Berita Denpasar
Polemik Penggantian Nama Jalan dan Pantai hingga Akses Dibatasi, Ini Kata BTID
Menanggapi sejumlah polemik yang terjadi antara masyarakat Desa Adat Serangan dengan pihak PT Bali Turtle Island Development (BTID)
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Polemik Penggantian Nama Jalan dan Pantai hingga Akses Dibatasi, Ini Kata BTID
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menanggapi sejumlah polemik yang terjadi antara masyarakat Desa Adat Serangan dengan pihak PT Bali Turtle Island Development (BTID) mulai dari perubahan nama ruas jalan, perubahan nama pantai hingga dipasangnya pelampung pembatas.
Atas hal tersebut, akhirnya manajemen BTID memberikan klarifikasi terbuka.
Baca juga: Komisi 2 DPRD Bali Akan Panggil PT. BTID, Parta Pertanyakan Perubahan Nama Pantai Serangan
Pertemuan hari ini diadakan di UID Campus KEK Kura Kura Bali yang dihadiri oleh perwakilan PT BTID, anggota DPR RI dari fraksi PDIP Nyoman Parta dan Adi Wiryatama, anggota DPD Bali Ni Luh Djelantik, anggota DPRD Kota Denpasar Putu Melati Purbaningrat Yo.
Turut hadir perwakilan dari Bendesa Adat Serangan dan warga masyarakat adat Serangan serta perwakilan dari PT BTID.
"Hari ini kami mengadakan semacam rapat dengar pendapat umum bersama dua anggota DPR RI dari fraksi PDIP kemudian satu anggota DPD RI dan satu anggota DPRD Kota Denpasar. Kemudian hadir pula perwakilan semeton masyarakat Desa Serangan," ujar Presiden Komisaris PT BTID, Tantowi Yahya.
Menurutnya pertemuan kali ini sangat berharga sekaligus bersejarah karena dalam kesempatan ini mereka merasa diberikan semacam hak jawab atas berbagai tuduhan, berita-berita miring, berita-berita dipelintir bahkan difitnah yang ditujukan kepada Kura Kura Bali dan BTID.
Baca juga: PT. BTID Pastikan Pembangunan Marina di KEK, Tidak Negasikan Potensi Desa Serangan
"Syukur alhamdulillah, astungkara tadi kami jelaskan dengan baik dan juga bisa dimengerti oleh para anggota dewan dan juga bisa dimengerti oleh perwakilan masyarakat yang hadir."
"Rapat kami buat terbuka karena dihadiri juga oleh rekan-rekan media baik cetak, online, elektronik maupun sosial media itu menandakan bahwa tidak ada yang kami sembunyikan."
"Semuanya itu terbuka, semuanya apa adanya dan itu diapresiasi oleh semua yang hadir. Jadi insyaallah setelah pertemuan ini situasinya akan menjadi jauh lebih baik hubungan kami dengan masyarakat desa serangan akan menjadi jauh lebih baik, jauh lebih hangat."
"Kemudian hubungan kami dengan wakil-wakil kita di DPR RI, DPD Bali dan juga DPRD Denpasar bisa terjalin lebih kompak lagi," jelasnya.
"Lebih lanjut Tantowi menyampaikan kita sudah hidup berdampingan hampir 30 tahun baik-baik saja, oke-oke saja, terjadi simbiosis mutualistis saling tergantung, saling memerlukan antara kami investor dengan masyarakat di Desa Serangan dan juga masyarakat Bali pada umumnya."
"Itu harus kita jaga jangan kita terprovokasi oleh berita-berita yang jelas ingin memecah belah kita, ingin membuat suasana kusut, ingin membuat iklim investasi menjadi terganggu. "
"Tadi di depan para anggota dewan kami menjelaskan apa adanya, tidak ada yang kami tutup-tutupi kemudian para anggota dewan juga memberikan tanggapan yang cukup sportif, sangat positif juga memberikan masukan apa adanya hasil aspirasi masyarakat Bali khususnya Desa Serangan," paparnya.
"Ada beberapa hal yang kami bahas tadi dan sebagian besar adalah isu-isu yang aktual di Bali saat ini. Sudah langsung kami berikan tanggapan, ada yang langsung kami bisa berikan semacam jawaban."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Nyoman-Kemu-Antara-selaku-masyarakat-Serangan-keluhkan-adanya-jaring-pembatas-laut.jpg)