Pertegas Atmosfer Khas Bali, Berbagai Jenis Tarian Dihadirkan di Bandara Ngurah Rai 

Di akhir bulan Oktober ini menghadirkan suatu pertunjukan seni kebudayaan Bali yang bertajuk Balinese Culture in Harmony.

Pertegas Atmosfer Khas Bali, Berbagai Jenis Tarian Dihadirkan di Bandara Ngurah Rai 
Communication PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali.
Penari sedang menari di hadapan pengunjung Bandara International Ngurah Rai dalam gelaran Balinese Culture in Harmony, Minggu (27/10/2019). 

Tujuan kedua adalah untuk semakin mempertegas nuansa dan atmosfer khas Bali di dalam terminal bandar udara.

Sebelumnya alunan musik rindik sudah terlebih dahulu mengalun merdu di berbagai sudut terminal.

Pertunjukan ini semakin menguatkan suasana terminal akan atmosfer khas Bali.

“Dengan ambience di dalam terminal yang kental dengan budaya Bali, akan memberikan suatu pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan. Hal tersebut yang akan menjadi salah satu faktor bagi para pelancong untuk datang kembali ke Bali,” imbuhnya.

Dalam event yang berlangsung dari kemarin hingga hari ini tersebut, disuguhkan satu tarian topeng kreasi yang bernama ‘Hyang Tri Semaya’.

Tarian yang ditampilkan oleh Sanggar Paripurna tersebut bercerita tentang kisah Sang Hyang Wisnu yang melihat ketidakwajaran di Mercapada. 

Selain Perempuan Tanah Jahanam, Berikut Film Indonesia Lainnya yang Masuk Daftar Box Office 2019

Peringatan HLN, PLN Kampanyekan Kendaraan Listrik Kendaraan Ini Nyaman Digunakan di Bali

Ketentraman alam raya tengah terusik oleh para raksasa Butakala pisaca yang dipimpin oleh Kala Ludra dan Dewi Durga. 

Melihat ketidakseimbangan di dunia tersebut, Hyang Tri Semaya, Brahma Wisnu Iswara kemudian turun ke dunia untuk membuat kesenian berupa seni tabuh dan seni tari yang diiringi oleh para Genarwa.

Sang Hyang Tri Semaya terbang ke segala penjuru dunia untuk menyebarkan kesenian, serta Dewa Wisnu yang turut menari Telek Brahma.

Berkat tarian dan bunyian tetabuhan yang diciptakan oleh Sang Hyang Tri Semaya, Kala Ludra dan Dewi Durga berubah wujud kembali menjadi Dewa Siwa dan Dewi Uma, hingga akhirnya tercipta suatu harmoni.

Halaman
123
Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved