Berita Bali
Gantikan Ibunya yang Meninggal, Nadia Jadi Jemaah Haji Termuda dari Bali
Nadia Rahmatika (21) merupakan jemaah haji termuda dari Bali di Tahun 2025.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Gantikan Ibunya yang Meninggal, Nadia Jadi Jemaah Haji Termuda dari Bali
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Nadia Rahmatika (21) merupakan jemaah haji termuda dari Bali di Tahun 2025.
Ketika ditemui di pemberangkatan dan pelepasan Jemaah Haji Provinsi Bali 1446 H/2025 M di Gedung Wiswasabha Denpasar pada, Selasa 13 Mei 2025, Nadia menjelaskan bahwa ia menggantikan posisi ibunya.
“Saya sampai di titik ini menggantikan posisi ibu saya yang telah meninggal dunia pada November 2024 kemarin karena sakit gagal ginjal kronis. Saya menggantikan kursi beliau,” ucap, Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam tersebut.
Baca juga: FIX! 83 Calon Jemaah Haji Buleleng Dipastikan Berangkat Ke Tanah Suci Tahun Ini, 5 Orang Batal
Sebelumnya, Ibu Nadia sudah mendaftarkan diri untuk menjadi jemaah Haji pada Tahun 2010 dengan Ayah Nadia.
Maka dari itu nantinya Nadia akan berangkat haji dengan ayahnya yang kini berusia 60 Tahun.
“Alhamdulillah persiapan sudah lancar semua, tinggal nanti memantapkan hati saja untuk berangkat ke tanah suci. Karena saya akan mengurus bapak saya, jadinya saya mengurus keperluan beliau, keperluan pribadi, paspor, visa dan lain-lain,” imbuhnya.
Baca juga: Warga Muslim Bali Antusias Buka Tabungan Haji di BSI, Setoran Awal Minimal Rp 100 Ribu
Nadia merupakan anak bungsu perempuan dari empat bersaudara.
Alasan ia dipilih untuk menggantikan ibunya, sebab ia belum menikah sehingga yang diprioritaskan untuk jemaah yang belum berkeluarga.
Nantinya Nadia dan ayahnya akan ikut rombongan haji ke Surabaya pada 21 Mei 2025.
Kurang lebih ibadah haji ini akan memakan waktu hingga 40 hari.
Baca juga: Rakernas di Bali, Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia Bahas Layanan Era Digital-Wisata Halal
Berbagai persiapan untuk kesehatan pun telah disiapkan di antaranya vitamin penambah darah, vitamin c, paracetamol.
Sementara untuk ayahnya karena menderita penyakit gula, Nadia telah siapkan obat-obatan khusus.
“Sebenarnya perasaan saya antara senang dan sedih. Karena di usia saya yang muda ini Allah izinkan saya berangkat ke tanah suci."
"Di sisi lain juga saya sedih karena ibu saya seharusnya layak untuk ke sana. Harapannya saya bisa membadalkan ibu saya lagi ke sana dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” tutupnya. (*)
Berita lainnya di Haji
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.