Pengamat Komentari Ambruknya Tempelan Bata dan Retaknya Pondasi Pasar Badung

Ambruknya tempelan bata serta retaknya beberapa bagian pondasi dan dinding bangunan Pasar Badung, Bali mendapat komentar dari pengamat arsitektur

Pengamat Komentari Ambruknya Tempelan Bata dan Retaknya Pondasi Pasar Badung
Dok Prof. Rumawan Salain
Pengamat Arsitektur Universitas Udayana, Prof. Putu Rumawan Salain 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ambruknya tempelan bata serta retaknya beberapa bagian pondasi dan dinding bangunan Pasar Badung, Bali mendapat komentar dari pengamat arsitektur Universitas Udayana, Prof. Putu Rumawan Salain.

Prof. Rumawan mengatakan kasus tersebut perlu ditindaklanjuti dan diinvestigasi secara lebih cermat oleh tim independen terkait apa yang menjadi penyebab salah satu bagian bangunan tersebut menjadi ambruk. 

Ia menduga sepertinya tidak ada pondasi bangunan pada bagian yang ditempelkan bata, sehingga menjadi lepas di bagian atas dan bawahnya.

5 Fakta Bayi Lahir di Kapal Gilimanuk-Ketapang, Modal Tisu, Penjaga Kantin Jadi Bidan Dadakan

Tim Gabungan Gelar Operasi ODOL, Satu Truk Kedapatan Over Dimensi

Masyarakat yang Telat Bayar Pajak Kendaraan Bermotor Akan Diberi Sanksi, Berikut Sanksinya

Selain itu yang perlu diperiksa lebih lanjut adalah apakah ada saluran air di sekitar bagian tempelan pondasi tersebut.

“Ya perlu diinvestigasi lebih lanjut karena itu digunakan banyak orang dan untuk kepentingan umum,” kata Prof. Rumawan saat dihubungi melalui sambungan seluler, Senin (9/12/2019).

Selain itu, kata dia, lepasnya tempelan, retak-retak rambut atau terjadinya pergeseran struktur juga bisa dipengaruhi dengan bahan yang digunakan.

“Umum itu biasa terjadi belakangan ini karena pertama banyak dinding yang dibuat dari batako. Batako itu cepat sekali kering dan menghisap air sehingga hubungan batako dengan struktur kolong jika diplester akan menjadi retak,” terangnya.

Hari Anti Korupsi Sedunia, Kejati Bali Umumkan 2 Kasus Dugaan Korupsi

Warga Masih Abaikan Rambu Larangan Parkir, Tim Gabungan Tertibkan Parkir Liar di Klungkung

RSUP Sanglah Tangani 49 Pasien Terlantar Sejak Januari 2019

Menurutnya kecermatan dalam konstruksi bangunan harus tetap diperhatikan, apalagi saat ini diikuti dengan musim panas berkepanjangan, maka dinding yang terkena panas akan lebih cepat memuai.

Kemungkinan lainnya yang menyebabkan pondasi rusak adalah akibat gempa yang terjadi beberapa waktu lalu.

Di samping itu karena adanya pergeseran struktur tanah terkait kepadatannya, yang menyebabkan struktur bangunan mengalami penurunan

”Ini banyak akumulasinya. Di perencanaan bisa saja kurang memenuhi persyaratan. Kedua, dalam pelaksanaan bisa saja pengerjaannya kurang cermat. Ketiga kurang ketat pengawasannya,” jelasnya.

Kendati demikian, di luar ketiga unsur tersebut yang menjadi penyebab lainnya adalah kondisi iklim dan penggunaan bahan.

Suap Pengurusan Sertifikat Tanah di Denpasar Diduga Sudah Berlangsung 4 Tahun, Uang Ditransfer

Polemik Pengadaan Videotron Terbesar di Bali, Kominfo Gianyar Tegaskan Rp 1,6 Miliar Sudah Termurah

Kalau menggunakan bata kemungkinan besar tidak seperti penggunaan batako karena bata lebih kecil risikonya.

Penggunaan semen yang terlalu banyak dan kurangnya pasir juga dapat menyebabkan tempelan menjadi lepas.

“Kalau dindingnya sampai lepas dan bolong memang harus dicek sumbernya,” imbuh Guru Besar di bidang arsitektur Universitas Udayana ini. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved