Perlu Kajian & Penelitian BPCB, Benda Pusaka dari Yayasan Belanda Belum Bisa Dipajang di Klungkung

Hal ini karena belum ada kajian dan literasi mendalam yang menerangkan asal usul benda tersebut.

Istimewa
Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta saat meninjau keris, mata tombak, dan duplikat mahkota raja Klungkung di Museum Semarajaya, Selasa (28/4) lalu. Beberapa benda bersejarah itu belum bisa dipajang secara bebas, karena masih harus dikaji dan diteliti asal usulanya oleh BPCB. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Pemkab dan Puri Klungkung, menerima pengembalian mata tombak dan keris bersejarah dari Yayasan Westerleker, Belanda, Selasa (28/4/2020).

Hanya saja benda pusaka itu, belum bisa dipajang di Museum Semarajaya, Klungkung.

 Hal ini karena belum ada kajian dan literasi mendalam yang menerangkan asal usul benda tersebut.

Kepala UPTD Museum Semarajaya Cokorda Gede Nala Rukmaja menjelaskan, pihaknya belum bisa memajang mata tombak dan keris pemberian yayasan Belanda itu, karena masih harus ada kajian dan penelitian lanjutan terhadap kedua benda tersebut.

Tarif Penyeberangan Pelabuhan Padang Bai Menuju Lembar NTB Naik, Ini Rinciannya

Mengintip Berbagai Karya Surya Subratha Selama Berlangsungnya Pameran Online Close a Window

BLT Dana Desa di Banyuwangi Cair, Tiap KK Bakal Terima Rp 600 Ribu

Sehingga ada literatur yang jelas, yang dapat menerangkan dua benda pusaka tersebut saat dipajang di museum.

" Sesuai arahan, tentu harus ada kajian mendalam terhadap dua benda itu. Sehingga ada literasi dan asal-usul benda bersejarah itu jelas," ujar Cokorda Gede Nala Rukmaja, Kamis (30/4/2020).

Kedepan, pihaknya berencana akan melakukan kajian terhadap keris dan mata tombak itu, dengan melibatkan pihak BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya).

Hanya saja hal ini urung dilakukan, karena masih terhalang pandemi COVID-19.

" Rencananya kajian juga dilakukan terhadap dua mata tombak yang juga diserahkan Yayasan Westerleker, Belanda tahun 2019 lalu. Anggaran kajian ini sekitar Rp 30 juta. Namun karena kondisi seperti saat ini (pandemi COVID-19), kajian belum bisa dilakukan," ungkapnya.

Saat ini, empat benda yang diperkirakan benda jarahan pasca Perang Puputan 1908 itu, masih disimpan dengan baik oleh pihak Museum Semarajaya.

Halaman
12
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved