Berita Bali

Waspada! Meningitis Bisa Menular Lewat Luka, Ini Tips dan Trik Agar Terhindar Dari Resikonya

Meningitis Streptococcus Suis dapat meninggalkan gejala, sisa seperti tuli atau gangguan pendengaran dan gangguan keseimbangan meski Meningitis

Penulis: Putu Yunia Andriyani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Putu Yunia/Tribun Bali
dr. AA Ayusurya Praba Sp.S(K) selaku dokter neuro infeksi RSUP Prof. Ngoerah memberikan tips dan trik mencegah meningitis Streptococcus Suis. 

Dikhawatirkan apabila terdapat luka, maka bakteri tersebut bisa masuk ke pembuluh darah melalui luka itu,” terangnya.

Kebersihan anggota tubuh, khususnya tangan dari pengolah makanan tersebut juga harus dipastikan dan harus menjadi atensi penting.

Dalam masyarakat, terdapat isu yang mengatakan bakteri dapat mati apabila diolah dengan bumbu Bali tanpa dimasak.

Ada pula isu yang mengatakan, bahwa bakteri atau virus akan mati apabila mengonsumsi arak setelah mengonsumsi daging babi tak matang sempurna.

Berkaitan dengan hal tersebut, dokter Ayu menegaskan hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan kebenaran kedua hal tersebut.

Sebenarnya, penyebab Meningitis pun diutarakan beragam jenisnya, namun untuk Bali didominasi oleh Streptococcus Suis yang hidup pada babi.

Kemudian, karena Meningitis disebabkan oleh bakteri, maka pengobatan yang berikan adalah antibiotik dengan durasi minimal 14 hari sampai 21 hari.

Kesembuhan Meningitis ini tergantung pada derajat keparahan pasien karena pada saat dirawat, Meningitis bisa menimbulkan komplikasi dengan penyakit lainnya.

dr. AA Ayusurya Praba Sp.S(K) selaku dokter neuro infeksi RSUP Prof. Ngoerah memberikan tips dan trik mencegah meningitis Streptococcus Suis.
dr. AA Ayusurya Praba Sp.S(K) selaku dokter neuro infeksi RSUP Prof. Ngoerah memberikan tips dan trik mencegah meningitis Streptococcus Suis. (Putu Yunia/Tribun Bali)

“Meningitis ini tidak hanya bisa menyebabkan infeksi otak, tetapi bisa juga menyebabkan infeksi sistem atau organ lainnya sehingga menyebabkan komplikasi infeksi yang berat hingga resiko kematian,” ujarnya.

Terkadang Meningitis sering dipersepsikan sebagai penyakit demam berdarah karena memiliki gejala yang sama, tetapi ternyata beberapa hari kemudian pasien justru mengalami gangguan pendengaran.

Hal ini juga membuat pengobatan menjadi tertunda, sehingga berpengaruh terhadap tingkat keparahan dari penyakit Meningitis tersebut.

Di samping itu Meningitis dapat menyebabkan gejala sisa yang sebagian besar, berupa ketulian atau gangguan pendengaran serta gangguan keseimbangan.

Ini dikarenakan Meningitis mengenai saraf kedelapan yaitu saraf yang berperan dalam pendengaran dan keseimbangan. (*)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved