Jelang Galungan, Harga Bawang Putih di Klungkung Melambung 100 Persen
"Pedagang eceran sekarang hanya boleh membeli bawang putih maksimal 20 kilogram per hari," ungkap seorang pedagang
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Harga bawang putih di Klungkung mulai melambung lebih dari 100 persen.
Selain karena menjelang Galungan, kenaikan harga ini diperkirakan karena tidak adanya bawang impor ke Indonesia.
Seorang penjual bumbu dapur di Pasar Galiran Ni Luh Jempiring mengatakan, bawang putih mengalami kenaikan sejak 10 hari yang lalu.
Jika sebelumnya harga bawang putih berada di kisaran Rp 23 ribu per kilogram. Kini, harga bawang putih mencapai Rp 52 ribu-Rp 55 ribu per kilogram.
• Rayakan Anniversary ke-3, Infinity8 Bali Gelar Malam Apresiasi Untuk Para Media dan Business Partner
• Lurah Semarapura Tengah Bantah Tudingan Miring Penyelenggaraan STN Festival 2019
• Home Industri Ganja Milik Bule Rusia, Kasat Narkoba: Ini Loh Pertama Di Indonesia
"Kenaikan harganya ini sekitar 10 hari lalu," ungkapnya, Selasa (11/2/2020).
Ia mengungkapkan, pasca virus corona merebak, sejumlah komoditi impor berangsur mengalami kenaikan harga.
Pedagang pun memperkirakan, kenaikan harga ini erat kaitannya karena minimnya impor bawang putih ke Indonesia.
Sehingga ketersediaan bawang putih pun menjadi terbatas dan membuat harganya melambung.
• Progres Penanganan Banjir Bandang di Bangli Sudah Mencapai 80 Persen
• Ini yang Akan Dilakukan Sandiaga Uno Kepada Andre Rosiade Terkait Penggerebekan PSK Online
• Pemkab Buleleng Tambah Satu Jabatan Direksi PD Swatantra
"Pedagang eceran sekarang hanya boleh membeli bawang putih maksimal 20 kilogram per hari," ungkapnya.
Penjual bumbu dapur pasar Galiran lainnya, Martini mengatakan, saat ini ia tidak berani menyetok bawang putih dalam jumlah banyak.
Karena khawatir tiba-tiba permintaan bawang menurun, akibat kenaikan sejumlah bumbu dapur di pasaran.
"Kalau dulu saya beli bawang putih sekitar 20 kilogram per hari. Sekarang saya beli sekitar 10 kilogram per hari. Saya takut tidak ada yang beli karena harganya mahal," ungkapnya. (*)