Berita Buleleng
Tiga Desa Wisata di Buleleng, Wakili Bali Dalam Ajang Best Tourism Village ke V
Keikutsertaan tiga desa wisata Buleleng dalam ajang BTV diawali dengan usulan ke Kementerian Pariwisata.
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - 13 Desa wisata di Indonesia, didaftarkan dalam ajang Best Tourism Village (BTV) ke-V.
Dari 13 desa wisata itu, tiga di antaranya merupakan desa wisata dari provinsi Bali, dan seluruhnya berada di Kabupaten Buleleng, Bali.
Untuk diketahui, BTV merupakan ajang internasional yang digagas oleh salah satu badan PBB yakni United Nations World Tourism Organization (UNWTO) atau UN Tourism.
Adapun tiga desa wisata dari Kabupaten Buleleng di antaranya Desa Les Kecamatan Tejakula; Desa Sudaji Kecamatan Sawan; dan Desa Pemuteran Kecamatan Gerokgak.
Baca juga: Inovasi Eco-Edu Tourism sebagai Kunci Penguatan Desa Wisata Baha di Kabupaten Badung
Kepala Dinas Pariwisata Gede Dody Sukma Oktiva Askara mengungkapkan,
Pemerintah Kabupaten Buleleng terus berupaya meningkatkan prestasi desa wisata di Buleleng. Salah satunya dengan mengikuti ajang internasional ini.
Dikatakan dia, tiga desa wisata ini sebelumnya sudah mendapatkan penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Contoh Desa Les yang meraih penghargaan desa wisata terbaik ADWI 2024.
Demikian pula Desa Sudaji yang sempat meraih penghargaan dari Asean Tourism Awards 2025 untuk kategori 5th ASEAN Homestay Award.
"Desa Pemuteran juga pernah meraih penghargaan internasional, yakni ASEAN Tourism Standard kategori Community-Based Tourism (CBT) pada tahun 2023," ungkapnya, Jumat 30 Mei 2025.
Keikutsertaan tiga desa wisata Buleleng dalam ajang BTV diawali dengan usulan ke Kementerian Pariwisata.
Dody mengaku ada sejumlah berkas yang harus diisi, mirip dengan Jadesta seperti lomba ADWI (Anugrah Desa Wisata Indonesia).
Bedanya, imbuh Dody, data yang diminta sangat rigid dan detail. Misalnya jumlah penginapan di tiap desa wisata, jumlah kamarnya, jumlah kamar yang tersedia, jumlah karyawannya baik laki-laki dan perempuan, hingga rentang usia karyawan.
Tak hanya itu, pihaknya juga sedikit mengalami kendala saat mengisi tentang jumlah kunjungan wisatawan.
Dody membandingkan dengan Jatiluwih di Tabanan yang merupakan satu kawasan dengan 2 pos tiket, sehingga mudah menghitung kunjungan wisatawan.
"Mungkin karena Jatiluwih begitu masuk ke desanya, wisatawan sudah mendapatkan benefit dari apa yang dia bayar, yakni pemandangan sawah terasering yang luar biasa," ucapnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.