Tali Lift Putus di Ubud

Tragedi Lift Maut di Ayu Terra Resort Ubud, Polisi Belum Tetapkan Tersangka, Owner Akan Diperiksa

Polisi belum menentukan siapa pihak yang bertanggung jawab, terdapat putusnya tali sling lift Ayu Terra Resort di Desa Kedewatan, Ubud, yang menewaska

Tribun-Bali.com / I Wayan Eri Gunarta
Polisi belum menentukan siapa pihak yang bertanggung jawab, terdapat putusnya tali sling lift Ayu Terra Resort di Desa Kedewatan, Ubud, yang menewaskan lima orang pekerjanya. Sebab masih ada berbagai proses yang harus dilalui untuk menentukan hal tersebut. Satreskrim Polres Gianyar yang menangani persoalan ini tidak mau menduga-duga dalam menetapkan tersangka. Kasat Reskrim Polres Gianyar, AKP Ario Seno Wimoko, Kamis (7/9) mengatakan, untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka, dibutuhkan proses yang betul-betul matang. Mulai dari pemeriksaan saksi-saksi di TKP, pemeriksaan saksi ahli dan hasil olah TKP dan hasil pemeriksaan Laboratorium Forensik Polri. 

“Setelah lift dioperasikan berdasarkan UU kesehatan dan keselamatan kerja secara periodik lift dan safety harus dilakukan riksa uji. Kalau tiga hal berjalan dengan baik, kecil kemungkinan terjadi kecelakan," tambahnya.

Meski ownernya mengatakan lift tersebut layak digunakan hingga November mendatang tentu belum cukup, Suteja mengatakan safety sangat mungkin setiap saat berubah. Kondisinya dan performnya bisa berubah. Makanya penting peran dari orang yang melakukan maintenance lift harus ada orang yang memiliki kemampuan.

“Belum lift macet dan terjebak. Kalau safety bekerja dengan baik, tidak ada yang terjebak dan menimbulkan kecelakaan. Misalkan sling putus itu. Sebenarnya risiko sling putus hampir 0 persen kalau mau dicermati ketentuan K3 Lift, bila perlakukan terhadap lift benar. Misalnya dalam peraturan safety kalau sling lift sampai mengecil 10 persen maka sling lift atau wire rope itu harus diganti," paparnya.

Misalnya jika ada putus satu rambut wire rope putus satu itu mengindikasi over tension harus diganti sling liftnya. Harus ada yang paham dengan dengan lift. Hal mesti dipahami sebelum dipakai setiap saat diperiksa semua safety device apakah bekerja atau tidak. "Satu safety tidak bekerja lift seharusnya tidak akan hidup dan bekerja karena safety dihubungkan secara serial," katanya.

Disinggung tragedi yang baru-baru ini terjadi, kata Suteja ia tidak bisa menyalahkan siapapun harus dilakukan penelitian mendalam. Tapi, yang bisa diambil dengan kejadian ini jadi pembelajaran yang seksama. Seluruh komponen harus memperhatikan dan mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja.

Lantas ada hubungan dengan di tebing atau jurang? Suteja mengaku tidak ada pengaruhnya. Jika dirawat dengan benar semua akan berjalan dengan baik. Diakuinya kejadian di Ubud ini memberikan rasa traumatik pemakai lift karena kesalahan ini.

Idealnya pemeriksaan periodik dilakukan Dinas Tenaga Kerja yang memiliki kewenangan sebagai pegawai pengawas K3 bersama dengan PJK3 (perusahaan jasa Kesehatan dan keselamatan kerja) yang bertugas memeriksa setiap tahun dan menguji sarana safety lift. "Kalau betul dilakukan safety berfungsi dengan baik dan setiap hari operasional lift itu dikawal engineering yang memiliki kemampuan yang baik, diberitahu dan diajari lift sesungguhnya menjaga, itu tidak akan terjadi," harapnya.

Ia menjelaskan, dalam lift jenis tersebut ada tiga safety saat meluncur yakni safety blok, safety brake (pengereman) safety speed governor. Safety speed governor yang bekerja berbarengan dengan safety block kalau terjadi pergerakan upnormal melebihi ketentuan yang sudah direncanakan, safety speed governor yang bekerja menarik satu tuas, tuas yang menarik sling safety block.

“Itu letaknya biasanya di bawah car itu akan memukul rel besi dengan besi lift itu tidak bisa meluncur," terangnya.

Ditanya lagi mengenai lift di Ayu Terra, Suteja tidak bisa mengomentari terlalu dalam karena tidak ikut meneliti. Seperti dijelaskan, jika ada tiga safety akan bekerja dengan baik, tidak akan masalah. "Saya tidak ikut penelitian itu. Rem darurat, di luncur tiga safety block dan speed governor safety. Semua bekerja dengan baik tidak ada masalah.

Sementara itu, Pengamat Tata Kota yang juga Guru Besar fakultas Teknik, Prof Rumawan Salain sangat menyayangkan kejadian ini. Ia mempertanyakan lift berasal dari pabrik mana. Bagaimana spek, dimensi dan ukurannya. Berapa banyak kawat sling.

Menurutnya, ini peringatan bagi pelaku usaha yang menyediakan fasilitas serupa semoga tidak terjadi lagi karena memengaruhi citra Bali. Selain itu yang menjadi sorotan resort yang ada dekat dengan tebing dan juga sungai. Seharusnya dibuat sempadan tidak boleh memanfaatkan sungai karena itu milik publik.

"Sempadan dihitung apakah ke dalam apakah lebar sesuai fungsi. Kalau sekarang fungsi memanfaatkan teknologi wilayah publik dipakai UMKM tidak jadi milik privat. Kalau ini memang ada semestinya seperti model, terminal, tidak penuh sampai ke bawah. Siapa yang punya tanah dipakai," katanya.

Di samping juga diperhatikan dengan keyakinan adat Bali. Karena adanya sungai dan jurang ada karang suwung yaitu penunggu setempat yang harus dihormati. “Saya tidak mengatakan pelanggaran kalau itu ada di tebing pinggiran. Tebing dimanfaatkan turun ke bawah menikmati sesuatu di bawah apakah air. Kalau itu pertanyaannya kok wilayah sempadan sungai dan tebing dimanfaatkan siapa memberikan izin pemanfaatan," katanya. (sar)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved