Breaking News:

Citizen Jurnalism

Covid-19 pada Anak, Kasus Rendah dengan Tingginya Angka Kematian

“Walaupun pada anak kasus yang dilaporkan yakni 8,1% dari total kasus Covid-19, namun mortality rate (angka kematian) dari kasus anak di Indonesia ini

Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Gambar oleh enriquelopezgarre dari Pixabay
Foto ilustrasi Covid-19. Seorang anak kecil menatap keadaan di luar rumahnya 

oleh: Gek Ayu Krismayogi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Covid-19 yang telah diketahui keberadaannya sejak bulan Maret 2020 di Indonesia bukan hanya dapat menginfeksi orang dewasa namun juga semua usia, termasuk anak.

Meskipun lebih sedikit kasus anak yang dilaporkan bila dibandingkan dengan kasus dewasa, namun anak dapat terinfeksi virus SARS CoV-2, mengalami Covid-19 dan menularkan virus tersebut sehingga dapat menginfeksi orang lain.

Baca juga: Demam Berdarah Dengue di Tengah Pandemi Covid-19, Apa yang Harus Dilakukan?

Baca juga: Wakapolres Badung Cek Kesiapan Kompi Dalmas BKO ke Polda Bali

Baca juga: Ops Yustisi Sasar Sumerta Klod Denpasar, 4 Orang Ditemukan Melanggar Prokes

“Walaupun pada anak kasus yang dilaporkan yakni 8,1% dari total kasus Covid-19, namun mortality rate (angka kematian) dari kasus anak di Indonesia ini justru tertinggi di ASEAN, sebetulnya kita tetap harus waspada.” ungkap dr.Cynthia Centauri, Sp.A dalam penyampaian materi Pneumonia pada Anak di Era Pandemi COVID-19 pada Webinar Interactive Course For General Practioners seri 3 Rumah Sakit Universitas Indonesia pada 9 Oktober 2020.

Rita Carsetti dalam jurnalnya berjudul The Immune System of children: The Key to Understanding SARS-CoV-2 susceptibility menjelaskan bahwa sebagian besar kasus infeksi virus menunjukkan bahwa jumlah virus mencapai puncaknya pada minggu pertama pasca infeksi dan pertahanan tubuh disiapkan dalam 10-14 hari, diikuti dengan penyerangan virus oleh antibodi dan sel T.

Baca juga: Meski Denpasar Masih Zona Merah Covid-19, Ada Orang Tua Siswa yang Ingin Anaknya Sekolah Tatap Muka

Baca juga: 201 Stiker Ayo Pakai Masker Disebar Satlantas Jembrana di Kawasan Perung Mendoyo

Baca juga: Tokoh KAMI Ahmad Yani Mengaku Hampir Ditangkap Namun Tidak Jadi, Ini Alasannya

Pada awal masa kehidupan, anak mendapatkan kekebalan dari sistem imun ibu, baik melalui perkenalannya dengan vaksin maupun virus sebelum akhirnya tubuh anak mampu membuat sistem pertahanannya sendiri.

Kesiapsiagaan kekebalan anak terhadap patogen baru, termasuk SARS-CoV-2 didasarkan pada beberapa faktor.

Pertama, pada fase awal infeksi, antibodi bawaan memainkan peran paling penting.

Antibodi bawaan, sebagian besar dari IgM yang memiliki kemampuan dalam mengikat banyak mikroorganisme tak dikenal yang berbeda-beda.

Baca juga: Pantai Muntig Siokan Sanur Kauh Dipenuhi Sampah Kiriman, Kayu hingga Plastik Berserakan

Baca juga: Anak-Anak Banjar Banda Berburu Sampah, Tukar dengan Sembako untuk Bantu Orangtua

Baca juga: Kronologi Bripda MI Tewas Tertembak di Mushala, Ditemukan Luka Tembak Dada Kiri Korban

Kedua, anak memiliki kemampuan untuk memproduksi antibodi alami dengan cepat dan dibentuk oleh reaksi terhadap patogen lingkungan yang umum.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved