GALUNGAN

Luh Wirasmini Kebanjiran Pesanan, Perajin Gula Merah di Besan Klungkung Kesulitan Bahan Baku

Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, kebutuhan masyarakat akan gula merah mengalami peningkatan signifikan.

ISTIMEWA
GULA MERAH - Ni Luh Wirasmini saat membuat pembuat gula merah secara tradisional di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. 

TRIBUN-BALI.COM - Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, kebutuhan masyarakat akan gula merah mengalami peningkatan signifikan.

Namun, di tengah lonjakan permintaan tersebut, para pengrajin gula tradisional di Desa Besan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, justru dilanda krisis bahan baku.

Salah satu pembuat gula merah tradisional, Ni Luh Wirasmini mengungkapkan, ia mulai kebanjiran pesanan sejak sebulan terakhir. Namun, ketersediaan nira kelapa sebagau bahan utama pembuatan gula merah tidak mencukupi. 

Baca juga: RPH Hanya Potong 400 Ekor Babi, Aktivitas Menurun, Distan Denpasar Cek Daging Babi di 34 Pasar

Baca juga: Bandara Ngurah Rai Meriahkan Paskah dan Galungan Kuningan dalam Keindahan Budaya Bali

“Sudah biasa menjelang hari raya begini permintaan tinggi. Tapi tuak kelapanya sedikit, jadi tidak bisa produksi banyak,” ujarnya pada Senin (21/4).

Dalam kondisi normal, Wirasmini bisa memproduksi lebih banyak. Namun saat ini, ia hanya mampu menghasilkan sekitar 5 kilogram per hari.

Padahal, harga gula merah sedang naik, dari Rp 30 ribu menjadi Rp 40 ribu per kilogram. “Banyak yang pesan dari luar daerah, terutama Denpasar. Biasanya untuk bahan es puter. Tetapi ya, saya kewalahan,” tambahnya.

Menurutnya sudah sulit mencari orang yang mau memanjat pohon kelapa, untuk menyapa nira kelapa. Bahkan anak-anak muda menurutnya sudah tidak ada yang mau, menjadi penyadap nira kelapa.

Hal senada disampaikan I Nyoman Suwela, perajin lainnya di desa yang sama. Melihat kesulitan memperoleh nira, ia memilih mengalihkan produksinya dari gula batok ke gula semut (sejenis gula kristal) yang lebih tahan lama dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Membuat gula semut memang lebih lama, bisa dua jam prosesnya. Tetapi bisa sampai delapan kilogram per hari,” jelas Suwela. 

Ia menjual gula semut produksinya dengan harga Rp 50 ribu per kilogram, dan sebagian besar pembelinya berasal dari pasar oleh-oleh di Denpasar. Meski menghadapi tantangan, para perajin tetap berupaya memenuhi kebutuhan pasar jelang hari raya. (mit)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved