Breaking News:

Berita Buleleng

Pengelola DTW Agar Lapor Pengunjung Bertanda Merah dan Hitam pada Aplikasi PeduliLindungi

Hal ini untuk mempermudah Satgas melakukan testing demi menekan kasus terkonfirmasi Covid-19 di Buleleng.

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: DionDBPutra
TRIBUN BALI/RATU AYU ASTRI DESIANI
Sekda Buleleng Gede Suyasa saat meninjau penerapan aplikasi PeduliLindungi di Museum Buleleng, Selasa 5 Oktober 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Buleleng meminta seluruh pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW), hotel dan restoran segera lapor apabila menemukan pengunjung bertanda merah atau hitam pada aplikasi PeduliLindungi.

Hal ini untuk mempermudah Satgas melakukan testing demi menekan kasus terkonfirmasi Covid-19 di Buleleng.

Demikian dikatakan Sekda Buleleng yang juga menjabat sebagai Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa pada Selasa 5 Oktober 2021.

Baca juga: Korupsi Uang Program Explore Buleleng & Bimtek CHSE, Eks Kadispar Buleleng Divonis 32 Bulan Penjara

Baca juga: DPRD Buleleng Rancang Ranperda Inisiatif Dewan Tentang Sistem Pertanian Organik

Hari Selasa ini Suyasa mengecek penggunaaan aplikasi PeduliLindungi di sejumlah DTW dan restoran yang ada di kawasan Kota Singaraja.

Pengecekan pertama di Museum Buleleng dan Gedong Kirtya. Kedua DTW itu telah menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

Namun, Suyasa meminta kepada pihak pengelola dalam hal ini Dinas Kebudayaan Buleleng untuk menempatkan QR Code di tempat yang lebih strategis untuk memudahkan pengunjung melakukan scan.

Suyasa juga meninjau di Pantai Penimbangan dan Restoran Krisna Beach Street.
Dia meminta agar QR Code yang ada di pantai Penimbangan ditambah lagi mengingat DTW itu memiliki tiga pintu masuk.

Krisna Beach Street sudah menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Namun ia meminta agar pengelola restoran menggunakan aplikasi itu sebaik-baiknya, yakni menskrinig setiap pengunjung untuk menghindari terjadinya penularan Covid-19.

"Kalau dari hasil skrining ditemukan ada yang merah atau hitam, pengunjung itu tidak diizinkan untuk bertransaksi. Pengelola juga diharapkan melaporkan kepada kami sehingga kami bisa melakukan testing kepada pengunjung itu. Kalau reaktif, dilanjutkan dengan tes PCR. Kalau positif diisolasi," ujarnya.

Suyasa tidak memungkiri dari puluhan DTW yang ada di Buleleng, baru 15 DTW yang sudah menggunakan aplikasi PeduliLindungi dilengkapi QR Code. Sementara ada delapan DTW yang sudah mengajukan ke pemerintah pusat untuk mendapatkan QR Code.

"Kalau belum dapat QR Code, sesungguhnya tetap bisa buka aplikasi PeduliLindungi dan masukan saja NIK pengunjung. Nanti akan ketahuan apakah pengunjung itu sudah divaksin atau belum," demikian Suyasa.

Berita lain dari Buleleng

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved