Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Badung

Bongkasa Tinggalkan Pestisida, Andalkan Burung Hantu Tekan Hama Tikus

Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, mulai menggeser pola pengendalian hama

Tidak Ada/istimewa
Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, Perbekel Bongkasa I Gusti Agung Sumajaya, Bendesa Adat Bongkasa Ida Bagus Gede Sujia Pradanta saat melakukan pelepasan burung hantu pada Rabu 8 April 2026 

 


TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, mulai menggeser pola pengendalian hama dari metode kimia ke pendekatan berbasis ekologi. Hal itu pun dilakukan dengan pelepasan burung hantu jenis Tyto alba.

Bahkan petani kini diarahkan memanfaatkan predator alami untuk menekan populasi tikus sawah yang selama ini menjadi ancaman serius bagi hasil panen. Program ini ditandai dengan pelepasan Tyto alba di kawasan jaba Pura Dalem Wantilan Bongkasa pada Rabu 8 April 2026

Kegiatan tersebut diprakarsai Alam Bambu milik penggiat lingkungan John Hardy bersama Owl Tower Bali Foundation, dengan melibatkan Pemerintah Desa Bongkasa, desa adat, serta unsur subak sebagai pilar utama sistem pertanian tradisional Bali.

Baca juga: SURVEI Mahayastra: Meski Sering Dikritik, 80,8 Persen Warga Gianyar Puas Hasil Kerja Bupati Gianyar 

Hadir dalam kegiatan itu Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, Perbekel Bongkasa I Gusti Agung Sumajaya, Bendesa Adat Bongkasa Ida Bagus Gede Sujia Pradanta, Pekaseh Sengempel Bongkasa I Wayan Suambara, hingga perwakilan petani setempat.

Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Mas Arimbawa menegaskan, langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi jangka panjang mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.

Baca juga: Penataan Titik Nol Singaraja Dipercepat, Kelistrikan Gedung Laksmi Graha Disiapkan

"Ini solusi nyata berbasis kajian lapangan. Tyto alba sudah terbukti efektif memangsa tikus dan menjaga keseimbangan ekosistem persawahan," ujarnya.

Ia menjelaskan, efektivitas burung hantu tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah yang dilepas, melainkan keseimbangan antara populasi predator dan luas lahan pertanian. Dalam kondisi ideal, satu ekor Tyto alba mampu mengendalikan hama pada area sekitar tiga hingga empat hektare sawah.


Pendekatan ini dinilai lebih efisien dan berkelanjutan. Selain menekan populasi tikus, penggunaan predator alami juga menghindarkan lahan dari paparan bahan kimia berlebih yang berpotensi merusak kesuburan tanah, mencemari air, serta mengganggu organisme lain dalam rantai ekosistem.


Selama ini, serangan tikus menjadi salah satu persoalan klasik yang kerap memicu gagal panen di sejumlah wilayah. Penggunaan pestisida memang memberi hasil instan, namun dalam jangka panjang justru memunculkan masalah baru, termasuk resistensi hama dan kerusakan lingkungan.


"Karena itu, kehadiran Tyto alba  sebagai solusi alami yang lebih ramah lingkungan sekaligus ekonomis bagi petani," ucapnya.


Menariknya, di Bali, khususnya di Desa Bongkasa, keberadaan burung hantu tidak hanya dilihat dari sisi ekologis, tetapi juga memiliki dimensi kultural yang kuat. Tyto alba bahkan disakralkan sebagai duwe Pura Dalem karena secara alami hidup di kawasan pura yang dipenuhi pepohonan besar.


Nilai sakral ini menjadi kekuatan sosial tersendiri. Masyarakat tidak hanya membiarkan burung hantu berkembang, tetapi juga secara aktif menjaga dan melindunginya.


"Karena sudah dianggap duwe, masyarakat tidak berani menangkap atau mengganggu. Justru dijaga bersama sebagai bagian dari keseimbangan alam," jelasnya.


Untuk memperkuat perlindungan tersebut, desa adat didorong segera menyusun aturan atau pararem yang mengatur keberadaan dan perlindungan burung hantu. Langkah ini penting agar program tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved