Berita Bali
TERUNGKAP Dampak Langsung Bakal Dialami Bali Akibat Penutupan Selat Hormuz Oleh Iran
TERUNGKAP Dampak Langsung Bakal Dialami Bali Akibat Penutupan Selat Hormuz Oleh Iran
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Perang antara Amerika Serikat - Israel dan Iran yang memanas setelah langsung mengguncang pasar global dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Ekonomi sekaligus Akademisi dari Undiknas yakni Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M. mengatakan eskalasi konflik ini terjadi di tengah jalur-jalur strategis energi global sehingga berdampak tajam pada harga minyak mentah, pasar saham, dan sentimen bisnis internasional dalam tempo sangat singkat.
“Harga minyak mentah telah melonjak sekitar 10 persen mendekati US$80 per barel seiring kekhawatiran gangguan pasokan, dengan proyeksi bisa mencapai atau bahkan melampaui US$100 per barel jika konflik meluas atau rute strategis seperti Selat Hormuz ditutup sepenuhnya,” jelasnya pada, Selasa 3 Maret 2026.
Baca juga: SIASAT Putu Sumedika di Buleleng Berujung Bui, Beri Ponsel Lalu Berhubungan Berkali-kali
Lebih lanjutnya ia mengatakan, Selat Hormuz sendiri mengangkut sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia, menjadikannya kritis bagi perdagangan energi global.
Kenaikan tajam harga minyak mentah ini memiliki konsekuensi langsung terhadap inflasi global.
Setiap kenaikan US$10 per barel dalam harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi di negara-negara importir, termasuk Indonesia, karena biaya produksi dan transportasi meningkat.
Baca juga: Lansia Asal Belanda Ditemukan Meninggal di Sanur Bali, Sempat Meminta Segelas Air Pada Istrinya
“Data ahli ekonomi menunjukkan bahwa jika pasokan melalui Selat Hormuz terganggu, harga minyak bisa menembus level US$100, yang pada gilirannya akan mempercepat kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri dan berdampak pada daya beli masyarakat,” bebernya.
Inflasi harga energi yang lebih tinggi juga cenderung memperlambat pertumbuhan ekonomi karena memaksa konsumen mengalihkan pengeluaran dari barang lain ke biaya energi yang lebih mahal, sekaligus mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral untuk menahan laju inflasi. Untuk Indonesia, sebagai negara yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energi minyak, kenaikan harga minyak global dapat memperlemah nilai tukar rupiah, karena meningkatnya permintaan devisa untuk impor energi.
“Tekanan ini dapat menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan, meskipun dampaknya diperkirakan moderat jika dibandingkan dengan negara-negara dengan ketergantungan energi lebih tinggi,” bebernya.
Model proyeksi menggunakan Global Trade Analysis Project (GTAP) memperkirakan bahwa konflik Iran dan Israel dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,005 persen dalam jangka pendek jika konflik berkepanjangan.
Meskipun angka ini tampak kecil secara statistik, namun dampak tidak langsung melalui kanal perdagangan global bisa lebih kompleks. Selain itu, kenaikan harga energi juga akan menekan daya beli domestik dan meningkatkan biaya logistik bagi sektor usaha.
Dampak terhadap pasar modal Indonesia mulai terlihat melalui volatilitas di sektor-sektor tertentu seperti energi, meskipun respons pasar saham terhadap gejolak geopolitik blm menunjukkan perbedaan abnormal return yang konsisten secara signifikan dalam periode jangka pendek, menurut studi empiris di Bursa Efek Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa investor mungkin masih menunggu kepastian arah konflik dan dampaknya terhadap fundamental ekonomi sebelum bereaksi lebih tajam.
Secara regional di Asia, negara-negara besar seperti India atau Jepang yang sangat bergantung pada impor energi telah menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak dapat memperbesar defisit transaksi berjalan dan memicu inflasi domestik lebih tinggi. Kenaikan energi juga bisa mempengaruhi biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang di kawasan Asia Pasifik.
Namun, konflik tersebut juga memunculkan beberapa peluang ekonomi, terutama bagi negara-negara eksportir energi dan komoditas tertentu.
| NYARIS Roboh Rumah Pekak Karem, Puskor Hindunesia Buka Donasi untuk Bantu Perbaiki |
|
|---|
| Lindungi Sulinggih & Mangku di Bali, Perluas Perlindungan Keagamaan, BPJS Ketenagakerjaan & PHDI MoU |
|
|---|
| 14.301 Kendaraan Listrik di Bali Siap-Siap Dikenakan Pajak dan Bea Balik Nama |
|
|---|
| Tetap Beli Gas LPG Non Sub Meskipun Harga Meroket, Agung Harap Tak Ada Kenaikan Lagi |
|
|---|
| MUNCUL Kawanan Lebah Melintas di Ruas Tol Bali Mandara Jadi Fenomena Unik, Ini Kata BKSDA Bali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/SERANGAN-Israel-dan-Amerika-ke-Iran.jpg)