Pendidikan
LAPTOP Chromebook di Klungkung Banyak Rusak? TK di Jembrana Terbanyak Terima Bantuan di Bali!
Kepala Sekolah SD N 1 Gunaksa, Wayan Agus Kabiana menjelaskan, laptop berbasis Chromebook tersebut merupakan bantuan pemerintah pusat tahun 2020 lalu.
TRIBUN-BALI.COM - Belasan laptop berbasis Chromebook tersimpan rapi di rak estalase kaca di SD N 1 Gunaksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Kamis (17/7). Namun, sebagian besar laptop bantuan pemerintah pusat itu sudah rusak. Pihak sekolah mengaku kebingungan untuk memperbaikinya.
Bahkan disarankan mengirim laptop tersebut ke Jakarta, karena harus diperbaiki oleh teknisi khusus. Belasan laptop berbasis Chromebok itu, saat ini hanya menjadi penghuni estalase kaca. Menjadi aset sekolah, namun tidak lagi termanfaatkan.
Kepala Sekolah SD N 1 Gunaksa, Wayan Agus Kabiana menjelaskan, laptop berbasis Chromebook tersebut merupakan bantuan pemerintah pusat tahun 2020 lalu. Sesuai berita acara, laptop Chromebook diterima pada 17 Desember 2020 silam. “Setahu saya di Klungkung bantuan laptop Chromebook ini ada 2 gelombang. Kami di SD N 1 Gunaksa dapat gelombang pertama di tahun 2020,” ujar Agus Kabiana saat ditemui Tribun Bali, Kamis (17/7).
Laptop berbasis Chromebook saat ini menjadi sorotan. Hal ini setelah Kejagung RI menetapkan dan menahan 4 tersangka terkait pengadaan laptop tersebut. Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2019-2022 yang menyeret eks Mendikbudristek Nadiem Makarim masih bergulir. Kasus dugaan korupsi ini disebut merugikan negara sekitar Rp 1,98 triliun.
Baca juga: LANGGAR Lagi Langsung Kena Tipiring, Kasus TPA Ilegal Pangkungparuk Berakhir Restorative Justice
Baca juga: ANAK Tak Diterima di SMP Negeri, Belasan Orangtua Siswa Geruduk Disdik Denpasar
Pengadaan laptop berbasis Chromebook menelan anggaran hingga Rp 9,3 triliun, untuk sekitar 1,2 juta unit. Saat ini sudah ada 4 orang yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni Jurist Tan, mantan staf khusus Nadiem, Ibrahim Arief, mantan konsultan Kemendikbudristek Sri Wahyuningsih, mantan Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek dan Mulyatsyah, Direktur Sekolah Menengah Pertama Kemendikbudristek. Bahkan kasus pengadaan Laptop Chromebook ini juga menyeret nama Mendikbudristek periode 2019-2024, Nadiem Makarim yang sudah 2 kali diperiksa oleh Kejagung.
Masih menurut Agus Kabiana, setelah menerima bantuan itu, awalnya pihak sekolah berencana menyusun ektra komputer untuk siswa, terutama untuk mempelajari program dasar misalnya mengetik di Microsoft Word. Namun ternyata laptop Chromebook yang diterima aksesnya sangat terbatas. “Berbeda dengan laptop biasa (berbasis microsoft atau macOs), Chromebook ini aksesnya sangat terbatas,” jelasnya.
Sehingga dalam perjalannya, laptop bantuan Kemendikbudristek itu hanya fokus dimanfaatkan untuk Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang hanya dilaksanakan untuk siswa kelas V. Itupun ANBK biasanya dilaksanakan setiap tahun sekali. Serta sesekali untuk kegiatan Olimpiade Sains Nasional.
“Pada ANBK terakhir bulan Februari lalu, kami paksakan pakai Cromebook ini, tapi setengah jalan tiba-tiba layarnya ada yang blank,” ungkap dia.
Dari total 15 laptop berbasis Chromebook yang dimiliki SD 1 Gunaksa, saat ini 9 di antaranya kondisinya sudah rusak. Laptop yang rusak telah ditempeli stiker kertas dan diberikan keterangan rusak.
Pihak sekolah sudah pernah menyampaikan masalah kerusakan laptop Chromebook ini ke Dinas Pendidikan (Disdik) Klungkung, namun disarankan untuk menunggu teknisi dari Jakarta karena perlu teknisis khusus. Atau pihak sekolah diminta mengirim Chromebook tersebut ke Jakarta untuk diperbaiki. “Kami memilih menunggu arahan dinas, terkait perbaikannya. Jadi efektif penggunaan Chromebook ini hanya 2 tahun,” ungkap dia.
Kondisi laptop berbasis Chromebook rusak juga ditemui di SD N 1 Takmung. Pihak sekolah sudah berupaya memperbaiki dengan membawanya ke teknisi, namun ternyata biaya sparepart-nya cukup mahal. Sehingga pihak sekolah belum mampu memperbaikinya.
Kepala Sekolah SD N 1 Takmung I Nyoman Mudatra mengatakan, pihaknya menerima 15 unit laptop berbasis Chromebook tahun 2020 silam. Laptop tersebut digunakan untuk pembelajaran siswa, ANBK serta kegiatan olimpiade sains nasional.
“Kalau untuk pembelajaran biasanya hanya menggunakan email (akun) milik guru. Karena tidak semua siswa mendapatkan id belajar. Jadi akses (Chromebook) memang terbatas,” ujar Mudatra.
Setelah berjalan 5 tahun, menurutnya ada sekitar 6 laptop berbasis Chromebook yang sudah rusak.
Pihak sekolah sudah berupaya memperbaiki, dengan membawanya ke teknisi di Kabupaten Klungkung. Namun dikatakanya biaya sparepart cukup mahal. “Suku cadangnya ternyata mahal, sampai Rp 2 juta per laptop,” ungkapnya.
Sehingga sampai saat ini kerusakan itu belum diperbaiki. Sebagai gantinya, dioperasikan 5 laptop standar berbasis Windows untuk menunjang kegiatan siswa, terutama untuk Olimpiade Sains Nasional. “Kami sudah antisipasi laptop pengganti di luar Chromebook. Semua kegiatan siswa berjalan normal, tidak ada masalah,” jelas dia.
Hanya Digunakan Sampai Bulan Depan, Disdikpora Badung Pastikan Buku Paket yang Rusak Segera Diganti |
![]() |
---|
KAWAL Program Pendidikan Gratis, DPRD Gianyar Dorong Penguatan Seni-Budaya |
![]() |
---|
400 Calon Mahasiswa Lolos, Daftar Program 1 Keluarga 1 Sarjana, Brida Bali Siapkan Kuota 1.450 Orang |
![]() |
---|
TUGAS Akhir Mahasiswa Berbentuk Karya Sastra & Jurnalistik, Terobosan UPMI Bali & Didukung Sastrawan |
![]() |
---|
BELAJAR Data Kependudukan ke Surabaya, Upaya Denpasar Program 1 Keluarga 1 Sarjana Tak Salah Sasaran |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.