Serba serbi

Manfaat Air dan Pasir Laut Dalam Usada Bali untuk Penyembuhan

Dalam Usada Bali, atau ilmu pengobatan Bali dikenal banyak tumbuhan dan bahan dari alam yang dapat menyembuhkan penyakit.

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Banah Cliff Nusa Penida 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dalam Usada Bali, atau ilmu pengobatan Bali dikenal banyak tumbuhan dan bahan dari alam yang dapat menyembuhkan penyakit.

Satu di antaranya adalah air dan pasir laut, yang sampai saat ini masih dipercayai menyembuhkan.

Hal tersebut diamini Sekretaris LP2M UNHI, I Kadek Satria.

“Air laut dan pasir laut memang menyembuhkan, itu juga tersurat di dalam Barunastawa,” sebutnya kepada Tribun Bali, Kamis (19/11/2020).

Barunastawa, kata dia, adalah mantra khusus untuk memuja Dewa Baruna.

Baca juga: Update Penjelasan Menaker, Soal Banyaknya Pekerja Belum Terima Bantuan Subsidi Upah Termin II

Baca juga: Kembangkan Mina Padi, 8.000 Ekor Bibit Ikan Nila Ditebar di Subak Kedu Buleleng

Baca juga: Diawali Hujan Deras dan Angin Kencang, Fenomena Hujan Es Terjadi di Desa Pelaga Badung

“Di mana di sana dinyatakan, bahwa air dan pasir laut kemudian bisa digunakan sebagai pengobatan. Laut sebagai sumber pelepasan segala mala dan masalah,” sebutnya.

Lanjut Dosen Filsafat Agama Hindu, Veda, dan Pendidikan Agama Hindu ini, bahwa gabungan air dan pasir laut memberi efek luar biasa.

Air laut menggambarkan laut itu sendiri, sementara pasirnya adalah hasil dari sari-sari laut.

“Makanya kemudian pasirnya itu, asal-muasalnya adalah kedalaman laut, yang kemudian ke pinggir menjadi batuan-batuan kecil dan berubah warna, yakni ada yang hitam dan putih,” ujar Ketua Pasraman Pasir Ukir, Desa Adat Pedawa, Buleleng ini.

Baca juga: Pegawai Sabet Tangan Bos Pakai Pisau, Emosi Sering Dicaci

Baca juga: Kasus Terkonfirmasi Covid-19 Bertambah Enam Orang, Buleleng Kini Masuk Zona Kuning

Baca juga: Faktor Risiko, Tanda dan Gejala Morning Sickness

Pasir putih dan pasir hitam di lautan Bali, terbentang dari selatan hingga utara Pulau Dewata.

Kedua warna ini, jelas dia, melambangkan simbol Rwa Bineda.

“Bahwa semua sari-sari alam kehidupan manusia, yang tidak bisa diterjemahkan. Maka mengadu kepada segara kepada Dewa Baruna, sehingga di sanalah mendapatkan pembebasan atau mendapatkan kesehatan,” tegasnya.

Ia menceritakan, ada orang dengan gejala stroke kemudian direndam di dalam pasir laut dan lambat laun membaik.

“Memang itu benar, karena berbagai macam penyakit yang saya sudah sering arahkan ke laut banyak yang berhasil. Semisal stroke ringan, kemudian penyakit dalam, lawean (kurang energi), dan sebagainya,” imbuh penekun Usada Nyepuh dengan Majegau ini.

Baca juga: Terkait Hibah Pariwisata di Badung, Ada yang Menerima hingga Rp 16 Miliar dan Terkecil 82 Rupiah

Baca juga: Jembrana Menjadi Zona Kuning Covid-19, 4 Pasien Sembuh Dipulangkan

Caranya, adalah orang yang sakit itu kemudian tubuhnya dikubur dan terlentang di dalam pasir. Gunanya, agar mendapatkan penyegaran badan, sehingga memulihkan jika ada sakit.

“Dari sudut pandang Usada Bali, media pengobatan ala Bali. Dari sudut pandang ini, memang kita mengacu pada Barunastawa itu,” katanya.

Penjelasannya, bahwa badan manusia ini adalah lambang jagat kecil atau bhuana alit.

“Ini pun juga bisa dibersihkan segala macam penyakitnya oleh air laut dan pasir laut,” imbuhnya.

Intinya, yang harus dilakukan seseorang agar sembuh adalah secara rutin ke laut dan memuja Dewa Baruna. Lalu merendamkan diri di pasir dan air laut.

Tentunya dalam prosesi ini, ada ritual khusus dengan cara melakukan pemujaan terlebih dahulu. Sementara persembahannya boleh menggunakan apa saja untuk meminta berkat dari laut.

“Melakukan persembahan kepada Bhatara Baruna untuk kesehatan. Dengan canang diisi makanan seperti nasi  dan lauk-pauk,” sebutnya. Hal itu, filosofinya adalah memberi persembahan sesuai dengan apa yang kita makan juga.

Sehingga persembahan itu terasa lebih baik, dan apa yang dimakan juga menjadi berkat.

Dosen UNHI ini melanjutkan, bahwa ada dua warna pasir laut yakni hitam dan putih.

Kedua-duanya memiliki manfaatnya masing-masing.

Ada keyakinan bahwa pasir laut yang berwarna hitam untuk menangkal segala macam penyakit, termasuk yang bersifat black magic untuk dinetralkan.

“Kedua ada penyakit stroke, atau penyakit badan bisa menggunakan pasir yang putih. Memang ini adalah keyakinan, tetapi banyak yang berhasil,” katanya.

Waktu yang tepat untuk melakukannya, adalah sebelum matahari terbit sampai matahari terbit dan agak terik sedikit.

“Jadi sebelum matahari terbit, badan orang yang ingin berobat dikubur dahulu di dalam pasir. Kemudian kepalanya saja yang kelihatan,” ucapnya.

Orang ini kemudian menunggu, hingga sinar matahari menyelusup masuk memanasi pasir.

Lalu kemudian panas itu, seolah-olah memijat seluruh badannya.

Sampai matahari naik dan agak terik sedikit, baru orang tersebut keluar.

Walaupun pasir laut dan air laut baik untuk pengobatan, namun tidak disarankan terlalu lama. Layaknya sauna, ada batas waktu tertentu agar tubuh tidak menjadi lemas.

“Sebab kalau terlalu lama direndam, energi kita bisa terserap, energi yang tersisa belum mampu memberi bayu (tenaga) dan energi pada diri,” tegasnya.

Terapi air laut dan pasir laut, adalah salah satu terapi kuno, dan sudah ada sejak zaman dahulu. Banyak orang melakukan ini, sebagai sistem pengobatan sepenuhnya.

“Setelah berendam air laut atau pasir laut, maka wajib seseorang sembahyang  sampai di rumahnya setiap malam, dengan menggunakan  asap majegau,” sebutnya.

Hal itu, akan kembali menetralisasi hal negatif sehingga kemudian dia berangsur sehat.

“Dan saya sarankan, untuk mengonsumsi atau meminum air hangat sekaligus dua gelas, setelah direndam pasir atau air laut itu. Sebab sangat mengembalikan energi karena terserap oleh pasir dan air laut. Ini adalah simbol bahwa energi negatif telah somya atau dinetralisir,” tambahnya.

Selain pengobatan diri, air laut juga dipercaya baik untuk diperciki di rumah sebagai tirta.

Sebab air laut adalah penetralisasi, baik untuk kekuatan negatif atau bahkan black magic yang dipercaya ada di Bali.

Ia menyarankan langsung mengambil air dari laut, ketimbang mencampur garam dengan air karena efeknya berbeda.

Terapi lanjutan, adalah melukat di pegunungan, terutama di sumber air pegunungan.

“Ada istilah segara gunung, segara giri, atau pasir ukir. Itu artinya adalah gunung dan laut sebagai sumber kehidupan,” katanya.

Setelah seseorang melakukan pembersihan dan dinetralisir di laut menggunakan air laut, atau pasir laut maka disarankan juga melakukan penglukatan ke sumber air di gunung.

Khususnya ke sumber air yang selalu mengalir baik di musim hujan maupun panas. Tidak di satu musim saja.

“Nah melukat dengan air gunung ini. Khususnya mempertemukan air laut dengan pegunungan karena ini adalah sumber kesuburan dan kesehatan. Filosofinya pertemuan bapa (ayah), akasa, atau pegunungan dan ibu pertiwi yaitu air dan pasir laut. Jadi ada hubungannya untuk membuat sehat,” tegasnya.  (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved