Berita Jembrana

Metode Penebaran Wolbachia Belum Diterapkan di Jembrana

Kabupaten Jembrana belum menjadi pilot projek penerapan metode Wolbachia untuk mengentaskan atau memerangi kasus DBD.

Istimewa
Petugas saat melakukan fogging di rumah warga wilayah Kecamatan Mendoyo, Jembrana antisipasi melonjaknya kasus DBD, belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Kabupaten Jembrana belum menjadi pilot projek penerapan metode Wolbachia untuk mengentaskan atau memerangi kasus DBD.

Di Bali, rencana program tersebut baru akan dilakukan di Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng.

Jika semisalnya dijadikan wilayah pilot projek, Jembrana bakal siap dengan syarat harus mengetahui secara detail rencana penerapan metode tersebut.

Baca juga: Telur Nyamuk Wolbachia Ditebar di Pemecutan Kelod, Sasar 501 Rumah untuk Menekan Sebaran DBD


Untuk diketahui, dalam kurun waktu lima tahun atau sejak 2019-Oktober 2023 kemarin, jumlah kasus DBD di Jembrana tercatat sebanyak 1.347 kasus.

Rinciannya, di tahun 2019 tercatat 213 kasus, 2020 sebanyak 267 kasus, di 2021 menurun drastis hanya 96 kasus, di 2022 kembali meroket sebanyak 347 kasus dan hingga Oktober 2023 kemarin tercatat sudah ada 424 kasus. Jumlah kasus di 2023 melampaui kasus setahun di 2022 dan menjadi yang tertinggi sepanjang 5 tahun terakhir ini.


"Untuk Jembrana belum (metode Wolbachia). Baru direncakanan di dua wilayah yakni Kota Denpasar dan Buleleng," kata Kepala Dinas Kesehatan, dr Made Dwipaya saat dikonfirmasi, Senin 13 November 2023.

Baca juga: September 2023, Wilayah Kota Denpasar Dibombardir Fogging, Cegah DBD


Menurutnya, penerapan metode tersebut kemungkinan mengacu pada jumlah kasus. Meskipun di Jembrana cenderung sedikit (kasus DBD), pihaknya berupaya dengan melakukan PSN di lingkungan masing-masing serta fogging sebelum masa penularan (SMP) serta fogging ketika ditemukan kasus.


Bagaimana jika Jembrana dijadikan pilot projek selanjutnya?

Baca juga: Jumlah Kasus DBD Alami Peningkatan Sejak Dua Tahun Terakhir di Bangli, Ini Pemicunya!

Mantan Dirut RSU Negara ini mengakui siap dengan syarat. Pihaknya harus mengetahui secara detail terkait rencana metode penekanan angka DBD tersebut.

Sebab, penebaran bakteri wolbachia ini pasti ada dampak positif dan negatif mengingat akan menyangkut seluruh warga Jembrana. 


"Tentunya nanti harus dipelajari dulu. Mungkin ada sosialisasi, pelatihan dan yang terpenting persetujuan pimpinan daerah karena menyangkut kehidupan masyarakat seluruh Jembrana," jelasnya. 

Baca juga: Kasus DBD di Denpasar hingga Agustus 2023 Capai 1.278, Meningkat Hampir 2 Kali Lipat


Sebelumnya, Dinas Kesehatan Jembrana mengingatkan seluruh warga agar melakukan antisipasi terkait peningkatan kasus DBD.

Sebab, peralihan musim kerap menjadi ancaman penyakit DBD menyerang masyarakat terutama di kawasan kumuh dan tidak melakukan PSN secara maksimal.


Selain itu, penyebab tingginya kasus demam berdarah saat ini adalah tingginya mobiltas penduduk pascapandemi.

Ini sangat mempengaruhi laju migrasi virus dari satu daerah ke daerah lain.

Misalnya ketika seseorang terjangkit virus DBD di suatu wilayah kemudian pindah ke wilayah lainnya dan digigit nyamuk akan menyebabkan penyebaran kasus. (*)

 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved