Corona di Bali
Rara Bisa Layani 10 Orang Per Hari, Pesanan Membaca Tarot Meningkat Saat Pandemi Covid-19
Dalam masa pandemi Covid-19, antusias masyarakat untuk membaca peruntungan lewat kartu tarot cenderung meningkat.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam masa pandemi Covid-19, antusias masyarakat untuk membaca peruntungan lewat kartu tarot cenderung meningkat.
Hal ini diungkapkan oleh pembaca tarot, Rara Istiati Wulandari saat dihubungi Kamis (30/4/2020) siang.
Dalam sehari dirinya bisa melayani hingga 10 orang yang ingin membaca tarot.
"Rata-rata sehari sampai 10 orang. Hari ini saja ada tujuh orang," katanya.
Karena adanya pandemi Covid-19 ini, dirinya pun membuka pembacaan kartu tarot dengan sistem online.
• Jokowi Peringati Pengusaha yang Hanya Terima Stimulus Tapi Masih Lakukan PHK
• Perlu Kajian & Penelitian BPCB, Benda Pusaka dari Yayasan Belanda Belum Bisa Dipajang di Klungkung
• Di Tengah Pandemi, Oscar Buat Aturan Baru untuk Film yang Masuk Nominasi
Untuk sekali membaca tarot ini, dirinya menarik bayaran Rp 300 ribu.
Akan tetapi, pada situasi saat ini, dirinya dalam sehari memberikan satu pembacaan tarot gratis.
"Saya kasi satu orang free. Kadang tak harus Rp 300 ribu. Kadang ada yang minta kurang," katanya.
Rata-rata mereka yang meminta membaca tarot menanyakan kapan Covid-19 ini berakhir.
"Banyak yang nanya kapan corona berkahir, kapan bisa keluar rumah. Ada yang nanya apakah saya dipecat. Ya kebanyakan tentang nasib karena corona ini," katanya.
Nama Rara mencuat setelah meramalkan pernikahan antara pasangan selebriti Syahrini dengan Reino Barack.
• BLT Dana Desa di Banyuwangi Cair, Tiap KK Bakal Terima Rp 600 Ribu
• 8 Cara Berhemat di Tengah Pandemi Corona
• Hubunganmu Kandas? Inilah 4 Kiat yang Bisa Kamu Coba agar Cepat Move On
Ia yang memiliki apartemen di Jalan Ciung Wanara I Nomor 7, Denpasar, Bali menceritakan kisah hidupnya hingga menjadi seorang pembaca tarot sekaligus pawang hujan.
"Saya memang dari kecil indigo. Keluarga saya RR itu Raden Rara trah Solo Jogja dan dari kecil diajarkan duania spiritual. Konon jaman dulu eyang kakung punya adik setiap tahun tepatnya satu suro meng-handle upacara di Keraton Solo. Dan setiap tahun ada adu-adu ilmu, siapa yang menang, dia yang handle upacaranya, termasuk masalah pawang hujan," kata Rara.
Pada periode selanjutnya, eyang kakungnya tersebut menugaskan ayah Rara untuk melanjutkan tradisi tersebut.
Namun sang ayah kurang suka dengan hal tersebut dan akhirnya mengajari anaknya, Rara, tentang hal-hal yang bersifat gaib karena ayahnya tahu bahwa Rara adalah anak indigo atau di Bali disebut melik.
• Potong Kuku dengan Benar, Rawat Kaki Indahmu dengan Tips Berikut Ini
• Dulu Kerja di Pariwisata, Kini Puluhan Warga Pesaban Karangasem Beralih Jadi Buruh Petik Bunga
"Saat umur tiga tahun bapak saya sakit dan dipresiksi akan meninggal saat saya umur 5 tahun. Saya diajarin kayak paranormal activity seperti ngobrol dengan makhluk gaib, roh, termasuk mencium bau awan sebagai pertanda hujan atau tidak. Dan biasanya banyak yang tidak siap memiliki anak indigo, tapi bapak saya sudah siap. Dan bapak dulu mengaplikasikan ilmu pawang hujan itu untuk sepak bola yakni bantu Persipura Jayapura yang dulu," kata wanita kelahiran Jayapura, 22 Oktober 1983 ini.
Tahun 1988, sang ayah meninggal dan Rara menonton video milik ayahnya tentang dunia lain.
Sebelum ayahnya meninggal, Rara pun sempat memimpikan sang ayah akan meninggal dan itu memang terjadi walaupun sang ibu sempat mengatakan jika sang ayah baik-baik saja.
Dari sanalah Rara percaya bahwa dirinya bisa meramal apa yang akan selanjutnya dan bahkan ia meramalkan dirinya jika tetap hidup di Jogja akan susah.
• Jawaban Luna Maya Soal Rumor Hubungannya dengan Herjunot Ali, Ungkap 4 Fakta Ini
• Seluruh Tenaga Medis Dikarantina, Gegara Keluarga Pasien Positif Corona Tak Jujur
Ia pun bercerita saat umur sembilan tahun sudah mampu menjadi pawang hujan dan mencari uang dengan bekerja sebagai pawang hujan di acara-acara pagelaran wayang.
"Umur sembilan tahun saya sudah cari uang sendiri dari acara wayangan dan waktu itu saya belum menggunakan menyan untuk menjadi pawang hujan. Saya bilang ke dalangnya kalau saya bisa bantu agar tidak hujan," paparnya.
Dengan melakoni pekerjaan tersebut ia mendapat uang Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu, dan ia merasa sangat senang.
Setelah bercerai dengan suaminya, ia memutuskan ingin ke Bali, karena ia suka dengan alam Bali dan ingin mendapat guru spiritual di Bali.
"Saya selalu ingin pindah ke Bali, tapi mama tidak mengijinkan, termasuk mantan suami saya. Ini dikarenakan saya pernah hilang di Sangeh waktu SMP saat study tour," paparnya.
Saat itu ia bersama 39 teman sekelasnya mengadakan study tour ke Sangeh.
Tiba-tiba anting yang dikenakannya ditarik seekor kera dan ia pun hilang padahal areal Sangeh tak terlalu luas.
Mengetahui Rara sudah hilang, teman-temannya pun mencarinya dan bahkan sempat menelepon sang ibu yang ada di Jogja yang membuat sang ibu panik.
"Waktu itu belum ada telepon genggam seperti sekarang, dan saat itu yang saya lihat hanya monyet. Saya jalan-jalan sama monyet, saya senang sekali karena saya dikasi pisang sama monyetnya,"tuturnya.
Untuk menemukannya dicarilah pemangku untuk membantu pencarian dirinya.
Ia diketahui menghilang pukul 10.00 dan ditemukan pada pukul 07.30 di tempat yang sama saat pertama kali ia diketahui menghilang.
Sepanjang perjalanan hidupnya, ia pun melaksanakan meditasi.