Corona di Bali
Persepsi Berbeda Jadi Penyebab Timbulnya Klaster Covid-19 di Pasar Tradisional
Adanya kerumunan yang menyebabkan terjadinya klaster COVID-19 di pasar karena persepsi risiko untuk kalangan sektor informal berbeda
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Koordinator Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud), I Made Ady Wirawan mengatakan, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah menetapkan beberapa syarat dalam upaya menerapkan kehidupan normal baru atau new normal.
Beberapa syarat itu di antaranya transmisi lokal Covid-19 terkendali, kapasitas sistem kesehatan dan upaya kesmas memadai, risiko wabah di lokasi dengan kerentanan tinggi minimal, upaya pencegahan di tempat kerja sudah terbangun, risiko kasus impor dapat dikelola hingga komunitas terlibat sepenuhnya dan paham risiko.
Namun Edy mengaku dirinya belum mengetahui sudah sejauh mana masyarakat paham akan kebijakan new normal dan upaya-upaya dalam pengendalian hingga protokol Covid-19.
• Soal Penanganan Covid-19, Bali Dinilai Sudah Dapat Mengelola Kasus Impor dengan Baik
• Wabup Kembang Hartawan Salurkan Sembako MGPSSR untuk Puluhan Pemangku di Pura
• Pemilik Rumah yang Terbakar di Jalan Kusuma Bangsa Denpasar Alami Kerugian Ratusan Juta
"Itu kita tidak punya data," kata Edy saat menjadi salah satu pembicara dalam Web seminar (Webinar) "Menuju Normal Baru, Siapkah Kita?" yang diselenggarakan oleh Udayana One Health Collaborating Center (UHCC), Kamis (11/6/2020).
Mengutip pernyataan seorang kawannya yang saat ini tengah kuliah doktor di Australia, Edy mengatakan bahwa new normal memiliki narasi yang parsial, bias kelas, urban bias dan tidak portable untuk sektor informal.
Dirinya setuju dengan pernyataan tersebut, sebab Covid-19 kini telah menciptakan klaster baru di pasar tradisional.
"Di Bali sendiri klaster pasar juga ada, mulai dari kemarin dan dua hari yang lalu," kata Ketua Pusat Penelitian Kesehatan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unud itu.
• BBPOM Denpasar Salurkan 300 Botol Hand Sanitizer dan 50 Paket Sembako ke Warga Terdampak Covid-19
• Pasang Iklan Rokok di Lokasi Sulit Terpantau, Distributor nakal Langgar Perda KTR
• Denpasar Tambah 10 Kasus Positif Covid-19, 3 Orang Merupakan Pedagang Pasar Kumbasari
Ia menilai, adanya kerumunan yang menyebabkan terjadinya klaster COVID-19 di pasar karena persepsi risiko untuk kalangan sektor informal berbeda dengan sektor formal seperti perhotelan dan industri yang secara kelasnya lebih di atas.
"Secara kelas memang mereka lebih di atas dan mampu menyiapkan upaya-upaya itu dengan lebih baik, persepsinya mungkin saja lebih bagus," jelasnya.
Adanya persepsi berbeda yang menimbulkan klaster Covid-19 baru di pasar-pasar tidak bisa dihindari.
Baginya hal ini menjadi pekerjaan rumah (PR) atau tantangan yang sangat besar bagi pemerintah agar semua lapisan masyarakat sampai ke tingkat bawah bisa paham bahwa risiko Covid-19 itu tinggi.
"Jadi persepsi risikonya harus dibangin di situ," jelas penulis jurnal Forecasting COVID-19 Transmission and Healthcare Capacity in Bali itu.
• Denpasar Tambah 10 Kasus Positif Covid-19, 3 Orang Merupakan Pedagang Pasar Kumbasari
• Standar Pelayanan Publik dan Website Karantina Denpasar Kini Dalam Tiga Bahasa
• Dapatkan Penawaran Khusus Menginap di Hyatt Regency Bali Bagi WNI dan Pemegang KITAS
Menurut Edy, tanggung jawab dalam kehidupan new normal nantinya tidak hanya sebatas individu semata, melainkan perlu kesadaran semua pihak.
Di level individu bisa berfokus pada protokol kesehatan, seperti memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, menerapkan etika batuk, menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagainya.