serba serbi
Galungan & Godaan Sang Hyang Kala Tiga, Agar Tetap Mawas Diri Pada Hari Kemenangan Dharma!
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, berkata agar umat Hindu berhati-hati saat Sang Hyang Kala Tiga ini turun sebelum Galungan.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
"Karena saat itu, Sang Bhuta Galungan sudah turun, dan kita harus waspada," sebut beliau.
Hari panyekeban ini diimplementasikan dengan nyekeb pisang untuk persiapan Galungan.
Maka dengan adanya simbol ini, sehingga umat harus selalu mawas diri akan adanya musuh dalam diri sendiri, seperti marah, dengki, iri dan sifat negatif lainnya.
"Dalam pesan-pesan para tetua dahulu, pantang kalau kita di rumah tangga bertengkar atau melakukan hal-hal yang negatif saat Redite Dungulan hingga Umanis Galungan, sebab orang tersebut bisa dimasuki oleh roh Sang Bhuta Tiga Galungan," tegas beliau.
Sehingga percaya atau tidak, maka enam bulan yang akan datang, saat menjelang Galungan maka keluarga yang bertengkar atau berbuat negatif itu, akan kembali mengulangi pertengkarannya.
"Hal ini bisa dihilangkan apabila kita dapat menyadari dan memotivasi serta dapat mengendalikan diri.
Oleh karena itu hati-hatilah saat Sang Tiga Bhuta Galungan sudah turun, karena saat itu mereka akan selalu menggoda kehidupan manusia, sehingga bisa menggagalkan menikmati hari suci Galungan," tegas mantan dosen UNHI Denpasar ini.
Sedangkan saat penampahan Galungan atau Anggara Wage wuku Dungulan, Sang Bhuta Amengkurat yang turun, maka umat Hindu Nusantara akan melakukan kegiatan panyembelihan atau penampahan, yang memiliki filosofi untuk membunuh segala sifat hewan atau hal-hal yang yang bersifat negatif di dalam diri.
Hari Selasa Wage Dungulan disebut hari penampahan Galungan. Hari Penampahan Galungan ini, kata ida, ditandai dengan pemotongan hewan.
Sedangkan umat Hindu diharapkan, pada pagi hari tersebut menghaturkan daging jajeron di natar merajan, natar rumah dan di lebuh, agar sang Bhuta Tiga Galungan dalam hal ini Sang Bhuta Amangkurat tidak menggoda dan kembali ke alamnya.
Sedangkan saat itu, atau saat penampahan Galungan dilakukan odalan pada palinggih penunggu karang, berupa haturan nasi roongan (nasi penek besar) sebanyak 4 buah ditambah dengan ulam karangan. Palinggih penunggu karang adalah palinggih untuk Sang Kala Maya (setingkat picasa).
Sehingga haturan tersebut ditujukan untuk sang picasa yang bernama Sang Kala Maya. Tujuannya agar Sang Bhuta Kala tidak menggoda kehidupan manusia. Sedangkan pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan, ini puncak dari rahinan jagat dan yang sangat disucikan yang disebut hari raya Galungan.
"Apabila kita bisa melewati godaan dan gangguan musuh dalam diri kita berupa kemarahan, kedengkian, kekecewaan kedurhakaan, keserakahan, keegoan serta hal-hal yang bersifat negatif lainnya.
Maka barulah kita bisa mengatakan kita sudah menang, atau Dharma menang melawan Adharma," ucap beliau.
Namun sebaliknya, ketika belum bisa mengalahkan hal-hal yang negatif dalam diri maka tentu saja belum berada pada kemenangan. "Bahkan kita masih dalam kondisi kekalahan.
Galungan
Hindu
Bali
Sundarigama
Sang Hyang Kala Tiga
godaan
Sang Bhuta Galungan
Sang Bhuta Dungulan
Sang Bhuta Amengkurat
peperangan
diri sendiri
TIDAK Boleh Keramas & Malukat, Tepat Purnama Wuku Wayang & Disebut Dina Gamya, Simak Penjelasannya! |
![]() |
---|
BAHAYA Kelahiran Wuku Wayang, Ruwatan Tumpek Wayang Bantu Terhindar Dari Sifat Bhuta Kala! |
![]() |
---|
TUMPEK Wayang & Kajeng Kliwon Uwudan 22 Juni 2024, Jangan Lupa Siapkan Pandan Berduri! Ini Maknanya |
![]() |
---|
ROH Tumimbal Kaitan Dengan Leluhur yang Akan Bereinkarnasi Kembali, Ini Maknanya Dalam Agama Hindu |
![]() |
---|
Arti Melik, Disenangi Bhatara, Bisa Terkena Musibah, Bagaimana Cara Menetralkannya? |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.