Berita Bali
Tertinggi di Bali, Disdik Tracing 28.201 Anak Putus Sekolah, di Buleleng Capai 8.125 Anak
Untuk di Bali, Wesnawa diungkapkan, penyebab anak mengalami putus sekolah sebab memprioritaskan mencari pekerjaan.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Bali membeberkan jumlah anak putus sekolah di Provinsi Bali sebanyak 28.201 anak.
Dari jumlah tersebut, angka putus sekolah di Kabupaten Buleleng menjadi tertinggi se-Provinsi Bali yaitu sebanyak 8.125 anak.
Kedua Kabupaten Karangasem 5.552 anak, ketiga Kota Denpasar sebanyak 3.846 anak.
Keempat, Kabupaten Badung sebanyak 2.341 anak, kelima Kabupaten Bangli 2.070 anak.
Baca juga: Temukan Anak Terlantar Umur 2 Tahun, Polsek Abiansemal Langsung Cari dan Serahkan Ke Orangtuanya
Kemudian, Kabupaten Jembrana sebanyak 1.919 anak, Kabupaten Gianyar 1.757 anak, Kabupaten Tabanan 1.693 anak dan terakhir Kabupaten Klungkung sebanyak 898 anak.
Data tersebut didapat dari Data Pokok Pendidikan atau Dapodik dan merupakan data aktif/bergerak sesuai dengan hasil integrasi dan update data oleh satuan pendidikan melalui DAPODIK, EMIS, dan PDDikti.
Sedangkan persentase tidak sekolah berdasarkan rentang usia di Bali pada jenjang pendidikan SMA ke Perguruan Tinggi usia 19-25 sejumlah 50 persen.
Jenjang pendidikan SMP ke SMA usia 16-18 sejumlah 27 persen, pada jenjang pendidikan SD ke SMP usia 13-15 tahun sejumlah 11,7 persen, pada jenjang pendidikan TK ke SD usia 7-12 tahun sejumlah 8 persen.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Bali, Ida Bagus Wesnawa Punia memaparkan ada beberapa alasan anak-anak putus sekolah.
Di antaranya tidak mau sekolah, tidak ada biaya, sekolah jauh dari rumah, sudah cukup dengan tingkat pendidikan yang dimiliki saat ini.
Selain itu, alasan menikah atau mengurus rumah tangga, mengalami kekerasan atau perundungan trauma di sekolah, bekerja, pengaruh lingkungan atau teman.
Juga adanya anggapan sekolah tidak penting, tidak memiliki seragam sekolah, tidak memiliki Akta Kelahiran, masalah kesehatan atau penyandang disabilitas.
Di samping itu, ada faktor putus sekolah lainnya yaitu dikeluarkan, mengundurkan diri, anak tidak ditemukan, melanjutkan ke luar negeri, melanjutkan ke pondok pesantren atau lainnya, meninggal dunia, bersekolah, pindah domisili, sudah tamat SMA/sederajat dan bukan penduduk desa tersebut.
Untuk di Bali, Wesnawa diungkapkan, penyebab anak mengalami putus sekolah sebab memprioritaskan mencari pekerjaan.
“Kita lihat kebanyakan memang anak-anak lebih banyak memprioritaskan mencari pekerjaan baru yang artinya efek ekonomi,” jelasnya, Rabu 25 Februari 2026.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-sekolah-sma_sekolah-sma_ilustrasi-murid-sekolah_SMA_sekolah-SMA_dwis.jpg)