiayaan berasal dari 50 persen dana desa adat, 30 persen LPD Batuan, sisanya krama pangarep, serta bantuan pemerintah dan swasta. 

Sesuai aturan adat, upacara Pitra Yadnya massal di Desa Adat Batuan digelar setiap 3 tahun sekali. Ketua Umum Pitra Yadnya Desa Batuan, I Wayan Sudha, menjelaskan bahwa dalam upacara nilapati diikuti oleh 104 puspa sekah dan 1 sangge Bhatara Lingga.

Tingginya jumlah puspa sekah dibandingkan sawa saat ngaben, dikarenakan ada beberapa masyarakat luar desa adat yang mengikuti prosesi ini. Serta, ada juga sawa yang sudah disekah, kembali mengikuti upacara ini. 

Sebab, melalui upacara nilapati ini, kata dia, menyimpan harapan Hyang Pitara atau orang yang telah meninggal dan diupacarai dalam Pitra Yadnya, dapat menyatu dengan Brahman atau Sang Pencipta/moksa. "Karena sesungguhnya tujuan agama Hindu adalah Moksartham Jagadhita ya Ca Iti Dharma," jelasnya.

Adapun prosesi dalam upacara nilapati ini, kata dia, daksina linggih yang menyimbolkan Bhatara Hyang (roh orang meninggal yang diupacarai) akan dipralina (dimusnahkan) dengan cara dibakar.

Kemudian abunya dimasukkan ke dalam 'bungkak nyuh gading' lalu ditanam di belakang palinggih rong tiga di masing-masing sanggah.

Sudah menjelaskan, hal tersebut merupakan simbol bahwa Dewa Pitara atau Hyang Pitara kembali ke nol atau kosong (sunia).

"Bhatara Hyang yang telah disucikan kini ditempatkan di ruang paling tengah, dari palinggih rong tiga, dengan harapan Hyang Pitara bisa menyatu dengan Brahman," ujar pensiunan ASN Pemkab Gianyar ini.
 
Rangkaian prosesi nilapati dimulai dari ngangkid di Pantai Purnama, yang dipimpin Ida Pandita Mpu Kidul Dwija Maha Sidhi Manik Mas, dari Griya Sakti Kidul Pancaka Tirta Manik Mas Batuan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved