Sampah di Bali
Koster Kumpulkan Kades, Lurah dan Bendesa Adat di Bali, Minta Serius Tangani Sampah
"Jangan hanya mengejar jabatan, tapi tidak serius menjaga alam," pekik Gubernur Bali, I Wayan Koster dalam pertemuan dengan perbekel, lurah dan bende
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Koster Kumpulkan Kades, Lurah dan Bendesa Adat di Bali, Minta Serius Tangani Sampah
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - "Jangan hanya mengejar jabatan, tapi tidak serius menjaga alam," pekik Gubernur Bali, I Wayan Koster dalam pertemuan dengan perbekel, lurah dan bendesa adat se Bali, di Wantilan Pura Samuantiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Jumat 11 Juli 2025.
Dalam pertemuan tersebut, Koster meminta agar masalah sampah harus segera selesai.
Di tengah pemaparan masalah sampah, Koster pun sempat menegur sejumlah undangan yang kedapatan ngobrol, tak mendengarkan pemaparannya.
Baca juga: Pemkot Denpasar Akan Pekerjakan Warga Miskin dan Disabilitas untuk Maksimalkan Pengelolaan Sampah
"Jangan hanya mengejar jabatan. Tapi tidak serius bekerja, tak serius mengurus alam. Kalau kita tak merawat Bali ini, alam akan menghukum kita."
"Itulah sebabnya masalah sampah ini tak bisa dibiarkan terus menerus," ujar Koster.
Koster juga menyampaikan bahwa para pejabat di Bali harusnya malu, jika persoalan sampah ini harus ditangani oleh pemerintah pusat.
"Sampai pemerintah pusat turun tangan menangani sampah di Bali, malu kita. Inilah kenapa harus kita sikapi secara serius. Kita sebagai orang Bali yang hidup di Bali, dapat rejeki di sini, masak kita tidak serius," tandasnya.
Baca juga: TPA Ilegal di Buleleng Bali, Ayu Khawatir Anak-anak Kena ISPA Hingga Kanker Akibat Hirup Asap Sampah
Adapun kondisi sampah di Bali saat ini menurut Koster, yakni sumber sampah terbesar atau 60 persen bersumber dari desa/kelurahan dan desa adat.
Terdapat juga sampah industri, komunitas, dan lembaga. Karena itu, menurut Koster, keberhasilan penanganan sampah berbasis sumber dan pemberantasan penggunaan plastik sekali pakai, 60 persen tergantung desa/kelurahan dan desa adat.
"Yang bertanggung jawab di sini adalah lurah, perbekel dan bendesa," ujar Koster.
Adapun kabupaten/kota di Bali yang menjadi penyumbang sampah terbesar setiap hari.
Baca juga: VIDEO Usai Trotoar Rusak di Gianyar Bali, Kini Sampah Menumpuk Di Jalan Goa Gajah, Coreng Pariwisata
Peringkat pertama adalah Kota Denpasar dengan volume sampah 1.000 ton per hari, disusul Gianyar 562 ton per hari, Badung 547 ton, Buleleng 413 ton.
Total sampah di Bali 3.436 ton per hari. Pola sampah yang berjalan selama ini, sebanyak 23 persen sampah dibuang sembarangan di kawasan lingkungan, sebanyak 43 persen dibuang ke TPA Suwung, TPA Temesi dan TPA Tabanan.
"TPA sekarang sudah pada penuh, kita harus segera menangani ini harus segera tuntas, tak ada pilihan lain. Karena itu lah dilakukan pertemuan ini," tegasnya.
Gubernur Koster memaparkan capaian Pergub 2018 tentang larangan penggunaan kresek dan pipet.
Kata dia, Pergub ini berhasil di lingkup hotel, restoran, pasar swalayan, dan toko modern.
Namun di pasar tradisional gagal.
"Di pasar tradisional gagal. Kendalanya, karena kurangnya pemahaman, pedagang dan masyarakat terbiasa pakai tas kresek," ujarnya.
Baca juga: Coreng Pariwisata, Sampah Menumpuk Di Jalan Goa Gajah Gianyar Bali
Sementara Pergub soal pengelolaan sampah berbasis sumber yang dicetuskan tahun 2019.
Hal ini juga belum maksimal. Sebab, dari tahun 2020 sampai Juni 2025, baru terbangun 294 atau 46 persen TPS3R dari total desa adat, desa/kelurahan yang ada.
Namun beberapa TPS3R yang sudah ada inipun, kata Koster, terdapat yang tidak berjalan maksimal.
"Ada TPS3R yang tidak jalan secara maksimal. Kendalanya karena keterbatasan anggaran, masalah ketersediaan lahan, dan ada pula kepala desanya belum temukan cara yang pelat," ungkapnya.
Sementara untuk Perbup 2020 tengang perlindungan sumber air seperti sungai, danau, laut, dan mata air. Koster melihat masih banyak yang tercemar sampah.
"Ini harus segera kita hentikan. Semua upaya yang kita lakukan masih jauh dari harapan. Belum sesuai target. Keseriusan semua untuk menangani sampah belum. Bupati, lurah, perbekel, dan bendesa adat belum kuat.
Mau dibiarkan ini terus, sampai Bali rusak? Isu sampah sudah jadi isu nasional dan global karena Bali adalah tempat wisata internasional.
10,5 juta wisatawan domestik, dan 6,4 juta wisatawan mancanegara. Kedepan, tidak mau tahun gerakan Bali bersih sampah harus berhasil.
Pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah berbasis sumber, sudah harus tercapai. Ini bisa dilakukan jika ada kemauan serius," tegasnya.
Koster meyakini hal tersebut bisa terwujud, karena selama ini ada desa yang berhasil menerapkan. Di antaranya, Desa Punggul (Badung), Desa Taro (Gianyar), Desa Adat Bindu (Badung), dan Desa Adat Cemenggaon (Gianyar). (*)
Berita lainnya di Sampah di Bali
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.